"Mungkin, Hamba Allah ini dikasih rezeki lebih atau apa, dia percaya konsep sedekah," tambahnya.
W mengatakan, hal tersebut dilakukan agar terlihat mana orang yang benar-benar membutuhkan.
"Kalau misalnya dikasih begitu saja, kan enggak kelihatan. Kalau begini, kan kelihatan mana yang benar-benar membutuhkan atau enggak," katanya.
"Ya biar sama-sama makan saja sih, bareng-bareng," lanjutnya.
W menolak kegiatan ini disebut jual beli nasi bungkus murah karena tidak sesuai dengan konsep Hamba Allah.
"Sebenarnya, lebih ke mengajak mereka (warga) beramal juga melalui Rp 2.000 ini. Maksudnya, yang bekerja ini kan butuh tenaga," ucap W.
Dalam kegiatan ini, pria dermawan itu dibantu oleh delapan orang.
Mereka adalah petugas parkir, penjual warung kelontong, pemilik warung kopi, dan lain-lain yang mencari nafkah di Jalan Pasar Baru Selatan.
"Maksudnya, yang kerja (delapan orang) ini kan butuh tenaga, lelah," ungkap W.
"Meski hanya Rp 2.000, kalau uangnya dikumpulkan, menjadi berarti bagi mereka (delapan orang ini)," imbuhnya.
Dengan kata lain, W menekankan, uang Rp 2.000 per orang untuk satu nasi bungkus ini tidak diambil oleh Hamba Allah.
Melainkan, dibagi rata untuk delapan pekerja tersebut.
"Iya, bukan untuk si Hamba Allah ini. Jadi, enggak diambil buat bikin nasi lagi, enggak. Mereka kan yang bantu," tutur W.
"Jadi nanti sebulan sekali, enggak seberapa sih, tapi dari hasil ini, dibagi-bagi. Buat uang capek. Konsepnya beramal untuk beramal,” jelasnya.
Dengan memilih jalan ini, W mengungkapkan, pamannya itu percaya bahwa setiap uang yang didapatkan dari keringatnya sendiri bukan sepenuhnya milik pribadi, melainkan ada rezeki orang lain di dalamnya.