Jakob Oetama Meninggal Dunia
Perjalanan Karier Jakob Oetama, dari Seorang Guru hingga Perjuangannya Besarkan Kompas Gramedia
Perjuangan Jakob Oetama besarkan Kompas Gramedia. Lika-liku kariernya mulai dari seorang guru hingga menjadi pendiri jaringan media.
Penulis: Nafis Abdulhakim
Editor: Triroessita Intan Pertiwi
Jakob pun merasa bimbang apakah harus melanjutkan cita-citanya menjadi guru atau wartawan profesional.
Kemudian, Jakob menemui Pastor JW Oudejans OFM, pemimpin umum di mingguan Penabur.
Saat itulah Oudejans menasihatinya bahwa guru sudah banyak namun wartawan tidak.
Dengan percaya diri, akhirnya ia memustukan untuk fokus menggeluti dunia jurnalistik.
Pada April 1961, PK Ojong mengajak Jakob untuk mendirikan sebuah majalah.
Majalah tersebut diberi nama Intisari mengenai perkembangan dunia ilmu pengetahuan.
Majalah Intisari didirikan Jakob bersama rekannya PK Ojong Bersama J. Adisubrata dan Irawati SH.
Intisari pertama kali terbit pada 17 Agustus 1963 dan memiliki tujuan untuk memberi bacaan bermutu dan membuka cakrawala masyarakat Indonesia.
Dalam penerbitannya, Intisari juga melibatkan banyak ahli di antaranya adalah ahli ekonomi Prof. Widjojo Nitisastro, penulis masalah-masalah ekonomi terkenal seperti Drs. Sanjoto Sasstromohardjo, dan sejarawan muda Nugroho Notosusanto.
Berkat pergaulan PK Ojong yang sangat luaslah Intisari berhasil terbit.
Saat itu Intisari mendapatkan respon yang baik dari para pembaca hingga beroplah 11.000 eksemplar.
Saat itu, berdirinya Intisari dirasa kurang cukup. Sehingga pada tahun 1965 Jakob bersama PK Ojong mendirikan Surat Kabar Kompas.
Kala itu Indonesia sedang berada pada masa pemberontakan PKI.
Kemudian didirikanlah Surat Kabar Kompas yang dimaksudkan untuk menjadi pilihan alternatif dari banyaknya media partisan yang terbentuk dari kondisi politik Indonesia pasca Pemilu 1995.
Nama Kompas diberikan langsung oleh Presiden Soekarno yang berarti penunjuk arah.
Sebelumnya dipilih ‘Bentara Rakyat’ yang berarti koran itu ditujukan untuk menjunjung tinggi harkat dan martabat rakyat.
Moto yang dipilih pun “Amanat Penderitaan Rakyat”.
Namun Presiden Soekarno saat itu kurang setuju dan mengusulkan nama “Kompas”.
Kemudian dari perkembangan Kompas inilah berdiri kelompok usaha Kompas Gramedia lainnya.(TribunStyle.com/Nafis,Kompas.com/Wahyu Adityo Prodjo,Sonora.id/Muhamad Alpian)
Sebagian artikel ini sudah tayang di Sonora.id dengan judul Profil Jakob Oetama, Pendiri Kompas Gramedia yang Meninggal di Usia 89 Tahun
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/jakob-oetama-pendiri-kompas-gramedia-1.jpg)