Breaking News:

Viral Hari Ini

Viral Video Guru Dihukum Orangtua Murid, Merangkak Mengelilingi Ruang Kelas Dipandangi Semua Siswa

Tidak terima anaknya diberi sanksi, orangtua murid balas beri hukuman untuk sang guru. Kini video viral.

Editor: Monalisa
Facebook/ ummiAlqayyum
Guru dihukum wali murid karena tak terima anaknya dihukum 

Sehari setelah peristiwa itu, Rahmah mengikuti pemeriksaan di depan penyidik Polsek Sultan Daulat untuk membuat berita acara pemeriksaan.

"Saya berharap kasus ini diproses secara hukum sampai tuntas," ungkap Rahmah dilansir Serambi Indonesia pada Sabtu (23/11/2019).

"Jangan sampai ada lagi kejadian yang sama menimpa guru. Terus terang kami trauma. Saya masih syok, anak saya takut," Rahmah menambahkan.

Teror fisik si wali murid membuat Rahmah dibayang-bayangi ketakutan, sehingga ia memutuskan menunda untuk mengajar.

Pelipis Rahmah masih memar dan kulitnya membiru akibat penganiayaan SN.

Buntut Perkelahian 22 Oktober

Penganiayaan terhadap Rahmah tak lepas dari perkelahian anak wali murid SN dengan teman sekelasnya pada 22 Oktober silam.

Saat sedang menulis di papan tulis Rahmah mendengar muridnya menangis setelah berkelahi dengan temannya.

Sebagai wali kelas III B, Rahmah mencoba menenangkan murid yang menangis itu dan mendamaikan murid yang terlibat perkelahian.

Sepekan berlalu, tepatnya Sabtu (26/10/2019), ibu wali murid SN masuk ke dalam kelas saat berlangsung belajar mengajar lalu menghampiri anaknya.

Rahmah sempat bertanya perihal kedatangan wali murid tersebut.

Tak lama wali murid tersebut cekcok dengan Rahmah. Si Wali murid memprotes kenapa anaknya berkelahi sehingga ia tidak terima.

Rahmah menjelaskan kejadian itu dan kedua anak yang terlibat perkelahian sudah berdamai.

Usut punya usut, perkelahian di dalam kelas justru diawali oleh anak si wali murid.

Wali murid tadi memastikan anaknya sangat disiplin, tapi malah menyinggung status Rahmah selaku guru honorer.

Rahmah mengabdi di SDN Jambi Baru sejak 2005 hingga 2016 dan sejak 2017 terdaftar sebagai guru honorer Pemkot Subulussalam dengan upah Rp 800 ribu per bulan.

Ia tak lagi punya peluang menjadi PNS melalui rekrutmen jalur umum lantaran usianya telah mencapai 35 tahun.

Saat ribut, guru-guru yang lain datang ke dalam kelas.

Wali murid tadi malah berkata-kata tak pantas tapi para guru bersabar.

Para guru mengarahkan kasus ini agar diselesaikan di kantor dan di hadapan kepala sekolah, namun sang wali murid tetap tidak terima.

Setelah kejadian ini, guru SDN Jambi Baru mengundang Muspika untuk mencari solusi.

Beberapa hari kemudian, giliran ayah wali murid SN datang ke sekolah.

Rahmah, guru honorer SDN Jambi Baru, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, korban penganiayaan oknum wali murid.


Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Kisah Rahmah, 14 Tahun Jadi Guru Honorer Upah Rp 300.000/Bulan, Pengabdiannya Berbalas Penganiayaan, https://aceh.tribunnews.com/2019/11/24/kisah-rahmah-14-tahun-jadi-guru-honorer-upah-rp-300000bulan-pengabdiannya-berbalas-penganiayaan?page=all.
Penulis: Khalidin
Editor: Nur Nihayati
Rahmah, guru honorer SDN Jambi Baru, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, korban penganiayaan oknum wali murid. Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Kisah Rahmah, 14 Tahun Jadi Guru Honorer Upah Rp 300.000/Bulan, Pengabdiannya Berbalas Penganiayaan, https://aceh.tribunnews.com/2019/11/24/kisah-rahmah-14-tahun-jadi-guru-honorer-upah-rp-300000bulan-pengabdiannya-berbalas-penganiayaan?page=all. Penulis: Khalidin Editor: Nur Nihayati (Serambinews.com/Khalidin)

Rahmah takut hingga meminta bantuan satpam menemaninya di kelas.

Ternyata suami SN mempersoalkan luka bekas cubitan di tangan anaknya.

Para guru sampai bertanya kepada si anak apakah benar tangannya dicubit oleh wali kelasnya, Rahmah.

Tepat pada Rabu (20/11/2019), Rahmah kembali dicegat sang wali murid dan menanyai berbagai masalah.

Termasuk permintaan sang wali murid agar anaknya dipesijuek.

Rahmah mencoba menjelaskan jika persoalan itu menjadi tanggungjawab kepala sekolah.

Sang wali murid tidak terima hingga menampar dan menjambak jilbab Rahmah hingga koyak.

Sang anak malah membantah.

Akibat hal ini, anak Rahmah yang masih kelas I trauma hingga takut melintas ke sekolah.

Kebetulan, untuk ke sekolah Rahmah harus melintas di depan rumah wali murid dimaksud.

Kapolsek Sultan Daulat, AKP Dodi.
Kapolsek Sultan Daulat, AKP Dodi. (HO/Serambinews.com )

Wali Murid Dikenal Berwatak Keras 

Kapolsek Sultan Daulat, AKP Dodi, membenarkan pihaknya sedang memproses laporan Rahmah.

”Kasus ini sudah kita tangani, korban telah diperiksa,” kata Dodi saat dikonfirmasi soal kasus Rahmah pada Sabtu malam.

Rahmah sudah menjalani visum di Puskesmas Sultan Daulat, namum hasilnya belum diterima pihak kepolisian.

”Akan kita lihat dari hasil visum, Senin nanti sudah keluar. Memang jilbabnya koyak, dan sudah melapor ke polisi,” imbuh Dodi.

Polisi sempat meminta korban dan pelaku menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan lewat mediasi, namun gagal.

Penyidik telah memanggil terlapor namun tidak bersedia hadir.

Bahkan, kepala desa sudah menyampaikan surat panggilan tapi terlapor ogah menerimanya.

Menurut Dodi, korban sudah lapang dada menyelesaikan secara kekeluargaan kasus ini, namun pelaku tak merespon.

Dari informasi yang didapat polisi, pelaku sudah terkenal oleh masyarakat setempat berwatak keras.

Ia memastikan tetap memproses masalah ini sesuai hukum dan penyidik akan kembali melayangkan surat panggilan kedua untuk si wali murid, Senin (25/11/2019).

Jika pelaku tak mengindahkan surat panggilan kedua sampai dua hari berikutnya, polisi akan segera memanggil paksa.

”Tidak open dia. Jadi kita layangkan lagi surat kedua kalau ini juga tidak mau menerima akan dipanggil paksa,” tegas Dodi.

Apa yang Rahmah alami menjadi berita duka menjelang perayaan Hari Guru yang jatuh hari ini.

Korban Bukan Orang Sembarangan

Penelusuran Serambi, Rahmah bukan orang sembarangan, karena ayahnya Marhaban salah satu tokoh pejuang lahirnya Kecamatan Sultan Daulat.

Marhaban semasa hidup sangat peduli dengan lembaga pendidikan, seperti utarakan H Amiruddin Bancin, rekan almarhum.

Menurut Amiruddin, Marhaban aktif mendatangkan atau memperjuangkan pembangunan di daerah itu.

Bersama rekan-rekannya, Marhaban nekat mencegat Bupati Aceh Singkil saat itu H Makmursyahputra, demi memperjuangkan Jambi Baru sebagai ibu kota Kecamatan Sultan Daulat.

Jambi Baru semula hanya desa biasa, pindahan dari Namo Buaya. Berkat perjuangan sejumlah tokoh seperti Marhaban, Mustafa, akhirnya menjadi ibu kota kecamatan.

Marhaban (alm), tokoh pendidikan Subulussalam dan pejuang pemekaran Kecamatan Sultan Daulat.
Marhaban (alm), tokoh pendidikan Subulussalam dan pejuang pemekaran Kecamatan Sultan Daulat. (Dok Keluarga)

Lanjut Amiruddin, sejumlah pembangunan di Kecamatan Sultan Daulat khususnya Jambi Baru, tak lepas dari perjuangan Marhaban.

Semasa hidupnya, pria bertubuh kecil ini begitu lincah menghadapi birokrasi pemerintah meski terkadang harus berkorban tenaga, uang dan pikiran.

Di dunia pendidikan, Amiruddin bersama Marhaban dan sejumlah tokoh seperti Buyung Perling, Ustaz Abidin, Ustaz Nasir, dan Kasim, memprakarsai SD di Jambi Baru sebagai sekolah negeri.

”Kami masuk dalam panitia pembangunan SD Jambi Baru, awalnya swasta lalu dinegerikan,” ujar Amiruddin.

Kiprah mendiang Marhaban atas lembaga pendidikan berlanjut, hingga bisa mewujudkan Madrasah Tsanawiyah Swasta Jambi Baru.

Bahkan, kata Amiruddin, mendiang koleganya itu juga menghibahkan lahan miliknya sebagai tempat pembangunan Sekolah Menengah Atas (SMA) Sultan Daulat.

Ada banyak pembangunan saat ini tidak lepas dari perjuangan almarhum Marhaban, ayah Rahmah, guru honorer yang dianiaya wali murid itu.

Marhaban merupakan mantan Kepala Desa Jambi Baru di era 30 tahun lalu ketika anak-anaknya masih kecil termasuk Rahmah.

Pada 2008 silam, Marhaban menghadap sang Pencipta menyusul istrinya yang telah meninggal pada 1987.

“Betapa perihnya hati kami, menyaksikan peristiwa ini. Andai orangtuanya masih hidup, betapa ayahandanya akan merasa sangat terluka," ucap Amiruddin.

"Karena anaknya dianiaya oleh orang yang menikmati sekolah hasil perjuangan sejumlah tokoh di sini termasuk mendiang Marhaban,” papar dia.

Amiruddin menyampaikan hal tersebut sebagai bentuk pemberontakan batinnya melihat putri mendiang sahabatnya dikasari oleh oknum wali murid.

Menurut dia, tak sepantasnya memperlakukan buruk guru, siapa pun dia. Amiruddin berharap kasus ini segera dituntaskan.

PGRI Bereaksi Keras

Ketua PGRI Kota Subulussalam, Sahruddin Solin, mendukung laporan Rahmah dan meminta polisi segera menuntaskan kasus ini secara hukum.

Ia menyayangkan wali murid menganiaya guru karena masalah sepele.

PGRI awalnya berbaik hati dan siap menyelesaikan kasus penganiayaan terhadap guru secara kekeluargaan di sekolah.

Kata Saruddin, pelaku belum menghadiri acara perdamaian di sekolah hingga kasus ini dibawa ke jalur hukum.

”Kami dari PGRI siap untuk mendampingi korban,” kata Saruddin.

Ketika ditanyakan apakah PGRI tetap mengharapkan penyelesaian tersebut di jalur hukum, Saruddin menyatakan awalnya sudah pernah ada upaya berdamai.

Logo PGRI
Logo PGRI (Net)

Menurut Sahruddin, alasan pihaknya mendukung kasus ini dibawa ke ranah hukum agar tak adalagi kasus serupa di kemudian hari.

Selama kepemimpinannya, sambung Saruddin, apa yang dialami Rahmah adalah kasus kedua.

Sempat ada kasus serupa di Suka Makmur, Kecamatan Simpang Kiri.

“Intinya kami meminta ini diproses secara hukum,” ujar Saruddin.

PGRI Subulussalam telah menemui korban dan polisi.

Dari informasi yang didapat, akibat pergumulan itu korban sempat jatuh ke parit dan jilbabnya ikut tersingkap. (Serambinews.com)

Sebagian artikel ini telah tayang di Tribunjakarta.com dengan judul Wali Murid di Aceh Aniaya Guru Hingga Jilbab Copot, Korban Bukan Orang Sembarangan, 

Sumber: Nakita
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved