Breaking News:

PM Jepang Sanae Takaichi Jalani Gaya Hidup Ekstrem Urus Suami dan Negara, Sehari Tidur Cuma Dua Jam

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi harus menjalani gaya hidup ekstrem mengurus negara sekaligus suaminya yang sakit.

Editor: Galuh Palupi

Sejak Desember tahun lalu, dia tinggal di kediaman resmi bersama suaminya yang harus menggunakan kursi roda setelah menderita infark serebral.

Meski tidak memiliki anak, Takaichi secara langsung merawat suaminya di tengah kesibukan memimpin negara. 

Hal inilah yang membuatnya dijuluki sebagai working carer.

Tuntutan kerja dan peran merawat ini berdampak pada waktu istirahatnya yang sangat minim. 

Baca juga: Potret Via Vallen Umumkan Hamil Anak Kedua saat Liburan ke Jepang, Pamer Baby Bump di Tengah Salju

Dalam sidang Majelis Nasional November tahun lalu, dia sempat memicu perhatian publik saat memaparkan durasi tidurnya.

"Waktu tidur saya akhir-akhir ini umumnya dua jam, dan bahkan pada hari-hari yang lebih panjang, hanya empat jam," ungkap Takaichi.

Warganya khawatir

KESEHATAN TIDUR - Sanae Takaichi menunggu keputusan pemunngutan suara di sidang khusus parlemen siang ini sekitar jam 13.40 waktu Jepang, 21 Oktober 2025 lalu. Gaya hidup Sanae Takaichi ternyata ekstrem, ia cuma tidur sekitar 2-4 jam sehari.
KESEHATAN TIDUR - Sanae Takaichi menunggu keputusan pemunngutan suara di sidang khusus parlemen siang ini sekitar jam 13.40 waktu Jepang, 21 Oktober 2025 lalu. Gaya hidup Sanae Takaichi ternyata ekstrem, ia cuma tidur sekitar 2-4 jam sehari. (Tribunnews.com/Istimewa)

Gaya hidup Takaichi yang kurang istirahat sebenarnya bukan hal baru. 

Tahun lalu, dia sempat dikritik publik setelah menggelar rapat dengan para sekretaris pada pukul 03.00 pagi di kediaman resmi hanya untuk mempersiapkan jawaban bagi sidang Majelis Nasional.

Kini, kondisi Takaichi mulai memicu kekhawatiran di kalangan politik Jepang

Sejumlah pihak merasa cemas jika kurang tidur yang berkepanjangan dapat memengaruhi kesehatan sang Perdana Menteri.

Lebih jauh lagi, muncul kekhawatiran bahwa kelelahan fisik dan mental tersebut berpotensi memicu kesalahan dalam pengambilan keputusan kebijakan yang krusial bagi negara.

Akibat tidur cuma 2 jam

Dikutip dari Kompas Health, kurang tidur termasuk kondisi ekstrem seperti hanya tidur sekitar 2 jam, tidak sekadar membuat tubuh terasa lelah, tetapi memicu gangguan serius pada fungsi tubuh.

Dalam jangka pendek, otak menjadi organ yang paling cepat terdampak: kemampuan konsentrasi, daya ingat, dan proses berpikir menurun karena tidur berperan penting dalam memproses informasi dan memulihkan fungsi kognitif.

Akibatnya, seseorang menjadi mudah linglung, lambat bereaksi, dan berisiko tinggi mengalami kesalahan atau kecelakaan.

Bahkan, penelitian yang dikutip Kompas menyebutkan bahwa kekurangan tidur hanya 1–2 jam saja sudah bisa menurunkan kondisi tubuh sehingga meningkatkan risiko kecelakaan hingga dua kali lipat karena kantuk dan hilangnya fokus.

Halaman 2/3
Tags:
JepangPerdana MenteriSanae Takaichi
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved