Selaput Dara dan Darah di Malam Pertama Harusnya Tak Lagi Dipersoalkan Suami, Ini Alasannya!
Di masa lalu, darah di malam pertama menjadi tanda keperawanan seorang wanita. Sehelai kain putih dijadikan alas tidur kedua mempelai.
Editor: Indan Kurnia Efendi
"Mereka yang membuat peraturan, pastilah dicari yang tidak menyusahkan mereka. Jadi, tuntutan lebih banyak ditujukan pada perempuan."
Makna selaput dara
Perempuan atau ibu selalu melambangkan kesucian, ditempatkan secara sakral, dan dijaga kesuciannya.
Misal, istilah Ibu Pertiwi, atau Shinta Obong dalam kisah Ramayana.
Jika tak mau simbol ini rusak, perempuan harus bisa menjaga diri. Ingat, tambah Ieda, perempuan adalah yang di-”empu”-kan.
Ia mengajak merenungi, mengapa Tuhan memberi perempuan selaput dara, dan tidak selaput perjaka pada lelaki?
Karena, perempuan diberi Tuhan sebuah rahim. Di sinilah Tuhan meletakkan makhluk ciptaan-Nya.
Tuhan mau, anak yang di dalam rahim itu jelas orangtuanya, bin maupun bintinya.
Itulah maka dengan selaput dara ditutup-Nya jalan menuju rahim tempat sperma membuahi sel telur.
Hanya suami sah yang berhak memasukkan sperma untuk membuahi sel telur, sehingga anak itu jelas bin dan bintinya.
Secara psikologis, bila seseorang tak jelas siapa bapaknya akan repot seumur hidupnya.
Kalau siapa ibunya, mudah dilacak, yakni siapa yang melahirkan dia. Tapi siapa bapaknya, tak ada saksi yang melihat.
Itulah maka ada selaput dara. Dari satu bapak saja kita tidak tahu benih mana yang membuahi, apalagi kalau "bapak"-nya lebih dari satu.
Dalam pernikahan, saat ijab kabul, wanita harus memiliki wali yaitu ayahnya sendiri.
Ucapan penyerahan putrinya harus langsung disambut ucapan penerimaan mempelai pria. Itulah estafet.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/ilustrasi_20170212_105311.jpg)