Breaking News:

Mengulas Makna Simbolik Tradisi Ruwatan Cukur Rambut Gimbal di Dataran Tinggi Dieng

Inilah makna simbolik tradisi ruwatan cukur rambut gimbal di Dataran Tinggi Dieng.

Penulis: Dika Pradana
Editor: Dhimas Yanuar
Tribun Jateng/Wahyu Sulistiyawan
Anak-anak rambut gimbal di Dieng 

Tempat pencukuran dimulai dari rumah sesepuh adat, lalu berhenti di dekat Sendang Maerokoco atau Sendang Sedayu.

Anak-anak rambut gimbal ini dikawal para sesepuh, tokoh masyarakat, paguyuban seni tradisional, dan warga.

Pemotongan rambut gimbal, rangkaian acara Dieng Culture Festival
Pemotongan rambut gimbal, rangkaian acara Dieng Culture Festival ((Dok. Pemprov Jateng))

Mitos dan Sejarah

Rambut gimbal para bocah tersebut diyakini sebagai warisan leluhur mereka yakni Kyai Kolodete.

Ia disebut bersumpah tidak memotong rambut dan tidak akan mandi sebelum desa yang dibangunnya mencapai kemakmuran.

Maka sejak itu, keturunan Kyai Kolodete memiliki ciri rambut gimbal seperti dirinya.

Tapi ada juga versi lain tentang asal muasal rambut gimbal tersebut, yakni anak-anak itu adalah titipan Kanjeng ratu Kidul di Pantai Selatan.

Apapun sejarah ritual ruwatan pemotongan rambut gimbal, warisan budaya ini menjadi yang selalu dinantikan karena sarat dengan tradisi dan nilai-nilai tradisional.

Baca juga: Aku Lelah, Reaksi Tak Suka Amanda Manopo Pasca Arya Saloka Balik ke Ikatan Cinta, Butuh Sosok Ini

Fenomena rambut gimbal sudah ada sejak dahulu kala, dan secara turun temurun dan tradisi ruwatan cukur rambut gimbal tersebut masih di lakukan hingga sekarang.

Hal tersebut menandakan bahwa makna ruwatan cukur rambut gimbal masih diterima dan dipercayai oleh masyarakat Dieng.

Mengenai pemahaman masyarakat Dieng tentang makna simbolik ruwatan cukur rambut tentu melalui sebuah proses komunikasi.

Dalam hal ini proses mengkomunikasikan makna simbolik ruwatan cukur rambut gimbal di masyarakat Dieng adalah menggunakan proses komunikasi kultural, dengan memanfaatkan atau menggunakan media cerita.

Bagi masyarakat Dieng fenomena rambut gimbal sering menjadi bahan cerita dimanapun dan kapanpun, bahkan terkadang menjadi obrolan yang menarik bagi mereka menggunakan bahasa asli mereka.

Makna yang ada dimasyarakat bisa berawal dan diawali dari latar budaya yang mereka miliki.

Tradisi ruwatan cukur rambut gimbal yang hingga sekarang masih dilakukan merupakan indikasi bahwa masyarakat Dieng yang masih memegang teguh tradisi- tradisi nenek moyang mereka, meskipun digempur globalisasi.

Sumber: TribunStyle.com
Halaman 3/4
Tags:
tradisiDiengruwatan cukur rambut gimbalDieng Culture Festival
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved