Mengulas Makna Simbolik Tradisi Ruwatan Cukur Rambut Gimbal di Dataran Tinggi Dieng
Inilah makna simbolik tradisi ruwatan cukur rambut gimbal di Dataran Tinggi Dieng.
Penulis: Dika Pradana
Editor: Dhimas Yanuar
TRIBUNSTYLE.COM - Festival Budaya Dieng atau Dieng Culture Festival (DCF) 2022 digelar pada 2 - 4 September 2022.
Prosesi pemotongan rambut gimbal dalam acara DCF 2022 digelar pada hari kedua, yaitu Sabtu (3/9/2022).
Pada acara tersebut terdapat beragam rangkaian kegiatan, satu di antaranya adalah ritual ruwatan rambut gimbal pada anak-anak.
Usia anak-anak yang akan melakukan ritual ruwatan cukur rambut gimbal tersebut biasanya berkisar antara 40 bulan hingga 6 tahun.
Baca juga: Gak Apa-apa, Hanya Sedikit Jelek Pilu Gadis, Wajah Kanan Ditumbuhi Rambut, Tegar Dicibir Bak Kera
Dilansir dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), anak-anak berambut gimbal ini biasanya banyak ditemui di beberapa tempat, yakni dataran tinggi Dieng, lereng Gunung Merbabu, Kabupaten Banjarnegara, dan lereng Gunung Sindoro-Sumbing.
Rambut gimbal yang dimiliki anak itu merupakan hasil alami.
Rambut tersebut tumbuh tidak ada campur tangan salon dan sejenisnya.
Banyak mitos dan kisah menarik di balik rambut gimbal bocah-bocah yang ada di Dieng tersebut.
Rambut tersebut dianggap bisa membawa malapetaka dan sial di kemudian hari.
Guna menghindari atau menghilangka, maka diadakan upacara ruwatan dengan mencukur bagian rambut yang gimbal.
Ruwatan berasal dari kata "ruwat" yang berarti membuang sial atau menyelamatkan orang dari gangguan tertentu.
Anak-anak berambut gimbal di Dieng yang sudah dicukur, bisa mendatangkan rezeki.
Anak-anak tersebut bisa hidup normal dengan rambut yang tidak lagi gimbal.
Banyak persyaratan khusus yang harus dilakukan sebelum melakukan ritual itu.
Anak-anak yang hendak dicukur rambutnya tersebut biasanya boleh mengajukan permintaan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/anak-anak-rambut-gimbal-di-dieng.jpg)