"Jadi, kita ya berbagai. Agama apa pun, diajarkan kayak gitu. Mereka (warga) juga kita ajarkan memberi. Walau pun mereka enggak mampu, tapi masih bisa bersedekah kok dengan Rp2.000," tegasnya.
W mengatakan, kegiatan ini sudah berlangsung selama tujuh tahun terakhir.
Kendati demikian, saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia, pria dermawan itu terpaksa berhenti menjalankan kegiatan ini selama dua tahun.
Ia menjelaskan, pada awalnya pamannya mengkhusukan kegiatan ini untuk warga Pasar Baru yang kurang mampu.
Namun, seiring berjalannya waktu, kegiatan ini semakin menarik perhatian warga setempat dan bahkan orang yang kebetulan lewat Jalan Pasar Baru Selatan.
"(Sekarang kan) Banyak juga yang dia sehat tapi antre, ya enggak apa-apa. Ya berarti dia butuh. Kita tetap kasih. Walau dia sehat, pakaian bersih. Kalau dia antre, ya dia butuh," ucap W.
Kegiatan beramal ini digelar bukan hanya pada saat bulan Ramadhan aja.
Tetapi, hari biasa, pria dermawan itu tetap menghelatnya.
Dalam satu hari, pria ini biasa menyediakan 300 porsi nasi.
"Kalau sebelum Ramadhan, kita cuma hari Jumat doang. Tapi, selama bulan puasa ini, kemarin kita full, cuma hari Minggu libur. Nah, ini untuk pekan ini, kita sisa Rabu dan Jumat. Soalnya pekerja juga mau pulang kampung kan," imbuh W. (*)