Breaking News:

berita viral

Integritas LCC 4 Pilar 2026 Diguncang Protes, Mantan Juara Buka Suara: Kami Bukan Orang Awam

Angkatan 2026 yang pernah mengharumkan nama Kalimantan Barat di kancah nasional pada LCC 4 Pilar 2025, hadir langsung sebagai saksi mata di lokasi.

Tayang:
Editor: Sinta Darmastri
Instagram @mprgoid
LCC 4 PILAR - Angkatan 2026 yang pernah mengharumkan nama Kalimantan Barat di kancah nasional pada LCC 4 Pilar 2025, hadir langsung sebagai saksi mata di lokasi. 

Ringkasan Berita:
  • Angkatan 2026 yang pernah mengharumkan nama Kalimantan Barat di kancah nasional pada LCC 4 Pilar 2025, hadir langsung sebagai saksi mata di lokasi
  • Karisma, yang punya jam terbang hingga ke Senayan, Jakarta, menegaskan bahwa dirinya sangat memahami seluk-beluk mekanisme perlombaan ini
  • Miranda yang memantau jalannya kompetisi dari awal hingga akhir, meyakini ada kekeliruan fatal dalam proses penilaian terhadap tim almamaternya

 

TRIBUNSTYLE.COM - Pelaksanaan Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar tingkat Provinsi tahun 2026 di Novotel Pontianak mendadak riuh. Bukan karena sorak kemenangan, melainkan karena gelombang protes keras yang dilayangkan terhadap keputusan dewan juri. Keadilan dalam penilaian jawaban peserta dari Grup C SMAN 1 Pontianak kini tengah menjadi sorotan tajam.

Kekecewaan ini tidak hanya datang dari peserta aktif, tetapi juga disuarakan oleh para veteran kompetisi tersebut. Miranda (17) dan Karisma (18), alumni SMAN 1 Pontianak angkatan 2026 yang pernah mengharumkan nama Kalimantan Barat di kancah nasional pada LCC 4 Pilar 2025, hadir langsung sebagai saksi mata di lokasi.

Pengalaman Nasional yang Terusik

Karisma, yang punya jam terbang hingga ke Senayan, Jakarta, menegaskan bahwa dirinya sangat memahami seluk-beluk mekanisme perlombaan ini. Baginya, apa yang terjadi di podium kemarin bukan sekadar masalah teknis biasa.

“Kami bukan orang awam dalam lomba ini. Tahun lalu kami juga mewakili provinsi ke Senayan Jakarta pada LCC 4 Pilar 2025. Jadi mekanisme lomba sudah banyak kami amati di tahun sebelumnya,” ujarnya saat ditemui, Selasa (12/5/2026).

Senada dengan Karisma, Miranda yang memantau jalannya kompetisi dari awal hingga akhir, meyakini ada kekeliruan fatal dalam proses penilaian terhadap tim almamaternya.

Baca juga: Tak Cuma Diputus Kerjasama Vendor, Shindy MC LCC 4 Pilar Sakit Hati Teman Rayakan Momen Jatuhnya

Polemik DPD: Antara Tidak Terdengar dan Rekaman Digital

Drama dimulai saat pertanyaan mengenai mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dilemparkan oleh MC. Pertanyaannya cukup spesifik: lembaga mana yang pertimbangannya wajib diperhatikan DPR saat memilih anggota BPK?

Grup C menjawab dengan lugas: “Anggota-anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh presiden.”

Namun, secara mengejutkan, juri menyatakan jawaban itu salah dengan alasan kata Dewan Perwakilan Daerah (DPD) tidak terdengar. Yang memicu amarah penonton adalah ketika pertanyaan yang sama dilemparkan ke Grup B dan dinyatakan benar, padahal substansi jawabannya identik.

“Nah dari situ juga kami sebagai penonton merasa jawaban itu sebenarnya ada. Bisa dilihat dari cuplikan videonya, peserta di podium sempat mengatakan ‘ada’ saat merespons pihak lain yang menyebut tidak ada jawaban,” kata Miranda.

Miranda bahkan mencoba melakukan langkah ekstrem untuk membuktikan kebenaran di bawah podium.

“Saya sampai mengangkat tangan dan membawa rekaman dari YouTube untuk memperlihatkan bahwa jawaban itu terdengar jelas. Tapi tidak digubris,” ungkapnya dengan nada kecewa.

Baca juga: Sosok Shindy MC LCC MPR RI, Curhat Setelah Viral, Kejatuhannya Dirayakan Teman-teman Seprofesi

Tiga Catatan Merah untuk Penyelenggara

Setelah SMAN 1 Pontianak harus puas diposisikan sebagai runner up, Miranda membeberkan tiga poin krusial yang mencederai kompetisi tahun ini:

Kompetensi Juri: Juri dinilai menutup telinga terhadap klarifikasi, baik dari peserta maupun bukti rekaman penonton. “Kami jauh dari podium saja masih mendengar jelas jawabannya, sementara alasannya artikulasi tidak jelas,” kritiknya.

  • Sportivitas Antar Peserta: Adanya gestur negatif dari regu lain saat Grup C memberikan jawaban juga menjadi catatan pahit bagi Miranda. “Bahkan ada peserta dari regu lain yang memberi gestur ‘tidak ada’ saat jawaban disebutkan,” tambahnya.
  • Integritas sebagai Harga Mati: Baginya, ini bukan soal piala, tapi soal kejujuran sebuah kompetisi negara. “Yang kami tuntut adalah keadilan dan integritas. Karena kalau integritas tidak jaga, maka hasil pertandingan juga bisa salah dalam menentukan pemenang,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, upaya Miranda menemui juri pasca-lomba hanya berbuah arahan ke panitia tanpa solusi konkret. “Yang kami dapatkan hanya permohonan maaf dan tidak ada aksi nyata,” pungkasnya menutup pembicaraan.

(TribunStyle.com/Diolah dari artikel di TribunPontianak.com)

Sumber: TribunStyle.com
Tags:
LCC Empat PilarSMAN 1 Pontianakmantan juara
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved