Berita Viral
Gaza Terus Dibom, Pendudukan Israel Terus Berlanjut, Yerusalem Semakin Dipadati Pemukiman Yahudi
Gaza terus dibom, namun perluasan hunian israel jalan terus, bakal bangun 1.738 unit permukiman di Yerusalem.
Editor: Dhimas Yanuar
Antara tahun 1967 dan 2000, non-Muslim dapat membeli tiket dari Wakaf untuk mengunjungi Al-Aqsa sebagai wisatawan.
Namun, setelah Intifadhah (pemberontakan) kedua Palestina pecah pada tahun 2000, setelah kunjungan kontroversial mantan Perdana Menteri Israel Ariel Sharon ke Al-Aqsa, Wakaf menutup situs tersebut untuk pengunjung.
Situs ini tetap ditutup untuk pengunjung hingga tahun 2003, ketika Israel memaksa Wakaf untuk menyetujui masuknya non-Muslim.
Sejak itu, pengunjung non-Muslim dibatasi oleh polisi Israel pada jam dan hari tertentu.
Menurut Hasson, Wakaf tidak mengakui pengunjung tersebut, dan menganggap mereka “penyusup”.
Pada tahun 2015, perjanjian empat arah antara Israel, Palestina, Yordania dan Amerika Serikat menegaskan kembali status quo tahun 1967.
Sebagai bagian dari perjanjian tersebut, pemimpin Israel Benjamin Netanyahu menegaskan kembali komitmen negaranya terhadap status quo.
Meskipun status quo versi tahun 1967 masih hanya sekedar basa-basi hingga saat ini, Zabarqa mengatakan: “Ini adalah upaya untuk menyesatkan opini publik internasional.”
Sejak tahun 2017, orang-orang Yahudi diam-diam diizinkan untuk beribadah di kompleks tersebut, menurut Eran Tzidkiyahu, dari Universitas Ibrani Yerusalem dan Forum Pemikiran Regional.
Namun tidak semua orang Yahudi melakukan pelanggaran ini.
Bahkan, sebelum memasuki kompleks Al-Aqsa, pengunjung melewati tanda peringatan bagi umat Yahudi bahwa Kepala Rabbi melarang mereka masuk karena kesucian situs tersebut.
Yang paling banyak mengunjungi masjid adalah kaum Zionis religius, yang saat ini diwakili oleh kelompok garis keras di pemerintahan Israel seperti Menteri Keamanan sayap kanan Itamar Ben-Gvir.
Mereka berdoa di lokasi tersebut dan memberikan tekanan untuk mengubah status quo, kata Hasson.
Tekanan ini membuahkan hasil.
Hasson mengatakan polisi Israel memberikan lebih banyak kebebasan kepada orang-orang Yahudi yang berdoa di kompleks Al-Aqsa sejak tahun 2017.
Zabarqa menyesalkan bahwa kepolisian Israel telah berubah dari sebuah badan profesional yang menjaga supremasi hukum, menjadi badan yang memberikan perlindungan bagi orang-orang yang melanggar hukum.
Al-Aqsa Kebanggaan Palestina
Sementara itu, warga Palestina melihat perubahan status quo ini sebagai upaya untuk menjadikan kompleks tersebut milik Yahudi dan bentuk upaya mengusir umat Muslim dan Islam dari Al-Aqsa, kata Zabarqa.
Bagi mereka, Al-Aqsa adalah sudut kecil terakhir Palestina yang tidak berada di bawah pendudukan Israel secara penuh.
Hasson mengatakan warga Palestina merasa bangga dalam menentang pendudukan Israel atas situs tersebut.
Namun jika warga Palestina kehilangan Al-Aqsa, hal itu akan seolah-olah "semuanya hilang dan tidak ada yang tersisa."
(*)
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
Artikel diolah dari Tribunnews.com
(oln/Memo/*)
Artikel diolah dari Tribunnews.com
Penulis: Hasiolan Eko P Gultom
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/Warga-Palestina-mengevakuasi-jenazah-dari-sebuah-bangunan-yang-menjadi-sasaran-pemboman.jpg)