Insinyur Mengungkapkan Bahaya Obsesi dengan STEM: Dampaknya pada Masyarakat Kita
Obsesi dengan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) bisa mengabaikan pentingnya nilai humaniora, mengurangi kreativitas, dan memperburu
Editor: Tim TribunStyle
TRIBUNSYTLE.COM - Dalam memilih mata pelajaran yang harus dipelajari, seringkali ada prioritas tertentu yang lebih diutamakan dibandingkan yang lain.
Contohnya adalah jurusan Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM), yang sangat populer saat ini.
Banyak yang menganggap jurusan ini sangat menjanjikan karena berkembang pesatnya industri teknologi dan banyaknya peluang kerja yang tersedia.
Namun, sayangnya, bidang ini sering dianggap lebih penting dibandingkan dengan seni, yang dianggap sebagai hal sekunder atau bahkan mewah bagi mereka yang fokus pada STEM.
Hal ini berakar pada gerakan anti-intelektual yang cenderung menyepelekan bidang selain STEM.
Alyssa Bigbee, seorang aerialist dan terapis tari, mengungkapkan di media sosial tentang bagaimana fokus berlebihan pada STEM telah mendorong gerakan anti-intelektual.
Dia menekankan bahwa ketika kita lebih banyak berinvestasi dalam program STEM dan mengurangi perhatian pada mata pelajaran seperti sejarah, sastra, atau seni, yang terjadi adalah munculnya individu yang bisa mengolah data, namun tidak tahu bagaimana cara menerapkannya dengan bijak.
Bigbee juga menyoroti bagaimana hal ini berujung pada berkurangnya keterampilan penting, seperti kemampuan berpikir kritis.
Banyak orang muda yang kini kurang memahami sejarah dan pola-pola yang ada di dalamnya, bahkan terjebak dalam kesalahan yang sama seperti generasi sebelumnya.
Salah satu komentar dari seorang profesional di bidang bioteknologi menambahkan bahwa ia baru bisa menulis dengan baik setelah mengikuti kelas humaniora yang mengajarkannya tentang struktur penulisan.
Ketika pendidikan humaniora diabaikan, keterampilan berpikir kritis pun jadi terpinggirkan.
Memahami mana yang benar dan mana yang salah membutuhkan kemampuan yang tidak bisa didapatkan begitu saja, terutama jika tidak ada usaha untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda.
Sayangnya, banyak orang di bidang STEM yang tidak meluangkan waktu untuk mempelajari hal ini.
Seorang insinyur biomedis bernama Savannah setuju dengan pandangan Bigbee, mengungkapkan bahwa di kalangan mereka yang bekerja di STEM, keterampilan sosial sering kali terabaikan.
Ia pun menceritakan pengalaman pribadi saat meminta umpan balik dari profesor di sekolah pascasarjana, yang justru menyarankan agar ia meninggalkan kelas karena dianggap tidak mampu memahami materi tersebut.
| Jajanan Kaki Lima Hidden Gem di Solo, Cobain Bakso Kojek di Depan Pasar Ledoksari, Antri Sejak Pagi |
|
|---|
| Kuliner Hidden Gem, Cobain Ayam Panggang Klaten Bu Kas, Lokasi di Pasar Gede Solo, Rasanya Gurih |
|
|---|
| Cicipi Lezatnya Tengkleng Bu Jito Dlidir, Kuah Rempah Kaya Khas Solo, Bikin Lidah Bergoyang |
|
|---|
| Kisah Kelam Banjir Besar di Solo Tahun 1966: Kota Lumpuh, Ribuan Warga Mengungsi, Air Capai 4 Meter |
|
|---|
| Legenda Mengharukan di Balik Asal Usul Sungai Bengawan Solo, dari Tangisan Ibu yang Kehilangan Anak |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/kemajuan-tekonoligi-pada-pembelajaran.jpg)