Breaking News:

Berita Viral

GBK Pernah Jadi Arena Pertarungan Manusia Vs Singa, Bandot Lahardo Tampil, Ditonton 100.000 Orang!

Bandot Lahardo, seorang pegulat dan pemain sirkus yang sudah berpengalaman berduel dengan seekor singa di Stadion Utama GBK pada 1968.

Editor: Amirul Muttaqin
Taronga Conservation Society
Singa di kebun binatang Taronga Zoo, Sydney, Australia. Ilustrasi singa. 

Menurut Isnaini, pertandingan yang diadakan di Stadion Utama GBK tersebut disaksikan sekitar 100.000 penonton.

Namun, penonton harus menelan kekecewaan karena laga antara petarung manusia dan raja hutan itu tidak sesuai ekspektasi.

Merujuk ulasan pada 1972, Isnaini mengatakan, panitia sempat menyiapkan harimau, tetapi terpaksa ditembak mati.

Pasalnya, saat itu, harimau nekat menerobos kerangkeng, bahkan sebelum hari pertarungan tiba. Kemudian, si harimau digantikan oleh singa.

Menilik klip video Reuters yang tersimpan dalam laman British Pathe, berbagai upaya provokasi terhadap singa telah dilakukan Bandot Lahardo dengan bantuan panitia.

Kendati demikian, singa tetap tidak terpancing amarah, seolah menolak memberikan tontonan menarik untuk ratusan ribu orang yang memenuhi stadion.

"Karena singa tidak terpancing kemarahannya, sehingga hanya lari-lari keliling arena tidak ada pertarungan sama sekali," ungkap Isnaini.

Reuters menuliskan, Bandot Lahardo yang saat berusia 38 tahun adalah gladiator terbaik di Indonesia.

Sebelum menghadapi singa, Bandot pernah bertarung dengan seekor harimau dan dua banteng di Jawa Timur.

Meski hanya bermodalkan tangan kosong, sosoknya berhasil mengalahkan bahkan membunuh hewan-hewan tersebut.

"Bandot dengan sabar menunggu singa menyerang, tapi si singa jauh lebih sabar. Ketika Bandot maju, singa pergi," tulis Reuters.

Baca juga: Jauh Sebelum Terkenal, Artis Ini Pernah Bekerja Sebagai Penjinak Singa di Sirkus: Aku Suka Kucing

Pertarungan sejenis sudah ada sejak dulu

Isnaini menjelaskan, pertarungan antara manusia dan binatang sebenarnya sudah ada sejak dulu, terutama pada masa kerajaan.

"Peristiwa Bandot itu sama dengan Tradisi Rampogan di Surakarta yang digelar di Alun-alun Utara Keraton," tuturnya.

Pertunjukkan yang disebut brutal itu dulunya merupakan adu banteng dan harimau. Namun, obyek pertarungan diubah menjadi manusia dan harimau.

"Manusia yang diadu adalah narapidana yang di tubuhnya diberi olesan kunir yang dinamakan 'borrih', dari asal kata boreh," terang Isnaini.

Tak ada lagi, Tradisi Rampogan terakhir kali digelar pada 1930 oleh Pakubuwana X (PB X).

(KOMPAS.com/ Diva Lufiana Putri)

Diolah dari artikel di KOMPAS.com

Baca artikel lainnya terkait berita viral

Sumber: Kompas.com
Tags:
singaGBKGelora Bung KarnoBandot Lahardo
Berita Terkait
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved