Mengenang Tan Malaka, Bapak Republik yang Meninggal 21 Februari 1949 di Moncong Senjata Tentara
Sejarah hari ini, mengenang Tan Malaka yang meninggal pada 21 Februari 1949, dieksekusi mati oleh tentara.
Penulis: Gigih Panggayuh Utomo
Editor: Dhimas Yanuar
TRIBUNSTYLE.COM - Sejarah hari ini, mengenang Tan Malaka yang meninggal pada 21 Februari 1949, dieksekusi mati oleh tentara.
Hari ini 21 Februari 2022, tepat 73 tahun meninggalnya Sutan Ibrahim dengan gelar Datuk Tan Malaka.
Mungkin tak banyak yang mengenalnya, karena sosoknya seolah terlupakan.
Padahal, Tan Malaka merupakan salah satu Pahlawan Nasional.
Itu berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno, 28 Maret 1963.
Mari mengenal sosok pahlawan yang berjuluk Bapak Republik Indonesia ini.
Dirangkum dari berbagai sumber, berikut ini sekilas profilnya.
Baca juga: Mengenang Dorce Gamalama, Ini 5 Lagu Ciptaannya, Pernah Dapat Penghargaan dari MURI
Baca juga: Mengenang Soe Hok Gie, Aktivis Penentang 2 Rezim, Meninggal 16 Desember 1969 di Pelukan Semeru

Mengenang Tan Malaka
Nama asli Tan Malaka adalah Sutan Ibrahim.
Ia lahir di Lima Puluh Kota, Sumatra Barat, pada 2 Juni 1897.
Sosoknya dikenal sebagai pejuang kemerdekaan dan merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia.
Nama Tan Malaka sendiri diambil dari gelar Datuk Sutan Malaka.
Gelar itu ia dapatkan dari garis keturunan ibunya yang semi-bangsawan.
Ayahnya bernama HM Rasad, seorang karyawan pertanian.
Sementara ibunya, Rangkayi Sinah, putri orang yang disegani di desa.
Desa tempat Tan Malaka lahir bernama Nagari Pandam Gadang, Suliki (kini termasuk Gunuang Omeh), Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat.
Semasa kecil, Tan Malaka mempelajari pencak silat dan ilmu agama.

Mengenyam Pendidikan di Belanda
Pada 1913, Tan Malaka meninggalkan desanya untuk belajar di Rijkskweekschool (sekolah pendidikan guru pemerintah), Belanda.
Ia dapat pergi dengan bantuan dana oleh para engku dari desanya.
Selama kuliah, pengetahuannya tentang revolusi mulai muncul dan meningkat setelah membaca buku de Fransche Revolutie.
Setelah Revolusi Rusia pada Oktober 1917, ia mulai tertarik mempelajari paham Sosialisme dan Komunisme.
Tan Malaka lulus pada November 1919, dan menerima ijazah hulpactie.
Sepulangnya ke kampung halaman, Tan Malaka mengajar anak-anak kuli di perkebunan teh di Deli, Sumatera Utara.
Ia mulai mengajar anak-anak itu berbahasa Melayu pada Januari 1920.
Selain mengajar, Tan Malaka juga menulis beberapa propaganda untuk para kuli, dikenal sebagai Deli Spoor.

Bapak Republik Indonesia
Tan Malaka sempat menuliskan buku bertajuk Naar de Republiek Indonesia.
Isinya tentang konsep bangsa Indonesia dan perjuangan kemerdekaan Hindia Belanda dari kolonialisme.
Karena itulah, ia disebut sebagai Bapak Republik Indonesia.
Madilog dan Gerpolek, keduanya acapkali dianggap merupakan karya penting dari Tan Malaka.
Semua karya Tan Malaka dan permasalahannya dilatarbelakangi oleh kondisi Indonesia pada masa itu.
Semasa hidupnya, Tan Malaka kerap menjadi buronan Belanda.
Oleh sebab itu, keberadaannya sangat misterius, dan kerap menyamar guna menyembunyikan identitas.
Keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno, 28 Maret 1963, menetapkan Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional.

Meninggal di Moncong Senjata Tentara Indonesia
Tan Malaka sempat bersaing memperebutkan kekuasaan dengan Presiden Soekarno.
Akan tetapi, Soekarno berhasil mengunggulinya dengan membawa Soetan Sjahrir sebagai perdana menteri.
Karena itu ia dijebloskan ke dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun.
Tan Malaka meninggal di Kediri, Jawa Timur, pada 21 Februari 1949.
Seorang sejarawan Belanda, Harry A Poeze, menyebut Tan Malaka tewas karena ditembak mati.
Pada 21 Februari 1949, Tan Malaka dieksekusi mati oleh pasukan TNI di bawah pimpinan Letnan II Soekotjo.
Pada 21 Februari 2017, jenazah Tan Malaka secara simbolis dipindahkan dari Kediri ke Sumatera Barat.
(TribunStyle.com/Gigih Panggayuh)