Breaking News:

Sejarah 2 Juni, Hari Kelahiran Tan Malaka, Bapak Republik Indonesia yang 'Terlupakan'

Mengenang sosok Tan Malaka, pahlawan nasional yang terlupakan, simak sekelumit kisah hidupnya.

Penulis: Gigih Panggayuh Utomo
Editor: Triroessita Intan Pertiwi
Kolase TribunStyle
Mengenang Tan Malaka lahir 2 Juni. 

TRIBUNSTYLE.COM - Mengenang sosok Tan Malaka, pahlawan nasional yang terlupakan, simak sekelumit kisah hidupnya.

Tanggal 2 Juni merupakan hari kelahiran sosok pejuang kemerdekaan dan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia, Tan Malaka.

Mungkin tak banyak yang mengenalnya, karena sosoknya seolah-olah terlupakan.

Padahal, Tan Malaka merupakan salah satu Pahlawan Nasional.

Itu berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno, 28 Maret 1963.

Mari mengenal sosok pahlawan yang berjuluk Bapak Republik Indonesia ini.

Baca juga: Mengenang Dua Tahun Kepergian Didi Kempot, Intip 7 Tempat Wisata yang Jadi Inspirasi Lagu-Lagunya

Baca juga: Apa Perbedaan Hari Lahir Pancasila 1 Juni dan Hari Kesaktian Pancasila? Ini Kata Sejarah

Tan Malaka, Pahlawan Nasional Indonesia.
Tan Malaka, Pahlawan Nasional Indonesia. (Istimewa)

Profil Tan Malaka

Nama asli Tan Malaka adalah Ibrahim, lengkapnya Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka.

Ia kemudian dikenal baik sebagai seorang anak dan orang dewasa sebagai Tan Malaka, sebuah nama kehormatan dan semi-bangsawan.

Tan Malaka mewarisi gelar itu dari latar belakang bangsawan ibunya.

Ia lahir di Lima Puluh Kota, Sumatra Barat, pada 2 Juni 1897.

Ayahnya bernama HM Rasad, seorang karyawan pertanian.

Sementara ibunya, Rangkayi Sinah, putri orang yang disegani di desa.

Desa tempat Tan Malaka lahir bernama Nagari Pandam Gadang, Suliki (kini termasuk Gunuang Omeh), Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat.

Semasa kecil, Tan Malaka mempelajari pencak silat dan ilmu agama.

Profil Tan Malaka, Bapak Republik Indonesia.
Profil Tan Malaka, Bapak Republik Indonesia. (Intisari)

Mengenyam Pendidikan di Belanda

Pada 1913, Tan Malaka meninggalkan desanya untuk belajar di Rijkskweekschool (sekolah pendidikan guru pemerintah), Belanda.

Ia dapat pergi dengan bantuan dana oleh para engku dari desanya.

Selama kuliah, pengetahuannya tentang revolusi mulai muncul dan meningkat setelah membaca buku de Fransche Revolutie.

Setelah Revolusi Rusia pada Oktober 1917, ia mulai tertarik mempelajari paham Sosialisme dan Komunisme.

Tan Malaka lulus pada November 1919, dan menerima ijazah hulpactie.

Sepulangnya ke kampung halaman, Tan Malaka mengajar anak-anak kuli di perkebunan teh di Deli, Sumatera Utara.

Ia mulai mengajar anak-anak itu berbahasa Melayu pada Januari 1920.

Selain mengajar, Tan Malaka juga menulis beberapa propaganda untuk para kuli, dikenal sebagai Deli Spoor.

Mengenang Tan Malaka yang meninggal 21 Februari 1949 di eksekusi mati tentara Indonesia.
Mengenang Tan Malaka yang meninggal 21 Februari 1949 di eksekusi mati tentara Indonesia. (Kolase Instagram @infotanmalaka, Wikimedia Commons)

Bapak Republik Indonesia

Tan Malaka sempat menuliskan buku bertajuk Naar de Republiek Indonesia.

Isinya tentang konsep bangsa Indonesia dan perjuangan kemerdekaan Hindia Belanda dari kolonialisme.

Karena itulah, ia disebut sebagai Bapak Republik Indonesia.

Madilog dan Gerpolek, keduanya acapkali dianggap merupakan karya penting dari Tan Malaka.

Semua karya Tan Malaka dan permasalahannya dilatarbelakangi oleh kondisi Indonesia pada masa itu.

Semasa hidupnya, Tan Malaka kerap menjadi buronan Belanda.

Oleh sebab itu, keberadaannya sangat misterius, dan kerap menyamar guna menyembunyikan identitas.

Keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno, 28 Maret 1963, menetapkan Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional.

Makam Tan Malaka.
Makam Tan Malaka. (Kompas.com/M. Agus Fauzul Hakim)

Meninggal di Moncong Senjata Tentara Indonesia

Tan Malaka sempat bersaing memperebutkan kekuasaan dengan Presiden Soekarno.

Akan tetapi, Soekarno berhasil mengunggulinya dengan membawa Soetan Sjahrir sebagai perdana menteri.

Karena itu ia dijebloskan ke dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun.

Tan Malaka meninggal di Kediri, Jawa Timur, pada 21 Februari 1949.

Seorang sejarawan Belanda, Harry A Poeze, menyebut Tan Malaka tewas karena ditembak mati.

Pada 21 Februari 1949, Tan Malaka dieksekusi mati oleh pasukan TNI di bawah pimpinan Letnan II Soekotjo.

Pada 21 Februari 2017, jenazah Tan Malaka secara simbolis dipindahkan dari Kediri ke Sumatera Barat.

(TribunStyle.com/Gigih Panggayuh)

Baca artikel sejarah lainnya di sini

Sumber: TribunStyle.com
Tags:
Tan MalakaIndonesia
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved