Pengganti UN Diresmikan, Mendikbud Jelaskan 3 Bagian dari Asesmen Nasional 2021
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menjelaskan tiga bagian dalam Asesmen Nasional 2021, pengganti Ujian Nasional
Penulis: Nafis Abdulhakim
Editor: Ika Putri Bramasti
TRIBUNSTYLE.COM - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim menjelaskan tentang aspek-aspek dalam Asesmen Nasional 2021 yang sudah diresmikan.
Peresmian Asesmen Nasional 2021 ini merupakan bagian dari kebijakan Merdeka Belajar.
Kebijakan ini pun didukung penuh oleh Presiden Joko Widodo, sebagaimana dilansir dari Kompas.com, Kamis (8/10/2020).
Penggantian Ujian Nasional ini adalah untuk mendorong perbaikan mutu dan hasil belajar peserta didik.
Menurut Nadiem, perubahan mendasar pada Asesmen Nasional adalah tidak lagi mengevaluasi capaian peserta didik secara individu, akan tetapi mengevaluasi dan memetakan sistem pendidikan berupa input, proses, dan hasil.
"Potret layanan dan kinerja setiap sekolah dari hasil Asesmen Nasional ini kemudian menjadi cermin untuk kita bersama-sama melakukan refleksi mempercepat perbaikan mutu pendidikan Indonesia," ucap Mendikbud saat Webinar Koordinasi Asesmen Nasional di Jakarta seperti dikutip dari laman Kemendikbud, Rabu (7/10/2020).
Baca juga: KABAR GEMBIRA, Mendikbud Nadiem Makarim Izinkan Dana BOS Dipakai Beli Kuota Internet Guru & Siswa
Baca juga: Pantas Diperistri Nadiem Makarim, Ini Sosok Franka Franklin, Wanita Cantik & Punya Profesi Mentereng
Nadiem menjelaskan tentang aspek-aspek yang ada pada Asesmen Nasional 2021 ini.
Asesmen Nasional ini melakukan pemetaan mutu pendidikan pada seluruh sekolah, madrasah, dan program kesetaraan jenjang sekolah dasar dan menengah.
Asesmen Nasional terdiri dari tiga bagian, yakni:
1. Asesmen Kompetensi Minimum (AKM)
AKM ini berguna untuk mengukur capaian peserta didik atau siswa dari hasil belajar kognitif yaitu literasi dan numerasi.
Kedua aspek kompetensi minimum ini, menjadi syarat bagi peserta didik untuk berkontribusi di dalam masyarakat.
Terlepas dari bidang kerja dan karier yang ingin mereka tekuni di masa depan.
"Fokus pada kemampuan literasi dan numerasi tidak kemudian mengecilkan arti penting mata pelajaran," jelas Nadiem.
"Karena justru membantu murid mempelajari bidang ilmu lain terutama untuk berpikir dan mencerna informasi dalam bentuk tertulis dan dalam bantuk angka atau secara kuantitatif," lanjutnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/mendikbud-nadiem-makarim.jpg)