Breaking News:

Berita Solo

Asal-usul Sosis Solo, Camilan Keraton Terinspirasi dari Meneer Belanda, Ada Basah vs Goreng

Sosis Solo merupakan salah satu camilan khas Surakarta yang memiliki perpaduan unik antara cita rasa lokal dan pengaruh kuliner Belanda.

Tayang:
Penulis: Sinta Darmastri
Editor: Sinta Darmastri
Instagram @sosis_pojokbeteng
SOSIS KHAS SOLO - Sosis Solo merupakan salah satu camilan khas Surakarta yang memiliki perpaduan unik antara cita rasa lokal dan pengaruh kuliner Belanda. 

Ringkasan Berita:
  • Sosis Solo merupakan salah satu camilan khas Surakarta yang memiliki perpaduan unik antara cita rasa lokal dan pengaruh kuliner Belanda
  • Hidangan ini lahir dari kreativitas masyarakat pribumi dalam mengadaptasi kuliner barat agar sesuai dengan lidah dan kantong warga lokal pada masa kolonial
  • Terinspirasi dari hidangan sosis meneer Belanda tersebut, pihak keraton ingin menyajikan hidangan serupa namun disesuaikan dengan selera lokal

 

TRIBUNSTYLE.COM - Siapa yang suka makan sosis Solo?

Ada disetiap rumah makan, dari sosis goreng hingga sosis basah yang selalu identik dengan cita rasanya.

Sosis Solo merupakan salah satu camilan khas Surakarta yang memiliki perpaduan unik antara cita rasa lokal dan pengaruh kuliner Belanda

Menariknya, hidangan ini lahir dari kreativitas masyarakat pribumi dalam mengadaptasi kuliner barat agar sesuai dengan lidah dan kantong warga lokal pada masa kolonial.

Berikut adalah runutan asal-usul dan sejarah perkembangan Sosis Solo.

Baca juga: Es Buah Jumbo di Pasar Nongko Solo, Jadi Incaran Saat Cuaca Panas, Harga Rp7.000, Porsi Melimpah

Adaptasi dari "Worst" Belanda

Pada masa penjajahan Belanda, para bangsawan kolonial sering menyantap sosis khas Eropa (worst) yang terbuat dari daging giling padat yang dibungkus usus hewan atau kolagen.

Kanjeng Sunan Pakubuwana X (Raja Kasunanan Surakarta periode 1893–1939) beserta keluarga kerajaan sering berinteraksi dengan kompeni Belanda dalam berbagai pertemuan formal.

Terinspirasi dari hidangan sosis meneer Belanda tersebut, pihak keraton ingin menyajikan hidangan serupa namun disesuaikan dengan selera lokal.

Karena sosis asli Eropa yang menggunakan bahan-bahan yang saat itu susah dicari dikalangan masyarakat dan harganya mahal, sehingga para juru masak keraton dan masyarakat melakukan modifikasi kreatif.

Kulit Pembungkus: Jika sosis Eropa menggunakan usus hewan, sosis solo menggunakan dadar telur tipis sebagai kulitnya.

Isian: Sosis Eropa berisi daging giling polos yang cenderung asin-gurih minimalis. Sosis solo diisi dengan daging ayam atau sapi suwir/giling yang ditumis dengan bumbu halus (bawang merah, bawang putih, kemiri, ketumbar, dan sedikit santan) sehingga menghasilkan rasa yang gurih-manis khas Jawa.

Baca juga: Rahasia Tahu Kupat di Solo Beda dari Kota Lain, Pakai Kuah Bawang, Rasanya Gurih Dominan Manis

Dua Versi Pengolahan

Seiring berjalannya waktu, Sosis Solo berkembang menjadi dua jenis yang sangat populer hingga saat ini, yaitu basah dan goreng.

  • Sosis Solo Basah: Setelah digulung, sosis langsung dikukus hingga matang. Versi ini merupakan bentuk awal yang sering disajikan di lingkungan keraton.
  • Sosis Solo Goreng: Setelah dikukus (atau tanpa dikukus), sosis dicelupkan ke dalam kocokan telur lalu digoreng hingga bagian luarnya kecokelatan dan renyah.

Meski namanya sosis, namun secara tampilan fisik sebenarnya mirip dengan risol atau lumpia.

Namun untuk sosis karakteristik rasa dan isian daging penuh dan rasa yang gurih.

Sumber: TribunStyle.com
Halaman 1/2
Tags:
sosissosis basahBelandaKeraton SurakartaSoloKota Solocamilan
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved