Sejarah Peringatan Hari Kesaktian Pancasila, Ingat, Berbeda dengan Hari Lahirnya yang 1 Juni
Inilah sejarah peringatan Hari Kesaktian Pancasila, berbeda dengan hari kelahirannya pada 1 Juni.
Penulis: Gigih Panggayuh Utomo
Editor: Ika Putri Bramasti
TRIBUNSTYLE.COM - Inilah sejarah peringatan Hari Kesaktian Pancasila, berbeda dengan hari kelahirannya pada 1 Juni.
Setiap tangga 1 Oktober, diperingati Hari Kesaktian Pancasila.
Pada peringatannya, biasanya diisi dengan upacara dan pengibaran bendera merah putih.
Hal ini sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 153 Tahun 1967, di mana pada saat itu presiden dijabat oleh Soeharto.
Perlu digarisbawahi, Hari Kesaktian Pancasila ini berbeda dengan Hari Kelahiran Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni.
Lantas bagaimana sejarah 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila?
• 25 Ucapan Selamat Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober, Bisa Dibagikan Lewat Facebook, IG, WA, Twitter
• Kisah Tragis Pierre Tendean, Letnan Blasteran yang Gagal Menikah Karena Gugur dalam Peristiwa G30S
Mengutip TribunnewsWiki, peringatan tersebut bermula dari Surat Keputusan Menteri atau Panglima Angkatan Darat Jenderal Soeharto pada 17 September 1966.
Setelah keputusan tersebut keluar, Wakil Panglima Angkatan Darat, Letjen Maraden Panggabean, dalam jumpa pers menjelaskan Pancasila sebagai way of life bangsa Indonesia pada tanggal itu mendapat ancaman yang luar biasa sehingga hampir saja Pancasila musnah dari Bumi Pertiwi.
Maksudnya, agar bangsa Indonesia mengingat peristiwa kelam Gerakan 30 September 1965 atau dikenal sebagai G30S.
Diketahui peristiwa itu menewaskan enam jenderal dan satu ajudan.
Adapun para anggota Angkatan Darat yang menjadi korban G30S adalah sebagai berikut.
- Letjen Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi).
- Mayjen Raden Suprapto (Deputi II Menteri/Panglima AD bidang Administrasi).
- Mayjen Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Menteri/Panglima AD bidang Intelijen).
- Brigjen Donald Isaac Panjaitan (Asisten IV Menteri/Panglima AD bidang Logistik).
- Mayjen Siswondo Parman (Asisten I Menteri/Panglima AD bidang Intelijen).
- Brigjen Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat).
- Lettu Pierre Tendean (Ajudan Jenderal AH Nasution).
Pemerintahan Orde Baru kemudian menetapkan 30 September sebagai Hari Peringatan G30S dan tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila.
Soeharto mengadakan apel bersama pasukan militer satu hari setelah peristiwa G30S, yakni pada 1 Oktober 1965.
Saat itulah Soeharto menetapkan Hari Kesaktian Pancasila dengan mengkampanyekan pelaksanaan Pancasila dan Undang-undang 1945 di Indonesia secara murni dan konsekuen.
Berbeda dengan Hari Lahir Pancasila
Sementara itu, Hari Lahir Pancasila diperingati setiap 1 Juni, merupakan cikal bakal Pancasila sebagai dasar negara.
Tanggal ini secara resmi ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016, merujuk pada pidato Soekarno yang berjudul 'Lahirnya Pancasila' pada 1 Juni 1945.
Pidato tersebut disampaikan oleh Soekarno dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai atau dalam bahasa Indonesia, Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPK).
Dalam pidato inilah konsep dan rumusan awal ‘Pancasila’ pertama kali ditemukan oleh Soekarno sebagai dasar negara Indonesia merdeka.
Awalnya, pidato tersebut disampaikan tanpa judul.
Pidato tersebut akhirnya dibukukan, dan baru mendapat sebutan 'Lahirnya Pancasila'.
Istilah itu disebutkan oleh mantan Ketua BPUPKI, Dr. Radjiman Wedyodiningrat, berdasarkan kata pengantar buku pidato tersebut yang terbit pada 1947.
Berikut ini kutipan Radjiman sebagai kata pengantar dalam buku 'Lahirnya Pancasila' dikutip dari Wikipedia.
”Bila kita pelajari dan selidiki sungguh-sungguh 'Lahirnya Pancasila' ini, akan ternyata bahwa ini adalah suatu Demokratisch Beginsel,
suatu Beginsel yang menjadi dasar Negara kita, yang menjadi Rechtsideologie Negara kita; suatu Beginsel yang telah meresap dan berurat-berakar dalam jiwa Bung Karno, dan yang telah keluar dari jiwanya secara spontan, meskipun sidang ada dibawah penilikan yang keras dari Pemerintah Balatentara Jepang.
Memang jiwa yang berhasrat merdeka, tak mungkin dikekang-kekang!
Selama Fascisme Jepang berkuasa dinegeri kita, Demokratisch Idee tersebut tak pernah dilepaskan oleh Bung Karno, selalu dipegangnya teguh-teguh dan senantiasa dicarikannya jalan untuk mewujudkannya.
Mudah-mudahan 'Lahirnya Pancasila' ini dapat dijadikan pedoman oleh nusa dan bangsa kita seluruhnya dalam usaha memperjuangkan dan menyempurnakan Kemerdekaan Negara.”
Sejak tahun 2017, tanggal 1 Juni resmi jadi hari libur nasional untuk memperingati Lahirnya Pancasila.
Hal itu diperkuat dengan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2016.
(TribunStyle.com/Gigih Panggayuh)
BACA JUGA:
• NASKAH LENGKAP Pidato Kenegaraan Jokowi Jangan Merasa Paling Agamis, Paling Benar dan Pancasilais
• Upacara Hari Lahir Pancasila 2020 Digelar Secara Virtual, Ini Pesan Jokowi untuk Para Pejabat
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/monumen-pancasila-sakti_20171002_144512.jpg)