BAYI 6 Bulan Diajak Motoran Tegal-Surabaya Demi Nonton Bola, Meninggal, Ayah: Cukup Saya yang Tolol

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi bayi 6 bulan meninggal setelah diajak orangtua motoran dari Tegal ke Surabaya demi nonton tim bola kesayangan bertanding

Kronologinya, FJ sempat membawa bayi ke RS Marinir di Gunungsari.

Tidak berhenti sampai situ, bayinya dirujuk ke RSAL Surabaya.

Di rumah sakit itu, suasana berubah menjadi duka. Bayi mereka dinyatakan meninggal dunia.

FJ juga membagikan kisahnya di Twitter sembari mengutuk diri sendiri.

Bayi 6 bulan meninggal setelah diajak orangtuanya motoran Tegal-Surabaya demi nonton Persebaya. (Twitter)

Baca juga: Terlalu Asyik Merokok Sambil Main Facebook, Ayah Sampai Lupa Tinggalkan Bayi 9 Bulan di Bak Mandi

“Akhirnya saya belajar apa makna ‘Persebaya Sak Tekone Izrail’ berkat ketololan yg terbungkus ego dan kesombongan saya yang nekat mengajak anak sy yg berusia 6bln untuk away dari Tegal ke Surabaya demi melihat @persebayaupdate bertanding home perdana. Semoga cukup sy saja yg tolol,” bukanya dalam tweet pertama.

Cuitan itu kemudian direspons oleh netizen. Sebanyak 2 ribu lebih orang me-retweet kisah FJ tersebut.

Ia juga mendetailkan kisahnya. Setelah dirujuk ke RSAL Surabaya, FJ kesulitan memesan ambulans, entah karena apa.

Sehingga, lagi-lagi, bayi itu harus naik motor menujuk RSAL.

“Karena lampu merah di depan DTC Wonokromo dan kepalang sepur lewat Wonokromo juga, hingga akhirnya (si bayi) sudah terlalu lemah dan tak tertolong meski dokter di RSAL sudah berusaha maksimal,” cuitnya.

Walhasil, utas di media sosial itu membuat netizen gemas sekaligus murka.

Menurut mereka, kematian bisa dicegah jika si ayah memilih untuk tidak pergi menonton sepakbola di Surabaya.

“Pertimbangan tolol saya adalah tempo hari di game 729, kami sekeluarga baik-baik saja. Namun, kali ini, saya teledor dan lalai dalam melindungi keluarga,” tulisnya lagi.

“Ya memang harusnya sampean gak usah ajak anak mas. Anak umur segitu kog gak dieman. Harusnya, istri di rumah saja momong anak. Sampean berangkat sendiri. Emosi ya Allah,” tutur warganet.

“Masih bisa foto jenazah, masih sempat bikin status di Twitter, masih sempat ngetag tim sepakbola. Ga habis pikir,” murka yang lain.

“Mas, saran saya sebaiknya twitnya hapus & private akun. Beritanya semakin viral & Anda akan semakin banyak menerima komen2 amarah & frustrasi netizen. Tapi, semua itu buat apa toh nasi sudah jd bubur. Tidak mengubah situasi. Komentar tsb akan menambah luka hati keluarga Anda,” jelas yang lain.

Halaman
123