Meski memiliki suhu tubuh normal, Isis justru dianjurkan untuk menjalani rapid test.
Sedangkan, Erica diizinkan pulang.
Lalu, sang ayah, Tony berniat untuk menemani putrinya ke tempat karantina.
Sementara itu, alat tes sendiri disebut baru akan tersedia setelah Hari Raya Nyepi.
Tony pun membawa anaknya pulang untuk melakukan pemeriksaan langsung ke dokter.
Setelah pemeriksaan, Isis dinyatakan sehat dan mendapat sertifikat kesehatan.
Namun, rumah Tony didatangi banyak orang pada malam harinya.
Orang-orang tersebut memaksa mereka untuk kembali ke karantina.
Nana Mirdad pun mengaku prihatin mengetahui mereka diperlakukan seperti itu.
"Darimana saya tahu kronologis ini ? Karena Tony sekeluarga adalah teman dekat saya dan Andrew. Saya sangat prihatin melihat mereka diperlakukan seperti ini dan diberitakan seakan2 mereka pasien yang melarikan diri dan pantas diasingkan masyarakat,"
Kakak Naysilla Mirdad itu juga melayangkan kritikan terhadap tindakan yang dilakukan petugas bandara dan kesehatan.
"Kenapa kita melakukan pengambilan turis yang datang secara acak di bandara ? kenapa 40 penumpang lainnya tidak dikarantina dan tidak semua dicek temperatur di bandara namun anak perempuan yang tidak menunjukkan gejala ini diambil dan dibawa ke karantina pada saat nyepi untuk ditahan sampai alat test datang ?"
Tak sampai di situ saja, Nana Mirdad pun menyuruh masyarakat untuk berhenti menghubungi mereka.
Pasalnya, Tony dan anaknya disebut kerap dihubungi nomor tak dikenal setelah kabar yang beredar.
"Please stop hubungi mereka melalui WhatsApp, SMS, dan juga telfon ke no pribadi mereka yang disebar di internet guys. Apalagi sampai menghujat atau mengata-ngatai mereka," ungkapnya.
Sementara itu, petugas bandara dan kesehatan di Bali diketahui belum memberikan klarifikasi terkait hal ini. (TribunStyle.com/Febriana/Tiara Susma)