Breaking News:

berita viral

Harga Minyak Dunia Terancam, Iran Tutup Pintu Selat Hormuz Selama Armada AS Masih Mengepung

Pemerintah Iran tegas menyatakan tidak akan membuka akses Selat Hormuz selama pengepungan laut yang dipimpin Amerika Serikat belum dicabut

Editor: Sinta Darmastri
Kompas.com/Tasnim News
SELAT HORMUZ MEMANAS - Pemerintah Iran tegas menyatakan tidak akan membuka akses Selat Hormuz selama pengepungan laut yang dipimpin Amerika Serikat belum dicabut 
Ringkasan Berita:
  • Pemerintah Iran tegas menyatakan tidak akan membuka akses Selat Hormuz selama pengepungan laut yang dipimpin Amerika Serikat belum dicabut
  • Sikap keras ini muncul di tengah situasi kawasan yang kian rapuh
  • Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan AS yang dinilai kontradiktif

 

TRIBUNSTYLE.COM - Ketegangan di urat nadi perdagangan minyak dunia kembali memanas. Pemerintah Iran secara tegas menyatakan tidak akan membuka akses Selat Hormuz selama pengepungan laut yang dipimpin Amerika Serikat (AS) belum dicabut. Sikap keras ini muncul di tengah situasi kawasan yang kian rapuh, menyusul insiden penyitaan dua kapal komersial di jalur strategis tersebut.

Ironisnya, eskalasi ini terjadi tepat setelah Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal jeda melalui perpanjangan gencatan senjata. Langkah Washington tersebut awalnya dimaksudkan untuk memberi ruang bagi negosiasi damai yang dimediasi oleh Pakistan. Meski menyambut baik niat mediasi pada Rabu (22/4/2026), Teheran tampaknya belum puas dengan manuver politik Trump.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang memimpin delegasi perundingan awal, melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan AS yang dinilai kontradiktif. Menurutnya, kesepakatan damai tidak akan berarti apa-apa jika tekanan militer tetap mencekik ekonomi negaranya.

“Gencatan senjata hanya bermakna jika tidak dilanggar melalui blokade laut. Membuka kembali Selat Hormuz tidak mungkin dilakukan di tengah pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata,” ujarnya, sebagaimana dilansir BBC.

Baca juga: Kronologi Iran Sita Kapal di Tengah Gantungnya Nasib Damai dengan AS, Berbendera Liberia dan Panama!

Dampak Ekonomi dan Ketidakpastian Global

Dunia mulai merasakan imbas dari kebuntuan ini. Harga minyak mentah global terus merangkak naik sejak serangan gabungan AS dan Israel ke wilayah Iran pada akhir Februari lalu. Meskipun bursa saham di Amerika menunjukkan tren positif, ketidakpastian di Timur Tengah menjadi "bom waktu" bagi stabilitas energi dunia.

Di sisi lain, Presiden Trump menilai kepemimpinan di Teheran saat ini sedang mengalami keretakan internal. Ia sengaja memberikan waktu agar pihak Iran bisa merumuskan proposal perdamaian yang lebih konkret. Trump juga sempat mengisyaratkan bahwa dialog lanjutan di Pakistan kemungkinan digelar dalam hitungan hari. Namun, hingga kini, Iran masih bungkam terkait partisipasi mereka, sementara agenda kunjungan Wapres AS JD Vance ke Islamabad justru tertunda.

Aksi Balasan di Laut: Penyitaan dan Blokade

Garda Revolusi Iran (IRGC) tidak tinggal diam. Melalui laporan kantor berita Tasnim, mereka mengonfirmasi telah mengamankan dua kapal, yakni MSC Francesca (Panama) dan Epaminondas (Liberia), karena dituduh melanggar regulasi maritim. Langkah ini langsung menuai kecaman dari Pemerintah Panama yang menyebutnya sebagai ancaman serius bagi keamanan pelayaran internasional.

Tak hanya penyitaan, laporan di lapangan menunjukkan adanya serangan fisik. Sebuah kapal dagang dilaporkan mengalami kerusakan di bagian anjungan setelah ditembaki oleh kapal cepat Garda Revolusi di lepas pantai Oman.

Sementara itu, militer AS tetap memperketat cengkeramannya. Komando Pusat AS (Centcom) mengungkapkan bahwa blokade ini bertujuan menekan ekonomi Iran tanpa memicu perang terbuka secara penuh.

"Operasi blokade pelabuhan Iran melibatkan lebih dari 10.000 tentara AS, 17 kapal perang, dan lebih dari 100 pesawat," kata CENTCOM.

Sejauh ini, Centcom mengeklaim telah memaksa 31 kapal, yang mayoritas adalah tanker minyak, untuk memutar balik atau kembali ke dermaga karena mencoba menembus zona blokade.

Baca juga: Iran Tetap Pasang Badan Meski Trump Ulurkan Gencatan Senjata: Pasukan Siaga Penuh

Ketegangan yang Meluas hingga Lebanon

Efek domino konflik ini juga merembet ke Lebanon. Walaupun kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah telah diumumkan, desing peluru dan ledakan belum sepenuhnya hilang. Serangan terbaru Israel di wilayah perbatasan dilaporkan menewaskan lima orang, termasuk jurnalis Amal Khalil.

Kabar duka juga datang dari pasukan perdamaian PBB, di mana Presiden Perancis Emmanuel Macron mengonfirmasi wafatnya seorang prajurit Perancis akibat luka serangan di Lebanon. Di tengah duka dan ketegangan ini, delegasi Lebanon dijadwalkan terbang ke Washington untuk menuntut perpanjangan gencatan senjata selama sebulan demi menghentikan pertumpahan darah yang lebih luas.

(TribunStyle.com/Diolah dari artikel di Kompas.com)

Sumber: TribunStyle.com
Tags:
IranAmerika SerikatSelat Hormuzminyak
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved