Berita Terpopuler
POPULER Mengenang 100 Tahun Soeharto, Intip 8 Potret Transformasi Presiden ke-2 RI dari Masa Muda
Mengenang 100 tahun Soeharto, intip 8 potret transformasi Presiden RI ke-2 dari masa muda hingga penghujung kepemimpinannya.
Penulis: Amirul Muttaqin
Editor: Suli Hanna
Reporter: Amirul Muttaqin
TRIBUNSTYLE.COM - Mengenang 100 tahun Soeharto, intip 8 potret transformasi Presiden RI ke-2 dari Masa Muda hingga penghujung kepemimpinannya.
Tanggal 8 Juni merupakan hari lahir dari Presiden RI ke-2, Soeharto.
Di hari spesial Bapak Pembangunan Indonesia ini, Tribun Style telah menyiapkan sederet potret transformasinya.
Dikutip dari berbagai sumber, inilah deretan potret transformasi Soeharto selengkapnya.
Baca juga: Mengenang Kelahiran Soekarno, Berikut Deretan Potret Transformasi Presiden Pertama Indonesia
Baca juga: ADA Soekarno, Soeharto, Habibie Hingga Jokowi, Inilah 12 Keistimewaan Orang Lahir di Bulan Juni
Usia muda
Soeharto lahir di Kemusuk, Bantul, Yogyakarta pada 8 Juni 1921.
Ia merupakan putra dari pasangan Kertosoediro dan Soekirah yang telah bercerai sejak Soeharto masih kecil.
Soeharto kecil kerap berpindah tempat tinggal, mulai dari seputaran Yogyakarta hingga Wonogiri.
Ia juga sempat diasuh oleh beberapa sanak keluarga hingga teman orangtuanya, termasuk Prawirowihardjo yang merupakan pamannya yang tinggal di Wuryantoro, Wonogiri.
Soeharto diketahui bersekolah di SMP Muhammadiyah di Yogyakarta.
Setelah lulus, ia diterima sebagai karyawan sebuah Bank Desa di Wuryantoro.
Soeharto kemudian mendaftarkan diri dan diterima menjadi Koninklijk Nederlands Indisce Leger (KNIL) yang merupakan tentara kerajaan Belanda.
Waktu itu, ia hanya sempat bertugas tujuh hari dengan pangkat sersan karena Belanda menyerah kepada Jepang.
Selepas KNIL, Soeharto diterima sebagai siswa di sekolah militer di Gombong, Jawa Tengah pada 1 Juni 1940.
Setelah enam bulan menjalani latihan dasar, ia terpilih menjadi prajurit teladan serta resmi menjadi anggota TNI pada 5 Oktober 1945.
Soeharto bersama keluarga
Soeharto menikah dengan Raden Ayu Siti Hartinah yang kemudian dikenal dengan Tien Soeharto pada 26 Desember 1947 di Solo.
Tien merupakan anak dari KRMT Soemoharyomo, seorang wedana di Solo.
Kala itu, Soeharto berusia 26 tahun, sedangkan Tien berusia 24 tahun.
Pasangan ini dikarunia enam putra-putri, yaitu Siti Hardiyanti Hastuti (Tutut), Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Harijadi (Titiek), Hutomo Mandala Putra (Tommy), dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek).
Soeharto jadi pemimpin militer
Sebelum menjadi presiden, Soeharto adalah pemimpin militer pada masa pendudukan Jepang dan Belanda, dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal.
Pada 1 Maret 1949, ia ikut serta dalam serangan umum yang berhasil menduduki Kota Yogyakarta selama enam jam.
Inisiatif itu muncul atas saran Sri Sultan Hamengkubuwono IX kepada Panglima Besar Soedirman bahwa Brigade X pimpinan Soeharto segera melakukan serangan umum di Yogyakarta dan menduduki kota itu selama enam jam untuk membuktikan bahwa Republik Indonesia masih ada.
Setelah Gerakan 30 September 1965, Soeharto kemudian melakukan operasi penertiban dan pengamanan atas perintah dari Presiden Soekarno.
Salah satu yang dilakukannya adalah dengan menumpas Gerakan 30 September dan menyatakan bahwa PKI sebagai organisasi terlarang.
Berbagai kontroversi menyebut operasi ini menewaskan sekitar 100.000 hingga 2 juta jiwa dan peristiwa itu juga masih menjadi pro-kontra hingga kini.
Presiden RI ke-2
Soeharto diberi mandat oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) untuk menjabat sebagai presiden pada 26 Maret 1968 menggantikan Soekarno.
Ia dipilih kembali oleh MPR pada tahun 1973, 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998.
Pada tahun 1998, masa jabatannya berakhir setelah mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei menyusul terjadinya kerusuhan Mei 1998 dan pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa.
Orang terlama yang menjabat sebagai presiden Indonesia itu kemudian digantikan oleh B.J. Habibie.
Selama 32 tahun pemerintahannya, Soeharto meletakkan pondasi pembangunan di Indonesia melalui Repelita atau Rencana Pembangunan Lima Tahun
Dalam masa kekuasaannya, yang disebut Orde Baru, ia membangun negara yang stabil dan mencapai kemajuan ekonomi dan infrastruktur hingga mendapatkan julukan sebagai Bapak Pembangunan Indonesia.
Meski begitu, dengan berbagai kontroversi yang terjadi ia sering juga disebut sebagai otoriter bagi yang berseberangan dengannya.
Kontroversinya yang lain termasuk membatasi kebebasan warga negara Indonesia keturunan Tionghoa, menduduki Timor Timur, pemaksaan azas tunggal Pancasila di berbagai bidang dan disebut sebagai salah satu rezim paling korup dalam sejarah dunia modern.
(Tribunstyle/ Amr)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/transformasi-soeharto.jpg)