Virus Corona
KABAR GEMBIRA Soal Obat Corona, Sedang Dikembangkan Inhaler Pembunuh Covid-19 di Hidung, Terbukti!
Para ilmuwan ini tengah mengembangkan inhaler untuk perangi virus corona setelah diketahui munculnya gejala awal terinfeksi Covid-19 ini
Penulis: Nafis Abdulhakim
Editor: Agung Budi Santoso
TRIBUNSTYLE.COM - Ini kabar gembira terbaru soal obat pembasmi virus corona di hidung dalam bentuk inhaler atau obat hirup.
Inhaler ini, menurut penelitian para ilmuwan, bisa membunuh Covid-19 di saluran pernafasan, khususnya ketika virus corona baru masuk hidung.
Cukup canggih memang, inhaler Covid-19 telah dikembangkan oleh para ilmuwan Inggris.
Alat ini diklaim bisa membantu untuk memerangi virus segeras setelah gejala awal muncul.
Melansir The Sun, para ilmuwan ini diketahui dari University of Southhampton, Inggris.
Mereka telah mengirim 120 inhaler ke pasien Covid-19 untuk uji coba.
Ini merupakan teknologi baru untuk meingkatkan sistem kekebalan tubuh menggunakan obat eksperimental.
Teknologi ini memiliki kode SNG001.
• Sepi Job Imbas Corona, Artis Cantik Ditemukan Tewas Gantung Diri, Postingan Terakhirnya Jadi Isyarat
• KABAR GEMBIRA! Ditemukan Cara Baru Netralkan Virus Corona, Antibodi Mantan Pasien SARS Jadi Andalan

Dengan menggunakan protein yang bisa diproduksi tubuh setiap kali terkena inveski virus, bernama Interferon Beta.
Dilansir dari laman The Sun, alat ini sudah digunakan dalam pengobatan multiple sclerosis.
Sebelumnya telah menunjukkan hasil yang positif dalam mengurangi gejala virus corona.
Alat tersebut diuji coba di Hong Kong yang mengombinasikan dengan obat lain.
Cara kerja alat ini pun langsung mengincar paru-paru.
Ketika obat ini dihirup, obat akan lengsung menuju paru-paru dan menekan efek virus.
Para peneliti berharap alat tersebut dapat mencegah pasien memasuki fase kritis dari paparan Covid-19.
Fase tersebut cenderung muncul pada hari ke sepuluh setelah pertama kali gejala terinfeksi diketahui.
Jika percobaan ini berhasil, perusahaan yang berlokasi diSouthampton Synairgen, berharap bisa memproduksi dalam jumlah besar.
Rencananya, jika berhasil, mereka meluncurkannya pada akhir tahun ini yang dapat melawan pandemi.
Sementara itu, para peneliti ini akan segera menyelesaikan uji coba rumah sakit dengan pasien berjumlah 100 orang dalam masa percobaan.
Hasilnya akan diterbitkan pada Juli mendatang.

Para peneliti ini juga berpendapat, tes baru ini merupakan kunci untuk menentukan langkah perawatan yang efisien.
Mengutip The Sun dari Daily Mail,"Kami membutuhkan pengobatan Covid-19 yang dapat diberikan kepada pasien pada awal perjalanan penyakit untuk mencegah perkembangan menjadi gejala parah," ujar Pemimpin studi Profesor Nick Francis.
Para pasien terinfeksi virus corona yang parah bisa membuat timbulnya penyakit lain yang lebih serius.
Penyakit tersebut seperti masalah pernapasan dan pneumonia.
Kebanyakan terjadi pada minggu kedua setelah terinfeksi Covid-19.
Kepala Synairgen, Richard Marsden, inhaler ini bisa cegah virus pada minggu kedua ini.
"Kita bisa menghentikan orang dari mengalami minggu kedua yang buruk. Boris Johnson memiliki masalah itu pada minggu kedua ketika dia berada di rumah sakit.
"Itu tampaknya menjadi polanya, sekitar sepuluh hari ketika orang-orang mengalami masalah besar.
"Mereka beralih dari gejala mirip flu menjadi sangat terengah-engah dan mengalami radang paru-paru," ucap Richard.

Setelah mengembangkan masalah pernapasan dan gejala lainnya, pasien akan diberikan serangkaian pengujian penuh.
penhujian ini akan dilakukan dalam waktu 72 jam.
Para pasien akan menggunakan inhaler satu isapan dalam sehari.
Kemudian akan dicatat perubahan apa yang terjadi di saturasi dan suhu oksigen.
Setelah 14 hari, dokter akan memantau terus para pasien ini.
Hal ini untuk memastikan psien tak kambuh lagi.
Uji coba ini berfokus pada pasien yang berusia 50-65 tahunan.
Para pasien ini sebelumnya sudah teruji klinis di rumah sakit dengan hasil positif terinfeksi Covid-19.
Dalam pengujian, jika berhasil maka perlu dibuatkan lisensi oleh regulator obat.
Hasil baik tentu diharapkan para peneliti agar mempercepat proses.
Ditemukan Cara Baru Netralkan Virus Corona, Antibodi Mantan Pasien SARS Jadi Andalan
Para ilmuwan terus berupaya untuk menemukan penyembuhan pasien Covid-19 yang hingga saat ini masih mewabah. Salah satunya, ditemukannya cara baru menetralkan virus corona dari tubuh pasien dengan memanfaatkan antibody di dalam tubuh mantan pasien penyakit SARS atau Severe Acute Respiratory Syndrome .
Beberapa peneliti dan dokter telah menguji coba plasma darah dari orang yang berhasil sembuh dari Covid-19 untuk mengobati pasien lainnya.
Antibodi yang pertama kali diidentifikasi oleh para ilmuwan berasal dari sampel darah seseorang yang berhasil pulih dari sindrom pernapasan akut.
Metode ini memiliki premis sederhana, dimana darah oran yang berhasil pulih dari infeksi mengandung antibodi, dan antibodi adalah molekul yang telah belajar mengenali dan melawan patogen seperti virus penyebab penyakit.
Dilansir dari Medical News Today, dokter melakukan langkah ini dengan memisahkan plasma darah atau salah satu komponen darah yang mengandung antibodi.
• KABAR GEMBIRA, Semua Pasien Corona di Daerah Ini Sembuh Total! Kini Umumkan Nol Kasus Covid-19
• Begini Protokol Kesehatan bagi Aparat dan Petugas Pengamanan untuk Cegah Penularan Covid-19

Kemudian, plasma darah tersebut diberikan pada orang yang terinfeksi virus.
Hal ini diklaim bisa membantu sistem kekebalan tubuh untuk melawan patogen dengan lebih efisien.
Para peneliti dan profesional telah mengupayakan kemungkinan menggunakan metode ini untuk mengobati Covid-19 yang disebabkan oleh infeksi virus corona.
Di Amerika Serikat, 57 lembaga yang terdiri dari peneliti dan dokter sedang meneliti kemungkinan penggunaanplasma darah untuk penyembuhan Covid-19.
Ahli biologi molekuler akan memilih antibodi yang mampu menargetkan urutan protein spesifik suatu patogen.
Sel yang merpakan kloningan dari sel asli penghasil antibodi kemudian mengasilkan jutaan antibodi monoklonal yang identik.

Para ilmuwan awalnya mengidentifikasi antibodi pada darah seseorang yang pernah terinfeksi SARS, dimana penyakit SARS juga disebabkan oleh virus corona.
Individu yang dipelajari antibodinya adalah orang yang berhasil pulih dari infeksi SAES pada tahun 2002 hingga 2004 lalu.
Selama beberapa tahun, para peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Washington telah mempelajari terkait SARS dari individu ini.
Dengan mempelajari antibodi dari orang yang berhasil pulih dari SARS memungkinkan peneliti untuk bergerak lebih cepat dibandingkan kelompok lainnya, kata David Veesler, asisten profesor biokimia di Universitas Washington.
Perusahaan bernama Vir Biotechnology telah melakukan pengembangan dan pengujian terhadap antibodi tersebut.
Antibodi itu diberinama S309 dan akan diuji klinis sesegera mungkin.
Selain untuk penyembuhan SARS-CoV dan Covid-19, antobodi ini diharapkan juga bisa menetralkan infeksi yang disebabkan oleh virus corona lain yang memiliki subgenus sama.
Terapi yang sudah digunakan selama ratusan tahun
Dilansir dari Medical News Today, gagasan penggunaan plasma konvalesen atau terapi antibodi pasif ini pertama kali dikenalkan pada akhir abad ke-19.
Orang yang pertama kali mengenalkan metode ini adalah fisiolog Emil Von Behring dan bakteriologis Kitasato Shibasaburou.
Mereka menemukan metode dengan menggunakan antobodi yang ada dalam komponen darah lain untuk melawan infeksi bakteri diptheria.
Sejak saat itu, dokter telah menggunakan terapi antibodi pasif, setidaknya sejak tahun 1930-an untuk melawan infeksi bakteri dan virus.
Sejarah panjang keberhasilan metode ini untuk melawan berbagai penyakit menular menunjukkan bahwa metode ini juga mungkun bisa digunakan untuk melawan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus corona.
Tak Hanya Sabun & Disinfektan, Inilah 5 Kelemahan Corona Covid-19, Termasuk Antibodi yang Baik
Apa saja kelemahan-kelemahan dari virus corona yang bisa meminimalisir penyebaran?
Berikut lima kelemahan dari Covid-19 yang berhasil dirangkum oleh TribunStyle di bawah ini:
1. Gunakan sabun untuk mematikan virus

Virus corona bisa hancur dan mati jika terkena sabun.
Pasalnya sabun yang sehari-hari kita gunakan mengandung pelarut lemak yang bisa membunuh virus tersebut.
Hal itulah kita sangat dianjurkan untuk rajin cuci tangan dengan air dan sabun untuk mencegah infeksi Covid-19.
Sabun menjadi media yang efektif untuk membunuh coronavirus karena terdapat beberapa susunan dari virus itu sendiri.
Virus corona pada intinya tersusun atas tiga bagian, yaitu:
1. DNA atau RNA yang menjadi inti dari virus,
2. Protein yang merupakan bahan baku virus untuk memperbanyak diri, dan
3. Lapisan lemak sebagai pelindung luarnya
Ketiga bagian tersebut sebenarnya tidak terikat dengan kuat satu sama lain.
Sehingga, saat lapisan lemak tersebut hancur karena sabun, maka virus tersebut pun akan hancur dan mati.
Maka tepat imbauan untuk mencuci tangan adalah langkah yang dipilih dan sangat efektif untuk mencegah penularan Covid-19.
Apabila masyarakat rajin cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, maka kemungkinan virus berpindah dari tangan dan masuk ke dalam tubuh akan berkurang drastis.
2. Disinfektan mampu membunuh virus
Sebagai informasi, virus corona sendiri ada banyak jenisnya.
Ada virus corona yang menyebabkan SARS, MERS, dan sekarang jenis yang baru ditemukan yakni yang mengakibatkan Covid-19.
Perbedaan pada masing-masing pun memang ada, sehingga masih butuh lebih banyak penelitian.
Akan tetapi, sejauh ini bahwa secara umum karakter keluarga coronavirus cukup mirip, yaitu dianggap lemah apabila dihadapkan dengan bahan disinfektan.
Merujuk pada hasil penelitian, virus corona penyebab SARS dan MERS bisa bertahan di permukaan benda seperti metal, kaca, atau plastik hingga beberapa hari.
Meski sejauh ini belum ada penelitian mengenai ketahanan virus penyebab Covid-19 di permukaan, tapi diduga hasilnya tak akan jauh berbeda dari satu rumpun sesama virus corona lainnya.
Kabar baiknya, virus tersebut dianggap bisa mati dengan bahan disinfektan seperti alkohol dengan kadar 60-70%, hidrogen peroksida 0,5%, atau sodium hipoklorit 0,1% dalam waktu 1 menit.
Sehingga masyakarat diimbau untuk rajin membersihkan permukaan benda yang sering disentuh seperti telepon genggam, gagang pintu, dan meja kerja menggunkaan bahan disinfektan.
• Tak Peduli Keselamatan Keluarga, Pasien Corona Maksa Pulang untuk Rayakan Lebaran, Ancam Bunuh Diri
• Brasil Menjadi Episentrum Baru Skala Global Pandemi Virus Corona karena Meremehkan Hal Ini
3. Akan lemah di suhu panas
Memang sejauh ini belum ada penelitian yang menyebut bahwa virus penyebab Covid-19 lemah terhadap panas.
Akan tetapi, virus corona penyebab penyakit SARS telah terbukti bisa melemah pada suhu yang panas.
Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh badan kesehatan dunia, World Health Organization (WHO), virus penyebab SARS sendiri bisa terbunuh pada suhu 56°C.
4. Tak mampu bertahan lama di permukaan

Virus corona memang bisa bertahan beberapa hari di permukaan.
Namun, seiring berjalannya waktu, virus ini tak lagi cukup kuat untuk bisa menimbulkan infeksi kepada seseorang.
Melihat kondisi tersebut, baik WHO maupun Kementerian Kesehatan RI tak melarang pengiriman paket antar negara karena risiko penularan melalui media pengiriman paket tersebut dianggap sangat rendah.
5. Kalah dengan antibodi yang baik
Perlu diketahui, infeksi Covid-19 memang bisa dilihat dari tingkat keparahan, mulai dari yang ringan hingga parah.
Seperti pada pasien yang dinyatakan positif Covid-19 dengan gejala ringan, maka bisa sembuh dengan sendirinya selama daya tahan tubuhnya baik.
Mengacu pada penelitian yang dilakukan di Australia menyatakan bahwa salah satu kelemahan virus corona adalah dalam menghadapi antibodi yang sehat.
Syaratnya yakni tetap melihat secara teratur kadar antibodi yang dihasilkan oleh seorang pasien Covid-19 berusia 47 tahun dengan gejala ringan hingga sedang, seperti:
1. Pasien tersebut tak punya penyakit penyerta yaitu hipertensi atau diabetes.
2. Kondisi tubuh secara keseluruhan sehat dan hanya terdapat satu infeksi yang tengah dialami, yaitu Covid-19.
3. Pada hari ke 7-9 sejak gejala Covid-19 pertama kali muncul pada pasien tersebut, sejumlah antibodi mulai terbentuk di tubuh.
Tanda yang diketahui tersebut menunjukkan tubuh tengah mengeluarkan berbagai senjatanya untuk berusaha melawan virus corona.
Sehingga beberapa hari setelah antibodi terbentuk, tubuh pasien tersebut mulai membaik.
Akan tetapi, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut dalam skala yang lebih besar lagi untuk melihat pola “peperangan” antara virus corona dan antibodi.
Tak memungkiri juga penelitian di atas bisa dijadikan sebagai pengingat pentingnya menjaga daya tahan tubuh dengan menjalani pola hidup yang sehat.
Beberapa kelemahan virus corona itulah perlu diketahui supaya masyarakat dapat memahami bagaimana cara mencegah penularan Covid-19.
Selain itu tetap waspada akan wabah corona dan tak boleh meremehkan adanya virus ini.
Masyarakat pun harus selalu melakukan pencegahan di mana ia berada dan setiap waktu.
Hal itu guna meminimalisir risiko masyarakat terinfeksi virus ini dan bisa meredam wabah yang kian meluas ini. (TribunStyle.com/Nafis)
BACA JUGA!
• Mengaku Dikucilkan & Dapat Sindiran Tetangga, Terungkap 6 Fakta Adik Via Vallen Positif Corona
• Tak Peduli Keselamatan Keluarga, Pasien Corona Maksa Pulang untuk Rayakan Lebaran, Ancam Bunuh Diri
• Berdamai dengan Covid-19, Ini Aturan New Normal yang Wajib Dipatuhi Perusahaan di Tempat Kerja