Mengenal Arief Budiman, Sosok Aktivis Kakak Soe Hok Gie dan Pencetus Kata Golput
Kakak kandung Soe Hok Gie, Arief Budiman (Soe Hok Djin) meninggal dunia pada Kamis (23/4/2020). Simak profil singkatnya berikut ini.
Penulis: Gigih Panggayuh Utomo
Editor: Dhimas Yanuar
TRIBUNSTYLE.COM - Sosiolog dan kakak kandung Soe Hok Gie, Arief Budiman meninggal dunia pada Kamis (23/4/2020).
Arief Budiman dikabarkan meninggal di Rumah Sakit Ken Saras, Kabupaten Semarang, sekitar pukul 12.20 WIB.
Penyebab meninggalnya adalah komplikasi dan parkinson yang telah lama dideritanya.
Sebelum meninggal, Arief sempat menjalani perawatan sejak Sabtu (11/4/2020).
Jenazah telah dimakamkan di Pemakaman Bancaan, Salatiga.
Bersama dengan adiknya, Soe Hok Gie, Arief Budiman dikenal sebagai aktivis demonstran angkatan 1966.
• Sosok Ravio Patra & 5 Fakta Penangkapannya Terkait Kasus Dugaan Penyebaran Berita Onar & Hasutan
• 5 Fakta Juru Bicara Jokowi Fadjroel Rachman, Mantan Aktivis 1998 dan Sempat Jadi Kandidat Capres
Berikut ini profil Arief Budiman yang dihimpun dari berbagai sumber.
1. Lahir dengan Nama Soe Hok Djin
Arief Budiman lahir di Jakarta, 3 januari 1941 dengan nama Soe Hok Djin.
Ayahnya adalah seorang penulis peranakan Tionghoa, Soe Lie Piet, atau dikenal pula dengan nama Salam Sutrawan.
Lahir dari seorang sastrawan, Arief juga banyak terlibat dalam bidang budaya di Indonesia.
2. Mahasiswa yang Kritis
Ketika masih menjadi mahasiswa di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), Arief dikenal sebagai sosok aktivis yang kritis.
Sejak itu, dirinya telah terjun dalam kancah politik Indonesia.
Ia juga turut andil dalam peristiwa sejarah sastra di Indonesia, yakni turut menandatangani Manifesto Kebudayaan (Manikebu) pada tahun 1963.
Manikebu pada saat itu menentang aktivitas Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang dianggap memasung kreativitas kaum seniman.
3. Keterlibatan di Dunia Seni, Sastra, dan Budaya
Arief Budiman sempat menjadi redaktur majalah Horison (1966-1972).
Sebagai informasi, Horison adalah majalah khusus yang membahas seni dan sastra di Indonesia.
Majalah ini pertama kali diterbitkan pada Juli 1966 di Jakarta.
Pendirinya antara lain adalah Arief Budiman sendiri, bersama Mochtar Lubis, P.K. Ojong, Zaini, dan Taufiq Ismail.
Arief juga dianggap sebagai tokoh dalam perdebatan Sastra Kontekstual sejak Sarasehan Kesenian di Solo (Oktober 1984).
4. Pencetus Istilah Golput
Kendati ikut melahirkan Orde Baru, Arief bersikap sangat kritis terhadap politik pemerintahan di bawah Soeharto.
Pada pemilu 1973, Arief bersama kawan-kawan aktivisnya mencetuskan istilah Golongan Putih (Golput).
Hal itu adalah bentuk tandingan terhadap Golkar yang dianggap membelokkan cita-cita awal Orde Baru, yakni menciptakan pemerintahan demokratis.
Ia juga pernah ditahan karena terlibat dalam demonstrasi menentang pendirian taman Miniatur Indonesia Indah (TMII) pada 1972.
5. Dipecat dari UKSW, Hengkang ke Australia
Setelah menyelesaikan studi di Fakultas Psikologi UI, Arief kuliah lagi di Paris tahun 1972.
Pada tahun 1980, ia meraih Ph.D. dalam bidang sosiologi dari Universitas Harvard, AS.
Kembali ke Indonesia, ia mengajar di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga.
Namun, dirinya dipecat karena insiden mogok mengajar sebagai bentuk protes terhadap kemelut pemilihan rektor yang dianggap tidak adil.
Akhirnya, Arief hengkang ke Australia dan menerima tawaran menjadi profesor di Universitas Melbourne.
Lantas, Arief tinggal bersama istrinya, Leila Chairani Budiman, di Australia.
Leila Chairani merupakan pengasuh rubrik psikologi Kompas Minggu selama bertahun-tahun.
(TribunStyle.com/Gigih Panggayuh)
• BREAKING NEWS Sosiolog Arief Budiman Meninggal Dunia, Ini Kronologi Riwayat Sakit Sebelum Wafat
• Awal Ramadhan 1441 H Jatuh pada Jumat 24 April 2020, Simak Panduan Puasa di Tengah Pandemi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/arief-budiman-alias-soe-hok-djin-kakak-soe-hok-gie.jpg)