Hari Ketujuh Perang Rusia Ukraina, Turki Tutup Selat Bosphorus Dardanelles, Cegah Invasi Laut Hitam
Memasuki hari ketujuh perang Rusia Ukraina, Turki tutup jalur selat Bosphorus dan Dardanelles, cegah invasi lewat laut Hitam.
Editor: Dhimas Yanuar
TRIBUNSTYLE.COM - Memasuki hari ketujuh perang Rusia Ukraina, Turki tutup jalur selat Bosphorus dan Dardanelles, cegah invasi lewat laut Hitam.
Peperangan masih berkecamuk di timur Eropa hingga hari ini Rabu, (2/3/2022).
Reaksi internasional pun menjadi sorotan terbaru, di mana sepertinya banyak negara saling berpihak.
Baca juga: VIRAL Video Petani Ukraina Nekat Curi Tank Rusia, Sampai Dikejar-Kejar
Baca juga: VIRAL Video Bekal Makanan Tentara Rusia Kadaluarsa, Masih Dipakai Meski Kelewat 7 Tahun
Salah satunya adalah Turki, sekaligus Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
Erdogan resmi mengumumkan penutupan jalur laut di wilayah perbatasan demi mencegah terjadinya perang besar antara Rusia dan Ukraina.
Pengumuman itu disampaikan Erdogan hari Senin (1/3/2022), agar konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina tidak makin memanas.
Mengutip dari Aljazeera, beberapa selat seperti Selat Bosphorus dan Selat Dardanelles yang menghubungkan Laut Aegea, Marmara dan Laut Hitam akan ditutup untuk sementara waktu sampai konflik tersebut mereda.
Keputusan tersebut diambil Pemerintah Turki berdasarkan perjanjian internasional 1936 (Konvensi Montreaux) untuk membatasi pergerakan kapal perang Rusia maupun Ukraina .
“Kami telah memperingatkan kedua negara di kawasan itu dan di tempat lain untuk tidak melewati kapal perang melalui Laut Hitam,” kata Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu.
Tak hanya kapal Rusia dan Ukraina saja yang dilarang melewati kawasan tersebut. Cavusoglu juga turut memperingatkan negara-negara disekitar wilayah Laut Hitam dan non-Laut Hitam agar tidak melewati perairan Turki tersebut.
Pemerintah Turki was-was jika selat Bosphorus dan Dardanelles tak kunjung ditutup dikhawatirkan akan membuat Rusia nekat melakukan invasi lebih besar ke Ukraina melalui jalur laut.
Hal ini juga akan mengancam keamanan jalur perekonomian laut di Turki.
Presiden Erdogan menilai langkah ini dianggap sebagai cara yang tepat untuk menyeimbangkan komitmen Barat terlebih tanpa merusak hubungan perekonomiannya dengan ibu kota Rusia, Moskow.
Turki sendiri diketahui telah lama menjalin hubungan ekonomi dengan Rusia. Tercatat selama tahun 2021 kemarin, Rusia menjadi penyumbang biji – bijian terbesar bagi Turki dengan angka 56 persen.
==
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/presiden-ukraina-volodymyr-zelensky-bersama-presiden-turki-recep-tayyip-erdogan.jpg)