Selaput Dara dan Darah di Malam Pertama Harusnya Tak Lagi Dipersoalkan Suami, Ini Alasannya!
Di masa lalu, darah di malam pertama menjadi tanda keperawanan seorang wanita. Sehelai kain putih dijadikan alas tidur kedua mempelai.
Editor: Indan Kurnia Efendi
Allah menitipkan gadis itu ke ayahnya, lalu ayahnya menyerahkan ke suaminya.
"Perempuan tak boleh tidak terlindungi sepersekian detik pun, karena ia memiliki rahim tempat Tuhan mencipta," ujar Ieda.
Lalu, laki-laki, lebih bebas? Ieda menyodorkan surah Yassin ayat 65, "Ketika tangan dan kaki berkata" (salah satu lagu almarhum Chrisye), bahwa kelak di akhirat tangan dan kaki kita akan mengaku kepada Tuhan telah digunakan untuk apa saja.
Termasuk kelamin, dimasukkan ke mana saja, dalam ikatan perkawinan atau tidak, spermanya membuahi atau tidak, semua harus dipertanggungjawabkan pada Tuhan.
Jadi, walau tak punya selaput dara, sebagai imam yang memimpin dirinya sendiri, beban laki-laki lebih berat dari perempuan, di antaranya tak boleh mengumbar kelamin ke sana ke mari.
Sayangnya, sebagian masyarakat memandang selaput dara hanya sebagai beban dan pengekang kebebasan. Padahal, "Itulah proteksi Allah terhadap perempuan." (Intisari/Agus Surono)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/ilustrasi_20170212_105311.jpg)