berita viral
Perasaan Josepha Alexandra Saat Melawan Ketidakadilan Juri di Final LCC MPR, 'Jujurly Kaget!'
Josepha akhirnya membuka suara, mengaku tidak pernah membayangkan insiden di panggung kompetisi itu akan menjadi sorotan luas dan akui kaget.
Editor: Sinta Darmastri
Ringkasan Berita:
- Josepha akhirnya membuka suara, mengaku tidak pernah membayangkan insiden di panggung kompetisi itu akan menjadi sorotan luasUpaya Josepha untuk membela hak timnya sempat membentur tembok keras dan akui kaget
- Upaya Josepha untuk membela hak timnya sempat membentur tembok keras
- Desakan publik dan bukti digital yang tak terbantahkan membuat pihak MPR mengambil langkah tegas
TRIBUNSTYLE.COM - Nama Josepha Alexandra, siswi berprestasi dari SMAN 1 Pontianak, mendadak menjadi buah bibir nasional. Bukan sekadar karena kecerdasannya di panggung final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR, melainkan karena keberaniannya bersuara saat sebuah ketidakadilan terjadi di depan matanya.
Setelah potongan videonya viral dan menuai gelombang dukungan dari netizen, Josepha akhirnya membuka suara. Ia mengaku tidak pernah membayangkan insiden di panggung kompetisi itu akan menjadi sorotan luas.
"Semoga hal ini dapat menjadi semangat dan motivasi kami untuk bisa berkembang dan maju lagi ke depannya," ungkap Josepha dengan tegar saat diwawancarai Kompas TV, Selasa (12/5/2026).
Kronologi di Atas Panggung: Satu Jawaban, Dua Nasib Berbeda
Kejadian yang memicu kontroversi ini bermula pada sesi rebutan ketiga di babak final, Sabtu (9/5/2026). Ketegangan memuncak saat SMAN 1 Pontianak (Regu C) berhadapan dengan SMAN 1 Sambas dan SMAN 1 Sanggau.
Saat MC melontarkan pertanyaan krusial mengenai mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Josepha dengan sigap menekan tombol. Dengan lantang, ia menjawab:
"Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden," kutip Josepha dari rekaman kanal YouTube MPRGOID.
Secara substansi hukum dan konstitusi, jawaban tersebut sempurna. Namun, di sinilah kejanggalan bermula. Bukannya mendapat poin, Josepha justru dijatuhi pengurangan lima poin oleh juri. Anehnya, saat soal yang sama dilemparkan ke regu lain dan dijawab dengan kalimat yang identik, hasilnya justru berbalik 180 derajat.
Rekan setim Josepha menceritakan momen membingungkan tersebut. "Nah, ketika host itu melemparkan soal kepada grup A dan juga grup B, grup B menjawab dengan pertanyaan dengan jawaban yang sama sangat sama sekali secara substansi juga sama," kenangnya.
Ia menambahkan betapa terpukulnya tim saat melihat standar ganda tersebut. "Kemudian diberikan nilai sepuluh poin oleh juri. Maka di situ kami kaget, jujurly kaget sekali karena memang tidak hanya secara substansi, tapi secara kalimat yang dilontarkan Oca (Josepha) sebagai tim C dan juga dengan tim B itu memiliki kesamaan yang persis."
Baca juga: Integritas LCC 4 Pilar 2026 Diguncang Protes, Mantan Juara Buka Suara: Kami Bukan Orang Awam
Antara Alasan Artikulasi dan Perasaan Semata
Upaya Josepha untuk membela hak timnya sempat membentur tembok keras. Protes yang ia layangkan di panggung dipatahkan dengan alasan teknis yang subjektif. Juri berdalih bahwa masalahnya terletak pada kejelasan suara atau artikulasi, sementara MC justru menyebut keberatan Josepha hanyalah perasaan semata.
"Begini, ya, kan sudah diperingatkan dari awal, ya, artikulasi itu penting. Jadi, biasakan menjawab itu dengan artikulasi yang jelas, ya. Kalau menurut kalian sudah, tapi dewan juri menilai kalian tidak, karena tidak mendengar artikulasi kalian dengan jelas, ya, itu artinya dewan juri berhak memberikan nilai minus lima," tegas Indri Wahyuni, Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR RI saat itu.
Baca juga: Tak Cuma Diputus Kerjasama Vendor, Shindy MC LCC 4 Pilar Sakit Hati Teman Rayakan Momen Jatuhnya
Akhir dari Polemik: Permintaan Maaf dan Sanksi
Kini, kebenaran mulai menemukan jalannya. Desakan publik dan bukti digital yang tak terbantahkan membuat pihak MPR mengambil langkah tegas. Dalam keterangan resminya, Sekretariat Jenderal MPR RI mengakui adanya kelalaian manusia dalam penilaian tersebut.
"MPR RI melalui Sekretariat Jenderal menyampaikan permintaan maaf atas kelalaian Dewan Juri yang menyebabkan polemik terkait pelaksanaan Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR di Provinsi Kalimantan Barat," tulis pihak MPR.
Buntut dari kejadian ini, juri dan MC yang bertugas pada babak final tersebut telah dinonaktifkan. Meski kompetisi telah usai, perjuangan Josepha menjadi pengingat penting bahwa dalam sebuah lomba yang menjunjung pilar-pilar bangsa, kejujuran dan objektivitas adalah fondasi yang tidak boleh diruntuhkan oleh alasan artikulasi semata.
(TribunStyle.com/Diolah dari artikel di Kompas.com)
Sumber: TribunStyle.com
| Ferdy Sambo Tempuh S2 di Balik Tembok Penjara, Ditjen Pas: Hak Mendapatkan Pendidikan untuk Binaan |
|
|---|
| Integritas LCC 4 Pilar 2026 Diguncang Protes, Mantan Juara Buka Suara: Kami Bukan Orang Awam |
|
|---|
| Tim SMAN 1 Pontianak Menjemput Keadilan di Jakarta, Dapat Undangan Istana untuk Temui Gibran |
|
|---|
| Kronologi & Pengakuan Siswa SMAN 1 Pontianak Ketika Jawaban Benar Berujung Minus Poin: Kaget Sekali |
|
|---|
| Tak Cuma Diputus Kerjasama Vendor, Shindy MC LCC 4 Pilar Sakit Hati Teman Rayakan Momen Jatuhnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/Kolase-potret-video-perbandingan-jawaban-dua-peserta-LCC-MPR-RI-yang-sedang-dipermasalahkan.jpg)