Sebagai contoh seorang affiliate trading yang memamerkan harta mereka agar masyarakat tergiur untuk mengikuti trading yang dipromosikan olehnya.
Flexing tak melulu pamer barang mewah, tetapi juga bisa pencapaian, keberhasilan, atau bahkan relationship.
Lalu apa bahaya flexing?
Melansir dari KompasTV, kegemaran flexing ini dapat membuat orang menjadi iri dan bisa jadi berpotensi berbuat jahat.
Flexing juga membuat orang tidak menjadi lebih baik.
Selain itu ada beberapa gangguang psikologis akibat flexing.
Flexing yang dilakukan hanya untuk pamer kekayaan bisa menimbulkan perilaku memaksakan keadaan.
Dari sisi psikologis, Stefany menyebut orang pamer bisa jadi karena dua alasan.
Pertama, pamer karena memiliki sesuatu yang ingin dibanggakan dan hanya sekadar membagikannya ke orang lain.
Bagi orang lain yang kerap melihat fenomena flexing berle di media sosial, bersikap cuek bisa menjadi pilihan yang tepat.
"Artinya, yang bisa ditiru dalam hal positif, ya tiru. Tapi kalau kurang baik, jangan ikuti. Jangan sampai apa yang dilakukan orang lain, tapi kita yang kena dampaknya," kata dia.
"Kalau itu jadi memotivasi diri kita ya bagus, tapi jangan sampai kita malah membanding-bandingkan diri terus kitanya malah jadi down," tutupnya.
Artikel diambil dari laman Kompas.com dan KompasTV dengan judul
Apa Itu Flexing? Ramai Disebut di Media Sosial dan Apa Tujuannya?
Artikel ini disunting dari laman Kompas.com dengan judul Apa Itu Flexing? Ramai Disebut di Media Sosial dan Apa Tujuannya?