Iran Ancam Tutup Jalur Perdagangan Global Jika Blokade AS di Selat Hormuz Terus Berlanjut
Blokade total Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran di Selat Hormuz picu ketegangan global, Teheran ancam balas tutup jalur laut strategis.
Penulis: Tim Konten Style
Editor: Tim TribunStyle
TRIBUNSTYLE.COM -- Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas, terutama terkait situasi di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan global. Pihak Iran kini melontarkan ancaman tegas jika tekanan dari Amerika Serikat terus berlanjut.
Militer Iran memperingatkan akan memperluas blokade jalur perdagangan, tidak hanya di Selat Hormuz, tetapi juga mencakup Teluk Persia, Laut Oman, hingga Laut Merah. Ancaman ini muncul sebagai respons terhadap kebijakan Amerika Serikat yang dinilai membatasi aktivitas pelayaran Iran.
"Angkatan bersenjata Iran tidak akan mengizinkan ekspor atau impor apa pun untuk berlanjut di Teluk Persia, Laut Oman, dan Laut Merah," kata kepala pusat komando militer Iran Ali Abdollahi dilansir AFP, Rabu (15/4/2026).
Ali Abdollahi juga menegaskan bahwa langkah tersebut akan diambil apabila Amerika Serikat tetap melanjutkan blokade serta menciptakan ketidakamanan bagi kapal dagang dan tanker minyak milik Iran. Menurutnya, kondisi tersebut dapat dianggap sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sempat disepakati.
Di sisi lain, pemerintah Iran menyatakan masih membuka ruang untuk dialog damai. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa negaranya tidak menginginkan konflik bersenjata, melainkan solusi melalui jalur diplomasi yang adil.
“Apa pembenaran yang ada dengan menargetkan warga sipil, elit, anak-anak, dan menghancurkan pusat-pusat vital, termasuk sekolah dan rumah sakit, dalam kerangka hukum internasional dan prinsip-prinsip kemanusiaan?” tambah Pezeshkian.
Ketegangan ini bermula setelah terjadinya serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026, yang kemudian memicu respons Iran dengan membatasi akses pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Upaya meredakan konflik sempat dilakukan melalui gencatan senjata selama dua minggu, yang dilanjutkan dengan perundingan di Islamabad, Pakistan, pada 11 April 2026. Namun, negosiasi tersebut berakhir tanpa kesepakatan.
Baca juga: China Rilis Video Kesiapan Tempur Setelah Ancam AS yang Blokade Selat Hormuz, Sinyal Siap Perang
Iran disebut menolak membuka kembali Selat Hormuz serta menghentikan program pengayaan uranium yang menjadi salah satu tuntutan utama Amerika Serikat. Kondisi ini membuat hubungan kedua negara kembali memanas.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kemudian memerintahkan militernya untuk melakukan blokade terhadap Selat Hormuz sejak Senin (13/4/2026). Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran dengan membatasi akses perdagangan dan sumber pendapatan negara tersebut.
Blokade tersebut berlaku bagi kapal dari berbagai negara yang keluar masuk pelabuhan Iran, termasuk wilayah pesisir di Teluk Arab dan Teluk Oman. Situasi ini pun berpotensi berdampak luas terhadap stabilitas perdagangan global, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi terpenting di dunia.
Dengan kondisi yang semakin memanas, perhatian dunia kini tertuju pada langkah lanjutan kedua negara, apakah akan memilih jalur diplomasi atau justru memperbesar eskalasi konflik di kawasan tersebut. (Tribun Style/Tribunnews Bogor)
Sumber: Tribun Bogor
| Sosok Pham Nhat Vuong, Pemilik Bisnis Taksi Hijau Green SM, Masuk Jajaran Orang Terkaya di Vietnam |
|
|---|
| Sosok Menteri PPPA Arifah Fauzi, Viral Usul Gerbong Wanita Dipindah ke Tengah, Sempat Jadi Produser |
|
|---|
| Sosok Dirut KAI Bobby Rasyidin, Ekspresi Pilu Disorot Usai Insiden KA Bekasi, Belum Setahun Menjabat |
|
|---|
| Pilu Karyawan Kompas TV Jadi Korban Kecelakaan KA Bekasi, Sempat Hilang Kontak, Rekan Ikut Mencari |
|
|---|
| Sosok Ibu Muda Meninggal Tabrakan Kereta di Bekasi Setelah Cuti Melahirkan, Adik Ungkap Kondisi Bayi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/Foto-ilustrasi-Kapal-perusak-milik-AS-diusir-oleh-Iran-menjauh-dari-Selat-Hormuz.jpg)