Mengenal Arief Budiman, Sosok Aktivis Kakak Soe Hok Gie dan Pencetus Kata Golput
Kakak kandung Soe Hok Gie, Arief Budiman (Soe Hok Djin) meninggal dunia pada Kamis (23/4/2020). Simak profil singkatnya berikut ini.
Penulis: Gigih Panggayuh Utomo
Editor: Dhimas Yanuar
Manikebu pada saat itu menentang aktivitas Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang dianggap memasung kreativitas kaum seniman.
3. Keterlibatan di Dunia Seni, Sastra, dan Budaya
Arief Budiman sempat menjadi redaktur majalah Horison (1966-1972).
Sebagai informasi, Horison adalah majalah khusus yang membahas seni dan sastra di Indonesia.
Majalah ini pertama kali diterbitkan pada Juli 1966 di Jakarta.
Pendirinya antara lain adalah Arief Budiman sendiri, bersama Mochtar Lubis, P.K. Ojong, Zaini, dan Taufiq Ismail.
Arief juga dianggap sebagai tokoh dalam perdebatan Sastra Kontekstual sejak Sarasehan Kesenian di Solo (Oktober 1984).
4. Pencetus Istilah Golput
Kendati ikut melahirkan Orde Baru, Arief bersikap sangat kritis terhadap politik pemerintahan di bawah Soeharto.
Pada pemilu 1973, Arief bersama kawan-kawan aktivisnya mencetuskan istilah Golongan Putih (Golput).
Hal itu adalah bentuk tandingan terhadap Golkar yang dianggap membelokkan cita-cita awal Orde Baru, yakni menciptakan pemerintahan demokratis.
Ia juga pernah ditahan karena terlibat dalam demonstrasi menentang pendirian taman Miniatur Indonesia Indah (TMII) pada 1972.
5. Dipecat dari UKSW, Hengkang ke Australia
Setelah menyelesaikan studi di Fakultas Psikologi UI, Arief kuliah lagi di Paris tahun 1972.
Pada tahun 1980, ia meraih Ph.D. dalam bidang sosiologi dari Universitas Harvard, AS.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/arief-budiman-alias-soe-hok-djin-kakak-soe-hok-gie.jpg)