TRIBUNSTYLE.COM - Apakah Bandung sedang darurat sampah?
Sampah di Bandung menumpuk karena pengangkutan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti terhenti.
Diketahui sudah hampir dua pekan TPA Sarimukti terbakar.
Di Kota Bandung, pemerintah akhirnya memutuskan untuk menggali lubang besar di Lapangan Tegallega untuk mengubur sampah organik.
"Kami buatkan lubang ukuran enam kali enam meter atau enam kali tujuh meter, tergantung area lahan yang masih terbuka. Kedalaman lubangnya minimal tiga meter.
"Itu lumayan bisa mengurangi sampah organik. Untuk sampah anorganiknya, kami coba kerjasamakan dengan para pemulung biar mereka memanfaatkan yang anorganik itu untuk kembali dipilah supaya bisa menjadi barang produktif yang bisa bernilai ekonomi," ujar Plh Wali Kota Bandung, Ema Sumarna saat ditemui di Balai Kota Bandung, Selasa (29/8).
Ema juga berharap, masyarakat kembali membiasakan memilah sampah organik dan anorganik itu sejak di rumah.
Baca juga: ASTAGFIRULLAH Imbas Kebakaran TPA Sarimukti Bandung yang Seminggu Belum Padam, 67 Warga Idap ISPA
"Warga jangan lagi menyatukan sampah organik dan anorganik. Nanti, kami akan jadwalkan yang organik dan anorganik, sehingga di TPS perlu ada penjagaan."
"Pola ini secara teknis kami tekankan di kewilayahan," katanya.
Langkah pemilahan sampah seperti ini, sebelumnya juga terbukti dapat sedikit demi sedikit mengatasi masalah persampahan di Kota Tasikmalaya.
Di Tasikmalaya, pemkot setempat bahkan juga mewajibkan semua hotel dan restoran yang ada di sana untuk memilah sampahnya. Meski belum berjalan maksimal, hasilnya mulai terlihat.
“Pemilahan sampah yang dilakukan hotel-hotel di Kota Tasikmalaya ini sudah berjalan sejak trimester kedua tahun ini," ujar Kepala DLH Kota Tasikmalaya, Deni Diyana, kemarin.
Di Kota Tasikmalaya, sampah organik sisa makanan dari hotel dan restoran sudah ada pengepul khususnya.
"Jadi tinggal sampah residunya yang kami ambil," ujar Deni.
Masih Siaga