Breaking News:

Insinyur Mengungkapkan Bahaya Obsesi dengan STEM: Dampaknya pada Masyarakat Kita

Obsesi dengan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) bisa mengabaikan pentingnya nilai humaniora, mengurangi kreativitas, dan memperburu

Editor: Tim TribunStyle
Studio LightField | Shutterstock
KEMAJUAN TEKONOLOGI PADA PEMBELAJARAN - Obsesi dengan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) bisa mengabaikan pentingnya nilai humaniora, mengurangi kreativitas, dan memperburuk kesenjangan sosial, kata insinyur. 

TRIBUNSYTLE.COM - Dalam memilih mata pelajaran yang harus dipelajari, seringkali ada prioritas tertentu yang lebih diutamakan dibandingkan yang lain.

Contohnya adalah jurusan Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM), yang sangat populer saat ini.

lihat fotoPEMBELAJARAN STEM PADA MASYARAKAT - Obsesi dengan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) bisa mengabaikan pentingnya nilai humaniora, mengurangi kreativitas, dan memperburuk kesenjangan sosial, kata insinyur.
PEMBELAJARAN STEM PADA MASYARAKAT - Obsesi dengan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) bisa mengabaikan pentingnya nilai humaniora, mengurangi kreativitas, dan memperburuk kesenjangan sosial, kata insinyur.

Banyak yang menganggap jurusan ini sangat menjanjikan karena berkembang pesatnya industri teknologi dan banyaknya peluang kerja yang tersedia.

Namun, sayangnya, bidang ini sering dianggap lebih penting dibandingkan dengan seni, yang dianggap sebagai hal sekunder atau bahkan mewah bagi mereka yang fokus pada STEM.

Hal ini berakar pada gerakan anti-intelektual yang cenderung menyepelekan bidang selain STEM.

Alyssa Bigbee, seorang aerialist dan terapis tari, mengungkapkan di media sosial tentang bagaimana fokus berlebihan pada STEM telah mendorong gerakan anti-intelektual.

Dia menekankan bahwa ketika kita lebih banyak berinvestasi dalam program STEM dan mengurangi perhatian pada mata pelajaran seperti sejarah, sastra, atau seni, yang terjadi adalah munculnya individu yang bisa mengolah data, namun tidak tahu bagaimana cara menerapkannya dengan bijak.

Bigbee juga menyoroti bagaimana hal ini berujung pada berkurangnya keterampilan penting, seperti kemampuan berpikir kritis.

lihat fotoDAMPAK PEMBELAJARAN PADA MASYARAKAT - Obsesi dengan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) bisa mengabaikan pentingnya nilai humaniora, mengurangi kreativitas, dan memperburuk kesenjangan sosial, kata insinyur.
DAMPAK PEMBELAJARAN PADA MASYARAKAT - Obsesi dengan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) bisa mengabaikan pentingnya nilai humaniora, mengurangi kreativitas, dan memperburuk kesenjangan sosial, kata insinyur.

Banyak orang muda yang kini kurang memahami sejarah dan pola-pola yang ada di dalamnya, bahkan terjebak dalam kesalahan yang sama seperti generasi sebelumnya.

Salah satu komentar dari seorang profesional di bidang bioteknologi menambahkan bahwa ia baru bisa menulis dengan baik setelah mengikuti kelas humaniora yang mengajarkannya tentang struktur penulisan.

Ketika pendidikan humaniora diabaikan, keterampilan berpikir kritis pun jadi terpinggirkan.

Memahami mana yang benar dan mana yang salah membutuhkan kemampuan yang tidak bisa didapatkan begitu saja, terutama jika tidak ada usaha untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda.

Sayangnya, banyak orang di bidang STEM yang tidak meluangkan waktu untuk mempelajari hal ini.

Seorang insinyur biomedis bernama Savannah setuju dengan pandangan Bigbee, mengungkapkan bahwa di kalangan mereka yang bekerja di STEM, keterampilan sosial sering kali terabaikan.

Ia pun menceritakan pengalaman pribadi saat meminta umpan balik dari profesor di sekolah pascasarjana, yang justru menyarankan agar ia meninggalkan kelas karena dianggap tidak mampu memahami materi tersebut.

Halaman 1/2
Tags:
Corey Binnsmata pelajaranAlyssa Bigbee
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved