Tokoh Viral Hari Ini
5 Kontroversi Hadi Pranoto, Klaim Temukan Obat Covid-19 hingga Tes Swab Rp 10 Ribu
Inilah 5 kontroversi Hadi Pranoto, sosok yang mengaku pakar Mikrobiologi dan klaim temukan Obat Covid-19.
Penulis: Amirul Muttaqin
Editor: vega dhini lestari
Klaim sembuhkan ribuan orang
Kepada Anji, Hadi Pranoto mengaku sudah ribuan orang bisa disembuhkan dari CCovid-19 setelah meminum ramuan herbal yang dia ciptakan itu.
Bahkan, ia mengaku sudah mengirim herbal ke berbagai kota, termasuk ke Wisma Atlet Kemayoran.
"Untuk kamampuannya, alhamdulillah sudah ribuan orang yang sudah kita sembuhkan baik yang sudah terinfeksi, maupun gejala, semuanya sembuh dan sehat," kata Hadi Pranoto.
"Itu paling banyak kta salurkan di Sumatera, Bali, dan Jakarta. Kita mensuplai untuk pengobatan dan penyembuhan pasien di wisma atlet juga," jelasnya.
Riset puluhan tahun

Hadi Pranoto menyebut, cara kerja herbal temuannya dengan vaksin sangat berbeda.
Adapun, fungsi herbal nantinya bisa menjadi semacam piranti keaamanan di dalam tubuh jika diminum.
"Karena pola kerja herbal yang kita buat itu beda. Setelah kita minum dengan aturan yang kita anjurkan, kemudian terbentuk antibody dalam tubuh, kemudian akan menjadi piranti keamanan tubuh kita sendiri, pabila ada virus corona masuk ke dalam tubuh, maka akan dimakan bakteri di dalam tubuh," kata Hadi Pranoto.
Hadi mengemukakan, pihaknya sudah melakukan penelitian tentang antibody Covid-19 ini jauh sebelum virus tersebut masuk ke Indonesia.
"Riset kami sudah sejak 2000. Kita sudah lama sekali mempelajari irus ini dan kita kembangkan terus menerus. Dan setelah virus ini meledak di Wuhan awal 2019, kita bisa mengidentifikasi jenis dan genetik covid-19 itu dan kita cocokkan dengan herbal yang kita punya. Kemudian kita urai bahan untuk melawan covid-19 ternyata itu sangat efektif. Dan semua bahan bakunya ada di Indonesia," tambahnya.
Swab test Rp 10 ribu
Tak hanya mengklaim temukan obat Covid-19, Hadi Pranoto juga memberikan pernyataan kontroversial terkait rapid test dan swab test.
Anji menanyakan soal fenomena rapid test dan swab test yang saat ini marak dilakukan di berbagai tempat.
Menurut Hadi, dua metode yang saat ini banyak digunakan tersebut, bukanlah metode paling efektif untuk mengindentifikasi virus corona.