Donald Trump Akan Melabeli Kelompok Antifa Sebagai Teroris, Apa Itu Kelompok Antifa?
Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa ia akan memasukkan kelompok Antifa atau anti-fasis sebagai teroris.
Penulis: Anggie Irfansyah
Editor: Dhimas Yanuar
TRIBUNSTYLE.COM - Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa ia akan memasukkan kelompok Antifa atau anti-fasis sebagai teroris.
Pernyataan Donald Trump tersebut terjadi setelah AS dihantam demonstrasi besar-besaran di 30 kota, buntut kematian sorang pria kulit hitam George Floyd.
Dilansir dari Al-Jazeera, Gedung putih menyebut kelompol antifa sebagai penghasut karena memimpin protes di sejumlah tempat.
• Potret Kerusuhan di Amerika Serikat, Buntut Demonstrasi Kematian George Floyd, Kantor Polisi Dibakar
• Picu Kerusuhan, Kematian George Floyd Diinjak Polisi Jadi Sorotan Dunia, Agnez Mo: Hati Saya Terluka
"Amerika Serikat akan memasukkan Antifa sebagai organisasi teroris," ujar presiden berusia 73 tahun itu dalam kicauannya di Twitter.
Rencana Trump akan memasukkan kelompok antifa sebagai teroris itu menimbulkan tanda tanya yang besar, katena antifa bukanlah organisasi yang tertruktur.
Selain itu, antifa juga merupakan aksi masssa yang muncul tanpa adanya organisasi terstruktur dan hierarki organisasi.
- Apa itu antifa?
Dilansir dari New York Times, istilah antifa pertama kali digunakan pertama kali pada 1946.
Kata tersebut diambil frasa Jerman yang menandakan oposisi terhadap nazisme.
Kelompok ini tidak memiliki struktur organisasi dan markas, meskipun beberapa diantaranya kerap melaksanakan rapat rutin di negara-negara bagian AS.
Salah satu kelompok pertama di AS yang menggunakan nama itu adalah Rose City Antifa yang didirikan pada 2007 di Portland, Oregon.
Kelompok tersebut memiliki banyak pengikut di media sosial dan sering membagikan artikel berita berisi identitas serta informasi pribadi tokoh kanan.
Sejak Presiden Donald Trump terpilih menjadi presiden AS pada 2006, banyak orang yang mulai bergabung dengan gerakan itu di AS.
- Tujuan
Antifa umumnya bertujuan untuk menghentikan apa yang mereka lihat sebagai kelompok fasis, rasial dan sayap kanan.
Mereka menganggap bahwa ide-ide tersebut mengarah pada penargetan kaum marginal, termasuk ras minoritas, perempuan, dan anggota komunitas LGBTQ.
"Argumennya adalah bahwa militan anti-fasisme secara inheren membela diri mereka karena kekerasan yang didokumentasikan secara historis yang diajukan oleh kaum fasis," kata Mark Bray, seorang dosen sejarah di Dartmouth College dan penulis Antifa: The Anti-Fascist Handbook.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/george-floyd-update-baru.jpg)