Breaking News:

Selain Glock 17, Brigadir J Ditembak dengan Pistol Luger, Kamaruddin Curiga Pemiliknya Sosok Ini

Kamaruddin Simanjuntak soroti pistol antik Luger yang digunakan untuk tembak Brigadir J, dia curiga dengan sosok ini, masih dari keluarga Ferdy Sambo?

YouTube Polri TV
Selain menggunakan pistol Glock 17, Brigadir J juga ditembak dengan pistol antik Luger. 

TRIBUNSTYLE.COM - Selain menggunakan senjata api jenis Glock 17 dan HS 9, Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J diduga juga ditembak menggunakan senjata api jenis Luger.

Penemuan amunisi dari senjata api antik jenis Luger ini berdasarkan uji balistik dan autopsi pada tubuh Brigadir J.

Kuasa hukum keluarga Brigadir J, Kamaruddin Simanjuntak menyebut tak sembarangan orang yang bisa menggunakan senjata api jenis Luger tersebut.

Lantas, siapakah pemilik senjata tersebut?

Baca juga: Bukan Putri Candrawathi, Terungkap Penembak Terakhir Brigadir J, Bharada E Beri Kesaksian

Kamaruddin Simanjuntak menduga kuat pemilik senjata api Luger adalah keluarga dari Ferdy Sambo.

Sebab pistol Luger adalah pistol antik buatan Jerman yang hanya mungkin dimiliki oleh orang yang cukup lama berkecimpung di persenjataan.

Hal tersebut disampaikan Kamaruddin Simanjuntak dalam keterangannya di Sapa Indonesia Pagi KOMPAS TV, pada baru-baru ini.

“Jadi orang-orang yang punya koleksi senjata seperti itu adalah orang yang berlatar belakang bahwa dia sejak dulu sudah menguasai persenjataan,” kata Kamaruddin Simanjuntak dikutip TribunStyle.com, Jumat, (16/9/2022).

“Siapa yang sejak dulu sudah menguasai persenjataan yaitu adalah ayahnya Ferdy Sambo, (Ayahnya) Ferdy Sambo itu kan, pensiun terakhir kan adalah mayor jenderal, jadi kemungkinan besar dia bisa mengkoleksi senjata-senjata kuno, era-era 1800 sampai 1990.”

Maka itu, lanjut Kamaruddin, untuk menuntaskan kerumitan pembunuhan berencana Brigadir J perlu dilibatkan TNI dan PPATK.

“Karena bagaimana pun suka atau tidak mendengarnya, bukan saya memuja-muja angkatan atau TNI.

Mereka itu terkenal disiplin dan sportif, kucing aja ditembak oleh jenderal hukumnya tegas, apalagi manusia,” ujar Kamaruddin.

“Beda sama polisi yang suka merekayasa kejadian, artinya tidak semua polisi, sebagian kecil saja.

Tetapi yang suka merekayasa ini kan dia berada di posisi puncak semua karena sudah biasa menjilat ke istana, menjilat ke kementerian.”

Halaman
1234
Sumber: Warta Kota
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved