berita viral
Jeritan Ojol di Sumbar Saat Harga Pertamax Tembus Rp17.000: Terpaksa Oplos BBM demi Bertahan Hidup
Seorang ojol yang dikejutkan oleh nominal baru Pertamax di papan tarif saat mengisikan BBM di SPBU Jati, Kelurahan Jati, Kecamatan Padang Timur.
Editor: Sinta Darmastri
Ringkasan Berita:
- Seorang ojol yang dikejutkan oleh nominal baru Pertamax di papan tarif saat mengisikan BBM di SPBU Jati, Kelurahan Jati, Kecamatan Padang Timur
- Untuk urusan dapur pacu Honda Vario 150 cc kesayangannya, Iwan selama ini memang selalu setia menggunakan Pertamax
- Di tengah ketidakpastian pendapatan harian dari mengojek, ia dipaksa memutar otak agar dapur rumah tangganya tetap bisa mengepul
TRIBUNSTYLE.COM - Kebijakan baru terkait lonjakan harga Pertamax menjadi Rp17.000 per liter di wilayah Sumatera Barat memicu dampak instan bagi para pekerja lapangan. Kelompok yang paling merasakan hantaman keras ini adalah para pengemudi ojek online (ojol), yang kini harus menghadapi pembengkakan biaya operasional harian hingga mencapai 20 persen.
Cerita getir ini salah satunya datang dari Iwan (47), seorang driver ojol yang dikejutkan oleh nominal baru di papan tarif saat mengisikan bahan bakar di SPBU Jati, Kelurahan Jati, Kecamatan Padang Timur pada Rabu (10/6/2026). Pria yang menggantungkan hidupnya di jalanan lewat aplikasi transportasi daring selama hampir satu dekade ini mengaku baru mengetahui kabar buruk tersebut secara mendadak pada pagi hari.
“Saya baru tahu harga Pertamax naik jadi Rp 17.000 baru tadi pagi,” ujarnya kepada Kompas.com.
Dilema Perawatan Mesin vs Dompet yang Boncos
Untuk urusan dapur pacu Honda Vario 150 cc kesayangannya, Iwan selama ini memang selalu setia menggunakan Pertamax. Karakteristik bahan bakar nonsubsidi tersebut dirasa jauh lebih ramah dan pas untuk performa mesin motornya ketimbang beralih ke Pertalite. Namun, komitmen merawat kendaraan itu kini harus dibayar mahal dengan pengeluaran yang melonjak drastis.
“Biasanya saya isi Rp 35.000 untuk sehari, dapat 3 liter kurang pas harga Rp 12.900. Sekarang tembus Rp 40.000 lebih,” kata dia.
Selisih pengeluaran harian yang kian melebar ini tak pelak membuat Iwan didera kebingungan. Di tengah ketidakpastian pendapatan harian dari mengojek, ia dipaksa memutar otak agar dapur rumah tangganya tetap bisa mengepul.
“Itu yang saya bingungkan sekarang. Ngojol seharian belum tentu dapat banyak uang,” katanya.
Demi menyiasati kondisi keuangan yang kian terjepit, Iwan akhirnya mengambil keputusan yang sebenarnya tidak ideal bagi kesehatan mesin motornya. Ia berencana menerapkan strategi mencampur atau menyelingi penggunaan bahan bakar di tangki kendaraannya.
“Terpaksa saya selang-seling dengan Pertalite ke depan. Kalau enggak bisa boncos. Terpaksa dicampur-campur,” tuturnya.
Baca juga: Harga Pertamax di Sumbar Tembus Rp 17.000 dan Tertinggi di Indonesia? Kepala ESDM: Berbeda Pajaknya
Kepasrahan Rakyat Kecil dan Alasan di Balik Mahalnya Harga
Ketika disinggung mengenai asa atau tuntutan kepada pembuat kebijakan terkait lonjakan harga ini, guratan kepasrahan begitu jelas terasa. Iwan mengaku sudah tidak menaruh ekspektasi apa pun lagi terhadap pemerintah.
“Apa yang mau diharapkan ke pemerintah? Pemerintah enggak bisa diharapkan sekarang. Tidak bisa diharapkan orang-orang di atas itu,” ucapnya.
Ia merasa posisinya sebagai rakyat kecil terlalu lemah untuk memprotes kebijakan yang datangnya selalu tiba-tiba.
“Mau dibilang pasrah juga, mau apa lagi kita. Mau melawan pemerintah? Nggak mungkin juga,” kata Iwan.
Selain masalah nominal harga, ia juga sangat menyayangkan minimnya keterbukaan informasi dan sosialisasi yang tidak dilakukan sejak jauh-jauh hari oleh pihak terkait.
Sumber: TribunStyle.com
| Harga Pertamax di Sumbar Tembus Rp 17.000 dan Tertinggi di Indonesia? Kepala ESDM: Berbeda Pajaknya |
|
|---|
| Kronologi Pasutri Lansia di Sragen Minta Tebusan Rp 1 Juta Usai Temukan Dompet, Pemilik Ikhlaskan? |
|
|---|
| Imbas Pertamax Melejit, Bupati Lumajang Minta Kepala Dinas Rela Nombok Pakai Kendaraan Pribadi |
|
|---|
| Proyek Motor Listrik Rp1 T Era Dadan Hindayana Cs Tetap Jalan, KSP: Sudah Dibayar Lunas Pejabat Lama |
|
|---|
| Ruang Sidang Kasus Bea Cukai Memanas, Hakim Tipikor Singgung Iman: Masuk Neraka Gara-gara Keterangan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/Pemerintah-dikabarkan-akan-subsidi-Pertamax-untuk-mengurangi-polusi-udara.jpg)