Traveling
Warisan Tak Benda yang Menyatukan Keluarga, Mengenal Tradisi Adok Komering Sumatra Selatan
Mari mengenal warisan budaya tak benda Indonesia, Mengenal Tradisi Adok Komering Sumatra Selatan
Editor: Tim TribunStyle
Mari mengenal warisan budaya tak benda Indonesia, Mengenal Tradisi Adok Komering Sumatra Selatan
TRIBUNSTYLE.COM – Di tengah perkembangan zaman yang terus bergerak cepat, masyarakat adat Komering masih mempertahankan salah satu tradisi penting yang menjadi bagian dari identitas budaya mereka, yakni pemberian adok atau jajuluk kepada pasangan yang baru menikah.
Bagi masyarakat Komering, adok atau jajuluk bukan sekadar nama tambahan yang disematkan setelah akad nikah. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan, kasih sayang, sekaligus pengakuan resmi terhadap posisi seseorang dalam sistem kekerabatan adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Pemberian gelar adat tersebut dilakukan kepada mempelai perempuan dan laki-laki melalui proses musyawarah keluarga. Dalam pelaksanaannya, sejumlah anggota keluarga memiliki peran penting, mulai dari orang tua, paman dari garis ayah yang dikenal sebagai kemaman, paman dari garis ibu atau kelama, hingga para bibi yang disebut keminan.
Melalui musyawarah tersebut, keluarga besar menentukan gelar yang akan diberikan kepada kedua mempelai sebagai bagian dari struktur sosial dalam satu juriat atau garis keturunan keluarga.
Bukan Sekadar Gelar, tetapi Bentuk Penghargaan dan Doa
Dalam adat Komering, setiap gelar memiliki makna dan kedudukan tersendiri. Salah satunya adalah Penyansan yang termasuk dalam kategori nama tua dan memiliki posisi khusus dalam hierarki adat.
Pemberian gelar tersebut menjadi bentuk penghormatan sekaligus doa yang diberikan keluarga besar kepada anak kemenakan yang memasuki kehidupan baru setelah menikah. Tradisi ini juga menempatkan mempelai perempuan sebagai sosok yang mendapat perhatian khusus dalam rangkaian prosesi adat.
Selain pemberian gelar, keluarga juga biasanya menyerahkan benatok, yaitu pemberian berupa materi sebagai bekal kehidupan rumah tangga pasangan pengantin.
Bentuk benatok sangat beragam, mulai dari lemari, kursi, kasur, perlengkapan dapur, hingga berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya.
Bahkan, dalam beberapa keluarga, benatok dapat berupa hak hasil dari pohon buah-buahan warisan leluhur seperti duku, durian, rambutan, cempedak, dan mangga. Hasil panen dari pohon-pohon tersebut menjadi hak pasangan pengantin untuk dinikmati setiap musim panen.
Peran Besar Keluarga dalam Setiap Prosesi
Kekuatan tradisi adok dan jajuluk juga tercermin dari keterlibatan seluruh anggota keluarga dalam setiap tahapan pelaksanaannya.
Para kemaman memiliki tanggung jawab besar dalam mengatur dan memastikan seluruh rangkaian acara berjalan lancar, mulai dari tahap persiapan hingga selesainya resepsi pernikahan.
Tugas tersebut didukung oleh kelama serta anggota keluarga lainnya. Bahkan para perempuan muda atau milogh dan cucu perempuan juga turut berpartisipasi, tidak hanya dalam tenaga tetapi juga dukungan finansial.
Dalam sejumlah pelaksanaan adat, kontribusi keluarga besar dapat mencakup pembelian hewan ternak seperti sapi atau kerbau yang digunakan untuk kebutuhan acara pernikahan.
Simbol Identitas dan Solidaritas Masyarakat Komering
| Mau ke Jakarta Fair 2026 Tanpa Kendaraan Pribadi? Ini Panduan Lengkap Naik KRL dan TransJakarta |
|
|---|
| Spot Berburu Senja Estetik di Banten, Pantai Mandalika Anyer Jadi Pilihan Pas Buat yang Suka Foto! |
|
|---|
| Cari Kafe Instagramable di Cilegon, Banten yang Khas? Tempat Ini Bisa Jadi Pilihan Akhir Pekan |
|
|---|
| Jejak Kolonial Belanda di Serpong Tangsel, Dua Rumah Dinas Belanda Bertahan di Tengah Gempuran Zaman |
|
|---|
| Melihat Jakarta dari Ketinggian, Cara Seru Menikmati Long Weekend Tanpa Keluar Kota |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/ADOK-JAJULU-Tradisi-Nenek-Moyang-adat-Komering-di-OKU-Timur.jpg)