Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ma'rufiyyah sekaligus saksi, Syaiful Amar mengatakan, proses pengislaman Pavel berjalan lancar.
Berkat arahannya, Pavel yang tak fasih berbahasa Arab, akhirnya mampu mengucap syahadat meski terbata-bata.
"Awalnya saya tanya dia agama Kristen. Saat mengucap syahadat, dia sedikit grogi.
Harus dipandu 2 kali sebelum syahadat. Dibimbing Abah saya, K.H Abbas Masrukhin," kata dia ditemui di Pondok Pesantren Al-Ma'rufiyyah, Senin (14/8/2023) malam.
Syaiful menambahkan, pihaknya juga langsung menyalurkan zakat kepada Pavel sebagai bentuk kewajiban.
"Kalau orang sudah masuk islam kan terus kita kasih zakat semampu kita. Sebagai bentuk welcome kepada umat muslim," ujarnya.
Meski begitu, Pavel tak perlu mengganti namanya usai memutuskan masuk islam.
Hal itu, menurut Syaiful bukanlah kewajiban.
"Itu bukan kewajiban," jelas Syaiful.
Fenomena bule yang masuk islam lewat bimbingan di Pondok Pesantren Al-Ma'rufiyyah bukanlah kali pertama.
Sebelumnya, ada dua bule lain yang mengucap syahadat di ponpes tersebut melalui jalinan asmara.
Menurut Syaiful, fenomena bule masuk islam karena asmara lumrah terjadi di Indonesia.
"Kalau kita lihat fenomena ini banyak terjadi," imbuhnya.
Namun, usai resmi masuk islam, Pavel tidak langsung pulang ke negaranya.
Ia memiliki jatah Visa selama 21 hari di Indonesia.
"Kemarin tak tanyain di Indonesia sampai 21 hari," ujar Syaiful.
(Tribunlampung.co.id / Putri Salamah)
Diolah dari artikel TribunLampung.com