2. Dalam kasus kematian (yang katanya) korban cvd, keluarga saja tidak boleh menemui. Ini seorang Fotografer, malah boleh. Kalau kamu merasa ini tidak aneh, artinya mungkin saya yang aneh.
Saya percaya cvd itu ada. Tapi saya tidak percaya bahwa cvd semengerikan itu. Yang mengerikan adalah hancurnya hajat hidup masyarakat kecil.
EDIT : saya menulis cvd karena malas menulis covid," tulis Anji melalui captionnya.
Pendapatnya tersebut kemudian menuai banyak kritikan dari berbagai pihak, terutama dari Organisasi Pewarta Foto Indonesia (PFI).
PFI bahkan mengeluarkan surat pernyataan yang isinya mengecam keras dan serius terhadap unggahan Anji tersebut.
Salah satu dari beberapa poin yang disampaikan PFI terkait unggahan Anji yakni desakan untuk menghapus unggahannya tersebut dari Instagram.
Selain itu, PFI juga mendesak Anji untuk meminta maaf secara terbuka serta tidak membandingkan kerja jurnalistik pewarta foto dengan buzzer, influencer ataupun YouTuber.
Terkait desakan dari PFi, Anji kemudian menjawab surat pernyataan tersebut melalui unggahan di akun Instagram pribadinya.
Dalam unggahan itu, musisi ini menyampaikan bahwa ia sebelumnya telah berkomunikasi dengan Sekjen PFI untuk menjelaskan perihal unggahan sebelumnya.
Anji tidak bermaksud mendiskreditkan profesi pewarta foto maupun Jurnalis.
"Caption di Instagram adalah opini saya dari sudut penyebaran informasi yang terasa janggal, buat saya," tulis Anji.
Lebih lanjut, Anji menjelaskan bahwa ia lebih menyoroti penyebaran informasi terkait foto karya Joshua Irwandi yang menurutnya banyak kejanggalan.
"Yang saya bahas dengan KOL (Key Opinion Leader) adalah pola penyebaran informasi, bukan tujuan Joshua mengambil foto itu," jelas Anji.
Selanjutnya, mantan vokalis band Drive juga menjelaskan poin kedua dalam pernyataannya adalah menyangkut kepada koge etik dunia kesehatan.
"Disini pertanyaan saya menyangkut kepada kode etik dunia kesehatan, bukan kode etik jurnalisme.