Bak Kembali di Jaman Kegelapan, Lelang Budak Ternyata Masih Berjalan di Afrika! Videonya pun Viral
Isu soal perbudakan ini kian panas setelah viralnya video penjualan manusia di Afrika yang ramai dibicarakan di media sosial.
Penulis: Bobby Wiratama
Editor: Bobby Wiratama
TRIBUNSTYLE.COM - Istilah perbudakan manusia bisa dibilang sebagai suatu hal yang tak asing.
Pada jaman dahulu. perbudakan ini lumrah terjadi adanya.
Para majikan yang lebih kaya memperbudak kaum-kaum yang lebih lemah untuk diperkejakan dalam berbagai bidang.
Layaknya barang, para budak-budak ini juga diperjualbelikan kepada para orang-orang kaya pada jaman dahulu.
Seiring dengan perkembangan jaman, perbudakan lama-kelamaan dianggap sebagai suatu hal yang tabu.
• Mantan Bos Google Buat Agama Baru! Umat yang Bergabung akan Menyembah Sosok Tuhan Berikut . . .
Hal ini terjadi mengingat perbudakan adalah pelanggaran atas Hak Asasi Manusia (HAM).
Kodrat manusia hidup di dunia ini adalah memiliki kebebasan atau free will.
Maka dari itulah, perbudakan bisa dibilang belenggu yang begitu keji bagi hidup manusia.
Oleh karenanya, di jaman yang sudah maju ini, perbudakan dianggap sebagai suatu hal yang tabu di masyarakat modern.
Walaupun kerap terjadi di masa lalu, usut punya usut, perbudakan masih berlanjut secara diam-diam.
Isu soal perbudakan ini kian panas setelah viralnya video penjualan manusia di Afrika yang ramai dibicarakan di media sosial.
Sebuah rekaman yang ditayangkan CNN pekan lalu menunjukkan eksistensi pasar budak modern yang telah diketahui selama berbulan-bulan, menurut kesaksian dari Organisasi Internasional untuk Migrasi, dan badan kemanusiaan lainnya.
Rekaman CNN menunjukkan para pembeli menawar harga para imigran. Mereka dijual dengan harga masing-masing 400 dolar Amerika Serikat atau Rp 5,4 juta.
Seorang pria asal Afrika Barat mengatakan,"Tentu, saya dijual". Yang lain menceritakan bagaimana mereka dipukuli oleh 'pemilik' mereka saat mulai bekerja.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/jual-beli-budak-di-afrika_20171121_115717.jpg)