Berita Viral
VIRAL Curhatan Dokter Muda Sering Dibully Senior, Kena Maki Telat Balas WA, Pilih Resign: 'Parah!'
Dokter muda viral buntut curhatannya dibully senior. Sering dimaki telat balas WhatsApp hingga alami pelecehan verbal, kini pilih resign.
Editor: Putri Asti
"Sebelum diterima pun sudah sering dihukum hanya karena masalah sepele, seperti telat balas chat, atau typo satu huruf di chat aja sudah bisa jadi alasan kakak kelas untuk menghukum saya," ujarnya.
Ia dan teman-temannya, lanjut dia, didoktrin tentang senioritas yang harus menurut dengan senior, baik residen senior maupun dokter spesialis.
"Haram hukumnya kalau kami menolak perintah atau keinginan dari kakak kelas dan dosen," kata dia.
Baca juga: VIRAL Dokter Muda Emosi dengan Seorang Ibu Karena Diklakson saat Parkir, Ini Sanksi yang Didapat
Perintah senior itu, kata dia, di antaranya meminta dibelikan makanan mahal, rokok, alat tulis, dan obat-obatan. Ia menyebut, permintaan atau perintah itu juga tidak kenal waktu.
"Bahkan perintah kakak kelas juga tidak kenal waktu pak, bisa saja jam 12 malam kita disuruh belikan apa dan harus antar ke rumah sakit, jam 2 pagi belikan apa datang ke rumah sakit, atau jaga di bangsal padahal bukan jadwal kami," terangnya kepada Menkes Budi.
Semua pekerjaan itu, imbuhnya, tidak mempertimbangkan jam istirahat jam tidur, meski para dokter residen itu baru selesai berjaga 24 jam.
Ia mengaku sering dikumpulkan dengan teman-teman seangkatannya untuk mengikuti kegiatan malam di mana mereka akan dihukum dan dimaki.
"Kami juga menerima kekerasan fisik, psikologis, di mana setiap hari itu kami sering banget dapat pelecehan verbal," lanjut dia.
Karena tak kuat dengan kultur PPDS tersebut, ia mengaku memutuskan untuk mengundurkan diri.
"Akhirnya saya memutuskan keluar PPDS karena kesehatan fisik dan mental saya terganggu, bahkan saya juga rutin konseling sama psikolog dan psikiater karena PTSD, gangguan depresi dan gangguan cemas," jelasnya.
Ia pun mengusulkan perubahan sistem pendidikan dokter spesialis kepada menteri yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri BUMN pada 2019 itu. Menurut dia, sistem pendidikan dokter spesialis tidak perlu mengikuti sistem pendidikan militer.
"Jadi perlu ada perubahan, perbaikan sistem kedokteran, supaya lebih terbuka, transparan dan objektif, dan tidak ada diskriminasi antara junior dan senior, maupun diskriminasi suku, ras, agama, dan gender," jelasnya.
Ia mendesak pemerintah, melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes), untuk membuat program antibullying di PPDS. Sebab, menurut dia, banyak calon dokter sepesialis yang memutuskan berhenti akibat tak kuat dengan praktik tersebut.
"Karena bullying ini juga menyebabkan banyak sekali residen yang tidak kuat dan drop-out," jelasnya.
Senada, dokter Alvin Saputra yang menjadi pemandu diskusi ini juga membenarkan peristiwa perundungan di PPDS.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/viral-dokter-muda-alami-bullying-oleh-senior-pilih-resign-kini-ngadu-ke-menteri-kesehatan.jpg)