Curhat Dosen Soal Proyektor Mati Ini, Ngena Banget Buat Mereka yang Murah Menghina Tapi Mahal Memuji
Bicara soal perilaku saling membully, kisah yang dialami dosen ini bisa jadi pelajaran. Terutama Buat Mereka yang murah menghina, mahal memuji!
Penulis: Indan Kurnia Efendi
Editor: Indan Kurnia Efendi
Berikut kisah selengkapnya.
Murah celaan mahal pujian
Tadi saat memberi kuliah Penetapan dan Penegasan Batas Wilayah (PPBW) di Teknik Geodesi UGM, ada kendala pada projektor.
Setelah berusaha mengatasi dan tidak bisa, saya berkata "ada yang bisa membantu?".
Semenit ditunggu, tidak ada yang maju. Dua menit ditunggu, tidak juga ada yang maju.
"Gimana, ada yang mau bantu?" tanya saya sambil tersenyum, kini dengan menatap mereka semua.
Terdengar suara lirih ragu-ragu menyebut nama seseorang diikuti derai tawa khas mahasiswa.
Ini biasa terjadi, selalu ada seseorang di kelas yang menjadi 'bulan-bulanan' dan orang itu biasanya baik hati, sabar dan tidak sombong.
Masih dalam suasana santai, saya jadi tertarik mengeksplorasi suasana itu lebih serius. "Kenapa tidak ada yang maju ya?" tanya saya setengah tertawa.
"Takut kalau tidak bisa ya? Kan tidak apa-apa, kalian bukan teknisi." saya lanjutkan.
"Takut malu ya?" tanya saya lagi.
Mereka mulai saling lihat dan mengiyakan. "
Takut tidak bisa memenuhi harapan" kata seseorang.
"Takut mengecewakan Pak" kata yang lain lagi.
Saya kian tertarik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/seorang-dosen-menceritakan-kisahnya-yang-diawali-dari-proyektor-rusak_20170505_195342.jpg)