Breaking News:

Selebrita

Pasca Cibiran Kematian Timothy, Unud Libatkan Satgas Kekerasan untuk Selidiki Dugaan Perundungan

Satgas PPK Unud turun tangan usai beredarnya percakapan sarkastik mahasiswa terkait kematian Timothy.

Tayang:
Tribun-Medan.com
Satgas PPK Unud turun tangan usai beredarnya percakapan sarkastik mahasiswa terkait kematian Timothy. 

Sebagai langkah awal, fakultas merekomendasikan agar mahasiswa yang terlibat dijatuhi sanksi nilai D (tidak lulus) pada seluruh mata kuliah semester berjalan, karena soft skill menjadi bagian dari penilaian akademik. “Tapi sanksi akhir nanti akan diputuskan berdasarkan rekomendasi Satgas PPK,” imbuhnya.

Rektor Universitas Udayana, Prof. I Ketut Sudarsana, turut menyampaikan rasa duka mendalam atas meninggalnya Timothy. Ia menegaskan komitmen kampus untuk menjadi ruang aman bagi seluruh mahasiswa.

“Kami sangat berduka atas kepergian salah satu mahasiswa terbaik kami. Universitas Udayana turut merasakan kesedihan mendalam,” ujar Rektor.

“Kampus harus menjadi ruang aman, berempati, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Universitas akan menindak tegas setiap pelanggaran yang mencederai nilai kemanusiaan dan kehormatan akademik,” tegasnya.

Pihak kampus juga memberikan pendampingan psikologis kepada mahasiswa yang terdampak dan memperkuat program literasi digital serta kesehatan mental di lingkungan akademik.

Pandangan Psikiater: Komentar Sarkastik Bisa Jadi Luka Nyata

Kasus ini turut mendapat sorotan dari kalangan profesional. Cokorda Bagus J. Lesmana, psikiater sekaligus Guru Besar Psikiatri Komunitas dan Budaya Universitas Udayana, mengingatkan bahwa di era media sosial, batas antara empati dan hiburan sering kali kabur.

“Banyak orang tidak memahami bahwa komentar sarkastik atau sindiran di ruang digital memiliki dampak psikologis nyata,” ujarnya.

Ia juga menyoroti bahwa menyebarkan percakapan pribadi ke ruang publik tanpa izin bisa tergolong perundungan psikologis dan sosial. “Itu mencederai hak asasi dan bisa memicu luka batin mendalam,” katanya.

Lebih jauh, Cokorda menjelaskan tindakan tragis seperti yang dilakukan Timothy tidak lahir dari keberanian, melainkan keputusasaan yang panjang.

“Mahasiswa yang memilih kampus sebagai tempat bunuh diri sering kali ingin menyampaikan pesan bahwa mereka ingin dilihat, didengar, atau merasa gagal dipahami oleh sistem,” paparnya.

Menurutnya, proses menuju keputusan fatal semacam itu biasanya bertahap dimulai dari rasa malu, berkembang menjadi keyakinan negatif, hingga akhirnya kehilangan kendali emosi. Dalam kondisi krisis, keputusan mengakhiri hidup bisa muncul dalam hitungan menit.

“Mari kita bijak dalam menyikapi permasalahan dan tidak menghakimi tindakan seseorang sebelum secara jernih melihat permasalahannya. Empati adalah tanda kecerdasan emosional tertinggi. Dan privasi adalah bagian dari martabat manusia yang wajib kita jaga,” pungkasnya.

Tribunstyle.com | Ahlan Al Khairi

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/2
Tags:
Timothy AnugrahFISIP UNUDmahasiswa
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved