Breaking News:

Tips Kesehatan

Bukan Hanya Memicu Banyak Penyakit, Obesitas Juga Picu Depresi, Begini Menurut Para Ahli

Menurut Dr. Jess Tyrrell dari University of Exeter Medical School, hal ini diduga dipengaruhi oleh stigma negatif masyarakat terhadap orang obesitas.

Penulis: Anggia Desty
Editor: Delta Lidina Putri
findatopdoc.com
Ilustrasi obesitas dan depresi 

Di Indonesia ada 3 kasus orang yang mengalami obesitas atau kelebihan berat badan, sebut saja Titi Wati, Arya Permana, dan Yudi Hermanto.

TRIBUNSTYLE.COM - Obesitas adalah penyakit kegemukan atau kelebihan berat badan yang dapat memiliki efek negatif pada banyak sistem dalam tubuh.

Menurut Dr. Jess Tyrrell dari University of Exeter Medical School, hal ini diduga dipengaruhi oleh stigma negatif masyarakat terhadap orang obesitas.

Orang yang memiliki kelebihan berat badan atau obesitas memiliki risiko lebih besar terkena kondisi serius, termasuk penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan penyakit tulang dan sendi.

Obesitas menjadi sebuah penyakit yang perlu diperhatikan dan menjadi kasus bukan hanya di Indonesia tetapi di dunia.

Indonesia menempati posisi ke-10 pada daftar negara dengan tingkat obesitas tertinggi di dunia menurut Kajian Global Burden of Diseases (GBD).

Tips Ibu Hamil, Cara Mengatasi Morning Sickness hingga Berat Badan Berlebih Saat Masa Kehamilan

Mata Kamu Lelah? Tips Mata Segar & Bersinar Ala Artis Korea: Rajin Berkedip hingga Kompres Air Mawar

Gaya hidup (lifestyle) yang kurang baik menjadi faktor utama terjadinya kasus obesitas.

Pola makan tak seimbang dan kurangnya aktivitas fisik membuat lemak menumpuk pada tubuh.

Akibatnya, organ-organ tubuh yang terhimpit lemak tak berfungsi optimal.

Angka obesitas di Indonesia berangsur naik dalam beberapa tahun terakhir.

Banyaknya kasus yang terjadi, seperti akhir-akhir ini adalah Titi Wati yang menderita obesitas ekstrem dengan berat badan 350 kilogram.

Arya Permana, bocah berusia 12 tahun pada tahun 2017 juga mengalami obesitas dengan berat badan mencapai 192 kilogram.

Pada tahun yang sama, Yudi Hermanto mmeiliki berat badan 310 kilogram hingga membuatnya tidak bisa berjalan.

Titi Wati Usai Operasi
Titi Wati Usai Operasi (TribunStyle.com Kolase/ Kompas.com Handout,Kurnia Tarigan)

Dikutip dari stanfordhealthcare.org, obesitas juga terjadi di Amerika Serikat, US Surgeon General telah menyatakan bahwa obesitas telah mencapai proporsi epidemi di Amerika Serikat.

Sekitar 35 persen wanita dan 31 persen pria dianggap kelebihan berat badan yang serius, 15 persen anak-anak berusia antara enam dan 19 tahun kelebihan berat badan.

Pejabat kesehatan masyarakat memperingatkan bahwa hasil dari aktivitas fisik dan pola makan yang buruk adalah ancaman signifikan terhadap kesehatan.

Penyebab obesitas sangat kompleks.

Ada banyak faktor yang saling terkait, seperti genetika, gaya hidup dan bagaimana tubuh menggunakan energi.

Obesitas memiliki efek negatif yang luas terhadap kesehatan.

Setiap tahun, kondisi obesitas menghabiskan lebih dari 150 miliar dolar dan menyebabkan 300.000 kematian prematur di Amerika Serikat.

Efek kesehatan yang terkait dengan obesitas adalah hal-hal berikut:

Menurut sebuah penelitian Journal of Pediatric Health Care tahun 2006, orang yang obesitas berpeluang 25 persen lebih besar terkena gangguan jiwa kronis berupa depresi, dibandingkan dengan orang yang tidak obesitas.

Meskipun obesitas dan depresi dapat dialami oleh siapa saja tanpa pandang bulu, ternyata wanita yang obesitas justru lebih gampang terkena depresi daripada pria. 

Ingat Arya Permana Remaja Obesitas Asal Karawang? Kini Bersiap Melakukan Operasi Pengangkatan Kulit

Melansir dari Medical News Today, risiko depresi meningkat sebanyak 21 persen pada wanita yang obesitas.

Sedangkan pada pria, risiko depresinya juga meningkat tetapi lebih sedikit yaitu sebesar 8 persen.

Menurut Dr. Jess Tyrrell dari University of Exeter Medical School, hal ini diduga dipengaruhi oleh stigma negatif masyarakat terhadap orang obesitas.

Setiap orang pasti sering mencemaskan bentuk tubuh sendiri.

Berharap mempunyai tubuh yang bukan cuma sehat, tetapi juga ideal.

Semakin ideal postur tubuh, maka akan semakin percaya diri dan lebih mudah untuk beraktivitas.

Ilustrasi
Ilustrasi (Food NDTV)

Sebaliknya, ketika seseorang merasa tubuh terlalu gemuk atau tidak ideal, biasanya orang tersebut akan merasa minder dan menarik diri dari lingkungan sekitar.

Tidak jarang pula, orang yang obesitas dianggap sebagai orang yang tidak normal karena bertubuh besar.

Akibatnya, sering kali dijauhi, dikucilkan, hingga dibully oleh orang sekitar.

Hal ini tentu menambah beban pikiran penderita obesitas.

Hasilnya, bahaya obesitas bukan lagi sekadar memicu penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi, tetapi juga memicu stres berat hingga depresi.

Sebaliknya, orang yang depresi juga rentan terkena obesitas.

Belum Tentu Hamil, Telat Menstruasi Bisa Dipicu 8 Hal Ini, Obesitas Hingga Penyakit Serius

Faktanya, obesitas dan depresi memiliki hubungan timbal balik yang saling memengaruhi.

Menurut sebuah studi yang dilakukan terhadap remaja di Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat, remaja yang mengalami depresi cenderung lebih rentan obesitas.

Ketika sedang stres, seseorang pasti akan mencari pelampiasan untuk mengalihkan perhatian supaya lebih tenang.

Baik dengan mengonsumsi makanan, berpergian (piknik), menonton film, maupun tidur.

Faktanya, orang yang mengalami stres berat atau depresi cenderung melampiaskan emosinya dengan melakukan pola hidup tak sehat.

Mulai dengan mengonsumsi junk food atau makan instan dalam jumlah banyak, malas berolahraga, atau bahkan minum alkohol.

Hal-hal seperti inilah yang akan memicu obesitas.

Terlebih lagi, orang yang sedang depresi mempunyai kadar hormon serotoin yang lebih sedikit.

Serotonin merupakan hormon dalam tubuh yang bertugas untuk mengendalikan nafsu makan.

Ketika hormon serotonin ini menurun, maka tubuh otomatis akan kehilangan kemampuan untuk menahan nafsu makan.

Akibatnya, hasrat ingin makan akan muncul terus-menerus dan membuat seseorang obesitas.

Bukan hanya memicu depresi, obesitas juga memicu penyakit berbahaya lainnya, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, penyakit jantung, masalah persendian (osteoartritis), apnea tidur dan masalah pernapasan, hingga kanker.

Ilustrasi.
Ilustrasi. (indianexpress.com)

 Ada 3 hal penting yang bisa dilakukan untuk menurunkan risiko bahaya obesitas dan depresi sekaligus, yaitu dengan cara:

1. Olahraga rutin

Olahraga merupakan obat stres alami yang dapat meningkatkan endorfin (hormon bahagia) dalam tubuh.

Olahraga adalah salah satu cara terbaik untuk menangkal bahaya obesitas sekaligus meredam stres dan depresi.

Bukan hanya membuat suasana hati jauh lebih baik, banyaknya hormon endorfin dalam tubuh juga dapat membantu menjaga berat badan tetap stabil.

Banyak penelitian yang membuktikan bahwa olahraga setidaknya satu kali seminggu dapat menurunkan gejala depresi.

Olahraga yang tepat dilakukan saat berpuasa
Olahraga yang tepat dilakukan saat berpuasa (nysnmedia.com/zakat.or.id)

2. Konsultasi ke dokter

Obesitas memicu beberapa penyakit yang kronis dan bahaya seperti jantung.

Konsultasikan ke dokter untuk mencegah bahaya obesitas yang semakin parah.

Dokter akan melakukan sejumlah pemeriksaan medis untuk mencari tahu kemungkinan adanya penyakit dalam tubuh.

Selain itu, dokter biasanya akan memberikan panduan diet sehat sesuai dengan kondisi.

Seimbangkan dengan rutin berolahraga agar berat badan lebih mudah dikendalikan.

Menurut Penelitian, Obesitas Seperti Penyakit Menular: Akan Ketularan Jika Dikelilingi Orang Gemuk

3. Meminta dukungan orang terdekat

Pada dasarnya, depresi yang terjadi akibat obesitas berasal dari pikiran penderita.

Ada banyak hal yang membuat penderita obesitas mudah stres, mulai dari tekanan untuk segera menurunkan berat badan hingga ejekan atau bully-an dari orang lain.

Dukungan dari keluarga atau orang terdekat sangat diperlukan untuk membuat beban pikiran atau masalah jadi lebih ringan.

Bila tidak membantu, konsultasikan ke psikiater yang terpercaya.

Dari depresi hingga obesitas, para psikiater akan membantu mengatasi masalah hidup dan memberikan solusi. (TribunStyle.com/Anggia)

Sumber: TribunStyle.com
Tags:
TribunStyle.comobesitascara menyembuhkan obesitas
Berita Terkait
AA

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved