Breaking News:

Traveling

Desa Tempur, Permata Wisata Jepara yang Memadukan Alam, Budaya, dan Kuliner

Terletak di lereng Pegunungan Muria pada ketinggian antara 800 hingga 1.600 meter di atas permukaan laut, Tempur dijuluki "negeri diatas awan"

Tayang:
Editor: Tim TribunStyle
Kompas.com/(jadesta.kemenparekraf.go.id)
WISATA JEPARA - Obyek wisata di lereng Gunung Muria, tepatnya di Jepara, Jawa Tengah 

TRIBUNSTYLE.COM - Ketika berbicara tentang destinasi wisata unggulan di Kabupaten Jepara, banyak orang langsung teringat Karimunjawa dengan pesona laut dan pulau-pulaunya. Namun jauh di kawasan pegunungan Muria, terdapat sebuah desa yang menawarkan pengalaman wisata berbeda dengan kekayaan alam, budaya, sejarah, hingga kuliner yang berpadu dalam satu kawasan. Namanya Desa Tempur.

Terletak di lereng Pegunungan Muria pada ketinggian antara 800 hingga 1.600 meter di atas permukaan laut, Tempur kerap dijuluki sebagai "negeri di atas awan". Desa ini berada di kawasan pegunungan yang dikelilingi perbukitan hijau, hamparan perkebunan kopi, aliran sungai pegunungan, serta peninggalan sejarah yang masih terjaga hingga kini.

Dengan luas wilayah lebih dari 900 hektare dan sebagian besar berupa lahan pertanian, Tempur menawarkan lanskap alam yang membuat setiap sudutnya layak dijelajahi.

Menikmati Alam dari Ketinggian Muria

Keunggulan utama Desa Tempur terletak pada kekayaan alamnya yang masih terjaga. Wisatawan dapat menikmati berbagai titik pandang yang menyuguhkan panorama perbukitan Muria, hamparan sawah, aliran sungai, hingga perkampungan yang berada di lembah pegunungan.

Lokasi favoritnya adalah Bukit Bejagan di Dukuh Duplak yang menawarkan pemandangan alam dari ketinggian. Dari titik ini, pengunjung dapat menyaksikan bentangan perbukitan hijau yang mengelilingi kawasan Tempur. Selain itu terdapat sejumlah spot wisata alam lain seperti Kaldera Muria, kawasan persawahan Dukuh Petung, hingga berbagai titik pandang yang menghadirkan latar belakang puncak Gunung Muria.

Bagi pencinta aktivitas luar ruang, Tempur juga menawarkan wisata jeep, river tubing, jalur trekking menuju Puncak 29, hingga camping ground yang berada di tengah suasana pegunungan.

"Kami ada juga Camping Ground Kopi Tempur di Dukuh Glagah. Ada fasilitas tenda sewa, spot foto kedai kopi, pusat oleh-oleh, dan suasana sungai pegunungan. Peminatnya bahkan sudah ada dari berbagai kabupaten/kota lain, Demak, Rembang, Kudus Pati. Pernah juga ada wisatawan dari luar negeri yang datang setelah berlibur di Karimunjawa," terang Sekretaris Desa Tempur, Mahfud Aly.

Tradisi yang Tetap Hidup di Tengah Perubahan Zaman

Tak hanya menawarkan panorama alam, Tempur juga dikenal sebagai desa yang masih menjaga tradisi leluhur. Berbagai agenda budaya masih rutin dilaksanakan oleh masyarakat setempat sebagai bagian dari identitas desa, adalah Sedekah Bumi yang menjadi tradisi syukuran masyarakat pegunungan atas hasil bumi dan keberkahan yang diterima selama setahun.

Selain itu terdapat tradisi Wiwit Kopi yang menandai dimulainya masa panen kopi, serta Kirab Tumpeng yang digelar saat Lebaran Kupat sebagai simbol kebersamaan masyarakat. Tradisi-tradisi tersebut tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan warga, tetapi juga menarik perhatian wisatawan yang ingin mengenal budaya pegunungan Muria lebih dekat.

"Untuk tradisi budaya yang kami jalankan setiap tahun ada 3. Dan ini menjadi daya tarik wisata juga, karena kadang ketika tradisi ini digelar juga dihadiri masyarakat dari luar Desa Tempur. Ke depan kita konsep lebih tertata lagi dan lebih menarik lagi," ujar dia.

Kampung Toleransi di Lereng Muria

WISATA JEPARA - Pemandangan di Desa Tempur, Jepara, Jawa Tengah
WISATA JEPARA - Pemandangan di Desa Tempur, Jepara, Jawa Tengah (Tribun Jateng/SAIFUL MA'SUM)

Sisi unik Desa Tempur dapat ditemukan di Dukuh Pekosa. Di kawasan ini berdiri dua rumah ibadah yang saling berhadapan, yakni masjid dan gereja yang hanya dipisahkan jarak beberapa meter. Keberadaan dua bangunan tersebut menjadi simbol kerukunan masyarakat yang telah hidup berdampingan selama bertahun-tahun.

Kondisi ini menjadikan Dukuh Pekosa dikenal sebagai Kampung Toleransi, sekaligus menjadi salah satu daya tarik yang sering mengundang rasa penasaran pengunjung dari berbagai daerah.

"Cerita berdirinya dua bangunan masjid dan gereja saling berhadapan ini panjang. Dari semula masyarakat dukuh tersebut menganut kepercayaan kejawen, terus tumbuh agama Kristen disusul agama Islam. Bahkan saat ini sudah ada yang manganut agama Hindu, tapi belum punya tempat ibadah di Tempur," tuturnya.

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno

Desa Tempur juga menyimpan kekayaan sejarah yang masih bisa dijumpai hingga sekarang. Di kawasan Dukuh Duplak terdapat sejumlah situs peninggalan kuno seperti Candi Angin, Candi Bubrah, dan Candi Asuh yang menjadi bagian penting dalam sejarah kawasan Pegunungan Muria.

Selain candi, terdapat pula sejumlah petilasan dan punden yang hingga kini masih dihormati masyarakat sebagai bagian dari warisan budaya dan sejarah desa. Keberadaan situs-situs tersebut menjadikan Tempur menarik tidak hanya bagi pencinta alam, tetapi juga bagi wisatawan yang tertarik pada sejarah dan budaya lokal.

Belajar dari Kehidupan Desa

Halaman 1/2
Tags:
wisata alamPegunungandesaJeparaJawa Tengah
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved