Breaking News:

Virus Corona

Potret Hidup Tim Pemulasaran Jenazah Covid-19, Sudah Tak Dibayar, Harus Isolasi Mandiri di Toren Air

Berbanding terbalik dengan tim medis yang mendapat isentif, tim pemulasaran jenazah Covid-19 di Kudus ini justru harus bekerja tanpa bayaran.

Editor: Galuh Palupi
TRIBUN JATENG/RAKA F PUJANGGA
Kristanto (39), warga Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, relawan pemulasaraan tinggal di toren air agar menghindari keluarganya terpapar. 

TRIBUNSTYLE.COM - Berbanding terbalik dengan tim medis yang mendapat isentif, tim pemulasaran jenazah Covid-19 di Kudus ini justru harus bekerja tanpa bayaran.

Terdapat 10 orang tim pemulasaran jenazah korban pandemi di Kabupaten Kudus.

Kesepuluh orang itu adalah relawan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus.

Satu di antaranya Kristanto (39), warga Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, yang sudah dua bulan terakhir membantu pemulasaraan jenazah.

Kristanto (39), warga Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, relawan pemulasaraan tinggal di toren air agar menghindari keluarganya terpapar.
Kristanto (39), warga Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, relawan pemulasaraan tinggal di toren air agar menghindari keluarganya terpapar. (TRIBUN JATENG/RAKA F PUJANGGA)

 

Kristanto menceritakan, tim pemulasaraan terbentuk atas permintaan rumah sakit yang kesulitan menangani pasien yang telah meninggal dunia. "Kami membentuk tim pemulasaraan jenazah ini karena dari rumah sakit kesulitan menanganinya, sehingga kami diminta tolong," ujar dia, Sabtu (20/6).

KABAR BAIK, Dokter Top Italia Sebut Virus Corona Sudah Melemah, Mungkin Bisa Hilang Tanpa Vaksin

Dia mengatakan, tidak mendapatkan honor dari rumah sakit atau pemerintah untuk membantu proses pemulasaraan jenazah. Bahkan, insentif tenaga kesehatan yang dijanjikan Kementerian Kesehatan sebesar Rp 5 juta sampai Rp 15 juta per bulan pun tak bisa mereka rasakan.

Kris mengaku apa yang dilakukannya adalah perbuatan yang ikhlas sehingga tidak berharap ada timbal baliknya. Namun dia akan senang hati bersedia menerima uang lelah untuk hasil jerih payahnya bersama teman-teman tersebut.

"Kami di sini kerja ikhlas tidak menuntut bayaran, tetapi kalau ada insentif untuk kami tentu senang," ucapnya.

Apalagi pekerjaan pemulasaraan jenazah pasien Covid-19 itu merupakan kegiatan yang berisiko tertular. Bahkan, dia rela meninggalkan dua buah hatinya dan istrinya karena menjadi relawan pemulasaraan jenazah.

Dia khawatir, jika sering bertemu keluarga saat tengah menjalani pekerjaannya sebagai relawan itu dapat menulari orang yang disayangi. Makanya dia memilih untuk tinggal di Kantor BPBD Kabupaten Kudus yang berada di Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus.

"Saya pernah tidak ketemu sama keluarga sampai 28 hari," jelas dia.

Menariknya, saat melakukan isolasi mandiri dari keluarga tersebut dia memilih tidur di tempat penampungan air (toren). Dia memilih tempat tersebut karena merasa lebih nyaman untuk beristirahat sejenak setelah memakamkan jenazah. "Saya pilih tinggal di toren buat saya lebih nyaman saja di sana," ujarnya.

Selama menjadi relawan, Kris mengaku lebih banyak duka dibandingkan sukanya. Namun bersama teman-temannya, mereka bisa menikmati pekerjaan tersebut. Meskipun mereka harus bekerja hingga larut malam sampai pukul 02.00 dini hari, bahkan memakamkan empat orang sekaligus dalam sehari.

"Kami bekerja di sini harus sehat, tapi tidak harus waras. Yang penting sehat dulu biar bisa membantu yang lain," selorohnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved