Breaking News:

Virus Corona

Potret Hidup Tim Pemulasaran Jenazah Covid-19, Sudah Tak Dibayar, Harus Isolasi Mandiri di Toren Air

Berbanding terbalik dengan tim medis yang mendapat isentif, tim pemulasaran jenazah Covid-19 di Kudus ini justru harus bekerja tanpa bayaran.

Editor: Galuh Palupi
TRIBUN JATENG/RAKA F PUJANGGA
Kristanto (39), warga Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, relawan pemulasaraan tinggal di toren air agar menghindari keluarganya terpapar. 

Sementara itu, Siswanto (44), warga Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus mengatakan, selalu memperhatikan kesehatannya agar bisa tetap bekerja.
Secara acak, anggota pemulasaraan itu juga dites swab untuk mengetahui terpapar atau tidak.

"Biasanya satu yang dites swab, karena kalau satu kena biasanya semua kena. Dan sudah beberapa kali kami tes swab," ujarnya.

Siswanto bekerja ikhlas sebagai relawan tidak mengharapkan uang sepeser pun. Namun dia juga tidak menolak jika ada perhatian pemerintah terhadap tim relawan. Apalagi tim bertaruh dengan nyawanya, karena menangani sejumlah jasad yang sebelumnya terpapar virus.

"Kami tahu jasad sudah dibungkus rapi, tetapi kami juga tetap mengenakan hazmat sebagai protokol kesehatan," jelas dia.

Kesulitannya, mereka yang menguburkan jenazah itu menggunakan hazmat sehingga membuat keringat mudah bercucuran. "Macul biasa saja keringatan, apalagi pakai hazmat sama masker. Sampai sulit bernafas," jelasnya.

Beruntung selama menjadi tim pemulasaraan ini, dia bisa jalan-jalan sampai ke luar kota karena lokasi pasien berbeda-beda. Sehingga mereka bisa sedikit terhibur melihat pemandangan di kabupaten/kota lainnya.

"Karena ikut ini, pengalamannya jadi sering ke luar kota. Ke Semarang, Jepara, Pati, karena asal pasien berbeda," ujar dia.

Walaupun kondisinya sulit, Siswanto bersama rekan-rekannya selalu siap melayani pemulasaraan jenazah covid-19.

Kepala BPBD Kabupaten Kudus, Bergas C, menceritakan, saat ini tim pemulasaraan ada 10 orang yang berasal dari relawan. Namun padatnya jumlah pemulasaraan membuat anggotanya ditambah sekitar tiga orang. "Awalnya 10 orang, tetapi karena menyesuaikan kebutuhan jumlah kasus covid meningkat. Sekarang tambah tiga orang," ujar dia.

Dalam sehari, karena intensitasnya meningkat membuat jumlah pemulasaraan bertambah menjadi 4-5 orang per hari. Tidak hanya pasien positif covid-19 yang meninggal menggunakan protokol pemulasaraan, namun juga pasien dalam pengawasan (PDP).

Fakta-fakta Dokter Madura Gugur di Surabaya Karena Corona, Pesan Harunya Viral

"Pemulasaraan di Kudus mengalami peningkatan sejak bulan Juni 2020 ini," jelasnya.

Semua tim pemulasaraan tersebut murni merupakan relawan yangg tidak mendapatkan honor. Sehingga, kebanyakan dari anggota relawan yang merupakan buruh serabutan tersebut juga harus tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

"Mereka setiap hari bekerja, sebagian besar buruh. Relawan itu motivasi memang menolong, bukan karena uang," jelasnya. (tribun jateng/raf)

Sebagian artikel ini telah tayang di sripoku.com dengan judul Kisah Kristanto, Relawan Pemulasaraan Jenazah Covid-19, Tak Dibayar dan Isolasi Mandiri di Toren Air

CFD Jakarta Hari Ini Langsung Dipenuhi Lautan Manusia, Corona Free Day Jadi Trending Twitter

Hasil Swab Test Adiknya Negatif Corona, Via Vallen Langsung Gelar Syukuran, Banjir Ucapan Syukur

Sumber: Tribun Jateng
Tags:
KristantocoronaKudusBPBD
Berita Terkait
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved