Tak Hanya Perasaan, Ternyata Rindu dan Patah Hati Melibatkan Proses dalam Tubuh
Perasaan rindu dan patah hati ternyata melibatkan proses dalam tubuh, dan bisa dijelaskan secara ilmiah.
Penulis: Anggie Irfansyah
Editor: Suli Hanna
Maka ketika kita sedang bersama orang yang kita cintai, rasa bahagia akan ada dalam perasaan kita.
Hal ini juga berkaitan dengan hormon serotonin yang berfungsi sebahai pengendali stres, nafsu makan dan suasana hati.
Jika sedang dekat dengan orang yang kita cintai, suasana hati akan ceria dan jauh dari rasa stres.
Begitu sebaliknya, jika jauh dari seseorang yang kita cintai maka bisa menimbulkan stres dan memunculkan kekhawatiran.
Hormon serotonin dan hormon dopamin bisa mempengaruhi hormon oksitosin yang terkait dengan ikatan emosional dengan seseorang.
Maka saat rindu, bertemu dengan orang yang kita rindukan adalah hal yang sangat melegakan dan membahagiakan.
Mempengaruhi kegiatan sehari-hari
Hormon yang berpengaruh terhadap perasaan rindu adalah serotonin atau hormon yang mengendalikan stres.
Rindu akan menyebabkan perasaan sedih dan stres.
Tentunya Stres bisa membawa dampak negatif untuk kesehatan dan aktivitas sehari-hari.
Dampak negatifnya berupa tidak fokus, emosi yang tidak terkendali, dan menjadi tidak bersemangat.
Rindu yang berlangsung cukup lama juga bisa menyebabkan peningkatan produksi hormon kortisol, dimana hormon ini bisa menyebabkan otak bekerja aktif melawan penyebab stres, yaitu rindu.
Meningkatnya hormon kortisol dapat menyebabkan kualitas tidur yang terganggu dan perasaan cemas yang berlebihan.
Bahkan efek yang paling parah dari rindu yang terlalu lama adalah terjadinya gangguan kecemasan atau anxiety disorder.
Karena anxiety disorder bisa disebabkan oleh pengalaman negatif atau stres yang berkepanjangan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/depresi_20161106_120054.jpg)