Berita Solo
Asal-usul Timlo Solo dan Transformasi Rasanya yang Legendaris hingga Jadi Ikon Surakarta
Timlo menyimpan lembaran sejarah panjang yang melintasi berbagai zaman, mulai dari era kolonial hingga masa Orde Baru, hingga kini jadi ikon di Solo.
Penulis: Sinta Darmastri
Editor: Sinta Darmastri
Ringkasan Berita:
- Timlo menyimpan lembaran sejarah panjang yang melintasi berbagai zaman, mulai dari era kolonial hingga masa Orde Baru, hingga kini jadi ikon di Solo
- Sejarawan Kota Surakarta, Heri Priyatmoko, menuturkan bahwa timlo sebenarnya merupakan buah dari akulturasi budaya Tionghoa
- Keunikan timlo Solo terletak pada perpaduan komponen di dalamnya yang disiram kuah kaldu ayam bening yang kaya rempah
TRIBUNSTYLE.COM - Saat berkunjung ke Solo, menikmati semangkuk timlo hangat menjadi agenda yang tak boleh dilewatkan.
Makanan berkuah bening mirip sup dan semur ini menyajikan cita rasa gurih yang khas.
Namun di balik kelezatannya, timlo menyimpan lembaran sejarah panjang yang melintasi berbagai zaman, mulai dari era kolonial hingga masa Orde Baru.
Dikutip dari TribunSolo.com, sejarawan Kota Surakarta, Heri Priyatmoko, menuturkan bahwa timlo sebenarnya merupakan buah dari akulturasi budaya Tionghoa.
Berikut adalah perjalanan panjang timlo hingga menjadi salah satu identitas kuliner Kota Solo:
Berawal dari Kimlo dan Pikulan Pedagang Tionghoa
Asal-usul nama timlo berakar dari kata kimlo, yaitu sebutan untuk hidangan sup dengan berbagai macam adonan lauk di dalamnya. Pada abad ke-19 era kolonial Belanda, para pedagang Tionghoa memperkenalkan kuliner ini di wilayah Surakarta dengan cara dipikul berkeliling.
Jejak ini terekam dalam buku Indrukken van een totok karya Justus van Maurik, yang mencatat bahwa sepiring kimlo saat itu jamak dijajakan oleh pedagang Tionghoa dan hanya dihargai beberapa sen saja. Keunikan interaksi masa lalu pun terlihat dari cara belinya, para pelanggan menyantap kimlo hangat sambil berjongkok dan mengobrol santai bersama sang pedagang.
Baca juga: 5 Rekomendasi Coffee Shop Hits di Solo, Nyaman Buat Nongkrong dan Kerja Santai, Spot Instagramable
Pergeseran Lidah dan Transformasi Menjadi Kuliner Halal
Keberadaan hidangan ini di tanah air terbukti sudah sangat tua. Salah satu buktinya tercatat dalam buku resep kuno Poetri Dapoer, yang memuat tata cara penyajian serta bahan-bahan memasak hidangan ini. Lambat laun, masyarakat lokal Solo mulai mempelajari cara memasaknya.
Proses adaptasi ini memicu dua perubahan besar:
Perubahan Nama: Karena masyarakat lokal saat itu kesulitan melafalkan kata kimlo, huruf "K" perlahan bergeser menjadi "T", hingga populer dengan sebutan timlo.
Penyesuaian Bahan: Pada awal kemunculannya, para pedagang Tionghoa menggunakan daging babi sebagai bahan dasar utama. Namun, ketika timlo mulai diminati oleh masyarakat yang lebih luas, bahan dasarnya diubah total menggunakan daging ayam, sosis solo goreng, dan telur. Transformasi ini membuat masyarakat muslim di Solo tidak lagi ragu mengonsumsinya. Kini, seluruh timlo yang dijajakan di Solo telah berstatus sebagai makanan halal.
Baca juga: Asal-usul Sosis Solo, Camilan Keraton Terinspirasi dari Meneer Belanda, Ada Basah vs Goreng
Penyajian Khas Timlo Solo
Berbeda dengan sup biasa, keunikan timlo Solo terletak pada perpaduan komponen di dalamnya yang disiram kuah kaldu ayam bening yang kaya rempah. Komponen utama tersebut meliputi:
- Sosis Solo Goreng: Lembaran dadar telur yang diisi suwiran ayam lalu digulung dan digoreng.
- Telur Pindang: Telur rebus dengan kuah kecokelatan khas.
- Jeroan Ayam: Irisan rempela dan ati ayam yang menambah kaya rasa.
Bagi Anda yang sedang berada di Solo atau merencanakan kunjungan kuliner, berikut adalah beberapa tempat makan timlo legendaris dan paling populer di Kota Surakarta yang wajib dicoba:
1. Timlo Sastro 1
Sumber: TribunStyle.com
| Asal-usul Timlo Solo dan Transformasi Rasanya yang Legendaris hingga Jadi Ikon Surakarta |
|
|---|
| Mengenal Jadah Blondo, Kudapan Pemersatu Rasa di Lingkungan Keraton Solo, Kuliner yang Makin Langka |
|
|---|
| 5 Rekomendasi Coffee Shop Hits di Solo, Nyaman Buat Nongkrong dan Kerja Santai, Spot Instagramable |
|
|---|
| Lebih dari Sekadar Camilan, Ini Filosofi dan Arti di Balik Tekstur Kasar Ampyang Makanan Khas Solo |
|
|---|
| Asal-usul Sosis Solo, Camilan Keraton Terinspirasi dari Meneer Belanda, Ada Basah vs Goreng |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/timlo-solo.jpg)