Tata Cara Sholat Dhuha Lengkap dengan Bacaan Niat, Doa-doa dan Keutamaannya
Isi bulan suci Ramadhan dengan ibadah, berikut ini tata cara sholat dhuha lengkap dengan waktu pelaksanaan, doa dan keutamaannya.
Penulis: Amirul Muttaqin
Editor: Triroessita Intan Pertiwi
TRIBUNSTYLE.COM - Tata cara sholat dhuha lengkap dengan waktu pelaksanaan, doa-doa dan keutamaannya.
Bulan suci Ramadhan 2020 menjadi waktu yang tepat untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Ditambah lagi situasi yang sedang tidak jelas karena pandemi Covid-19 menjadi dorongan untuk lebih lagi dalam beribadah.
Daripada bermalas-malasan dan tidur, ada baiknya jika bulan Ramadhan 1441 H diisi dengan amalan-amalan baik.
Satu diantaranya adalah amalan sholat dhuha yang bisa dilaksanakan setiap harinya.
Sholat dhuha merupakan salah satu sholat sunnah yang memiliki banyak keutamaan.
Beberapa diantaranya sebagai amalan penghapus dosa, sebagai wasiat Rasulullah saw, pengganti dzikir, mendapat pahala dan berbagai keutamaan lainnya.
Dikutip dari TribunSumsel.com dan WartaKotaLive.com, berikut ini segala sesuatu terkait sholat dhuha selengkapnya, mulai dari tata cara hingga keutamaan.
1. Tata cara
Waktu untuk melaksanakan sholat dhuha adalah 20 menit setelah matahari terbit hingga 15 menit sebelum masuk waktu Dzuhur.
Para ulama sepakat mengenai jumlah rakaat minimal sholat dhuha, yakni dua rakaat.
Pertama, jumlah rakaat maksimal adalah delapan rakaat. Pendapat ini dipilih oleh Madzhab Maliki, Syafi’i, dan Hambali.
Dalil yang digunakan madzhab ini adalah hadis Umi Hani’ radhiallaahu ‘anha, bahwasanya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memasuki rumahnya ketika fathu Mekah dan Beliau sholat delapan rakaat. (HR. Bukhari, no.1176 dan Muslim, no.719).
Kedua, rakaat maksimal adalah 12 rakaat. Ini merupakan pendapat Madzhab Hanafi, salah satu riwayat dari Imam Ahmad, dan pendapat lemah dalam Madzhab Syafi’i. Pendapat ini berdalil dengan hadis Anas radhiallahu’anhu
من صلى الضحى ثنتي عشرة ركعة بنى الله له قصرا من ذهب في الجنة
“Barangsiapa yang sholat dhuha 12 rakaat, Allah buatkan baginya satu istana di surga.” Namun hadis ini termasuk hadis dhaif. Hadis ini diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibn Majah, dan Al-Mundziri dalam Targhib wat Tarhib. Tirmidzi mengatakan, “Hadis ini gharib (asing), tidak kami ketahui kecuali dari jalur ini.” Hadis ini didhaifkan sejumlah ahli hadis, diantaranya Al-Hafidz Ibn Hajar Al-Asqalani dalam At-Talkhis Al-Khabir (2: 20), dan Syaikh Al-Albani dalam Al-Misykah (1: 293).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/doa.jpg)