Virus Corona
UPDATE Corona Dunia - 660.000 Terinfeksi, 140.000 Sembuh, Amerika Terbanyak, Italia 10.000 Tewas
Simak update terbaru virus corona dunia - Tembus 660.000 kasus terinfeksi, 140.000 sembuh, Amerika terbanyak dunia, Italia tembus 10.000 tewas.
Penulis: Dhimas Yanuar Nur Rochmat
Editor: Suli Hanna
TRIBUNSTYLE.COM - Simak update terbaru virus corona dunia - Tembus 660.000 kasus terinfeksi, 140.000 sembuh, Amerika terbanyak dunia, Italia tembus 10.000 tewas.
Virus corona makin menembus batas dan menekan berbagai sisi kehidupan manusia di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia.
Dilansir dari Worldometer pada Minggu (29/3/2020) pagi, jumlah terinfeksi virus corona di dunia berjumlah 662,967 kasus terinfeksi.
Jumlah total tersebut termasuk 141,953 jiwa berhasil sembuh dari virus corona, namun dengan catatan 30,851 tewas karena virus.
Tak hanya itu dari tanggal (28/3/2020) Worldometer mencatatkan bahwa virus corona di Amerika Serikat memiliki jumlah tertinggi yaitu 123,428.
Dengan total korban meninggal berjumlah 2,211, dilansir dari NYPost, hampir separuh terinfeksi Amerika Serikat berada di Kota New York.
Pada seminggu terakhir juga dilaporkan bahwa jumlah korban tertinggi berada di Italia.
Dilaporkan bahwa hingga kini jumlah kematian di negara Pizza itu mencapai 10.000 jiwa lebih, dengan jumlah terinfeksi 92,472 jiwa.
• Doni Monardo Beberkan 3 Bagian Tubuh yang Mudah Disusupi Corona, Kuncinya Ada di Tangan & Wajah
• POPULER Ahli Ungkap Potensi 130 Juta Penduduk Indonesia Kena Corona sebelum Lebaran jika Abaikan Ini
Berikut daftar 10 negara dengan infeksi virus corona terbesar di dunia:
- Amerika Serikat: 123,428 terinfeksi, 2,211 meninggal, 3,231 sembuh
- Italia 92,472 terinfeksi 10,023 meninggal, 12,384 sembuh
- China 81,439 terinfekis 3,300 meninggal, 75,448 sembuh
- Spanyol 73,235 terinfeksi, 5,982 meninggal, 12,285 sembuh
- Jerman 57,695 terinfeksi, 433 meninggal, 8,481 sembuh
- Prancis 37,575 terinfekis, 2,314 meninggal, 5,700 sembuh
- Iran 35,408 terinfeksi, 2,517 meninggal 11,679 sembuh
- UK 17,089 terinfeksi, 1,019 meninggal, 135 sembuh
- Swiss 14,076 terinfeksi, 264 meninggal, 1,530 sembuh
- Belanda 9,762 terinfeksi, 639 meninggal, 3 sembuh
Hadi Susanto, Ahli matematika terapan, sebut 130 juta penduduk Indonesia bisa terinfeksi virus corona sebelum lebaran jika tak lakukan imbauan
Beredar wacana mudik Lebaran 2020 kemungkinan dilarang demi mencegah penularan wabah virus corona atau Covid-19, benarkah?
Terlepas dari itu, ada risiko baru 130 juta penduduk Indonesia berisiko kena virus corona sebelum masa mudik Lebaran 2020. Mengapa?
Seorang ahli menuturkan, hal itu tak akan terjadi atau bisa dicegah dengan dua langkah, yakni seruan physical distancing (menjaga jarak fisik) dan lockdown diterapkan.
Mengapa? Simak alasannya berikut ini ...
Hadi Susanto, Ahli matematika terapan sebut 130 juta penduduk Indonesia bisa terinfeksi virus corona sebelum Idul Fitri / Lebaran jika tak lakukan himbauan physical distancing & pemerintah tak terapkan lockdown.
Jumlah terinfeksi virus corona di Indonesia hingga kini telah mencapai angka 1046 orang, dengan jumlah kasus meninggal 87 jiwa.
Berbagi kabar tentang virus corona di Indonesia menyebutkan bahwa negara ini masih kesulitan menangani virus corona.
Namun beruntung bagi Indonesia banyak negara yang mau membantu dengan berbagai bantuan medis seperti APD dan Test Kit dari China dan Korea Selatan.
• VIRAL Cara Dokter Agar Virus Corona Pasien Tak Menular ke Anak Istri, Triknya Mudah Tapi Harus Rela
• Dinyatakan Sembuh, Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana Sebut Perjuangan Melawan Corona Sangat Berat
Dilansir dari Kompas.id pada (27/3/2020), prediksi dan sejumlah model matematis pun menunjukkan peluang meledaknya pandemi Covid-19 di Indonesia.
Bahkan virus corona di Indonesia bisa tak terkendali jika langkah strategis dan drastis tidak segera diambil pemerintah untuk memperlambat penyebaran virus corona.
Berdasarkan model yang dijalankan pakar matematika terapan University of Essex Inggris dan Khalifa University of Science and Technology Uni Arab Emirat, Hadi Susanto, penyebaran Covid-19 sungguh masif sehingga diperkirakan 50 persen total populasi Indonesia sudah akan terinfeksi wabah Covid-19 sebelum Idul Fitri pada pertengahan Mei 2020.
• Dinyatakan Sembuh, Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana Sebut Perjuangan Melawan Corona Sangat Berat
• Bantu Lawan Corona, Najwa Shihab Rela Lelang 4 Sneakers Favorit, Total Harga Tembus Puluhan Juta
Dalam kalkulasinya, Hadi menggunakan model matematis susceptible, exposed, infectious, recovered (SEIR) dan angka tingkat reproduksi atau R0 dari Covid-19 sebesar 3.
Angka reproduksi atau tingkat penularan wabah disebut sebagai angka R0.
Apabila R0 dari sebuah penyakit adalah 3, berarti 1 orang yang terinfeksi dapat menularkan ke 3 orang sehat.
R0 dari Covid-19 dipercaya oleh berbagai peneliti memiliki besaran 2-3.
Artinya, satu orang positif Covid-19 dapat menularkan kepada 2-3 orang lainnya.
”Saat ini, kerumunan sudah mulai berkurang, tetapi saya lihat belum signifikan sehingga perhitungan saya masih saya pegang bahwa 50 persen populasi Indonesia berpeluang besar terinfeksi Covid-19 sebelum Idul Fitri,” ujar Hadi dari Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, kepada Kompas, Jumat (27/3/2020).
Prediksi Hadi tersebut dapat terjadi dengan dua butir asumsi.
Pertama, masyarakat tidak mengubah perilakunya untuk segera melakukan pembatasan fisik (physical distancing).
Kedua, tidak ada pembatasan akses wilayah atau lockdown yang belum diterapkan pemerintah.
”Dengan asumsi itu, puncak (penyebaran Covid-19) terjadi di sekitar awal Ramadhan,” kata Hadi.
Bulan puasa Ramadhan diperkirakan akan berlangsung mulai 23 April hingga 23 Mei 2020.
Bahkan, menurut Hadi, jika wilayah Jakarta yang kini menjadi episentrum pandemi tetap bisa dimasuki secara bebas, sangat mungkin jumlah orang yang terinfeksi mencapai 80 persen.
Untuk itu, menurut Hadi, akses keluar-masuk kota perlu mendapat perhatian lebih.
Apabila akses dibatasi atau dengan cara karantina wilayah, transmisi virus corona antarwilayah di Indonesia akan lebih terminimalisasi.
Ini perlu dilakukan agar tidak menambah jumlah populasi yang berpeluang terinfeksi.
”Idealnya seperti itu,” ujar Hadi.
• Kabar Baik di Tengah Pandemi Corona, Singapura Ciptakan Alat Uji COVID-19 Tercepat, Cukup 5 Menit
• POPULER Viral Curhat Pilu Pasien Corona Sebelum Meninggal, Utarakan Kesedihan pada Jokowi dan Menkes
Tidak bisa disamakan seperti di Korea atau China
Pakar epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Syahrizal Syarif, mengatakan, kondisi Indonesia saat ini terlalu kompleks untuk hanya berdiskusi pilihan antara karantina wilayah atau tidak.
Dengan jumlah populasi dan wilayah geografis yang jauh lebih besar, Indonesia tidak bisa serta-merta mengambil model kebijakan yang dilakukan oleh Korea Selatan.
Korea Selatan dikenal sebagai negara yang berhasil mengatasi wabah Covid-19 tanpa memberlakukan karantina wilayah atau lockdown.
Opsi lockdown juga tidak bisa serta-merta mengadopsi yang dilakukan di Wuhan, China.
Syahrizal mengatakan, Indonesia tidak memiliki sumber daya dan kemampuan untuk mengerahkan ribuan tenaga medis khusus untuk wilayah yang dikarantina seperti yang dilakukan Pemerintah China.
Pada awal Februari lalu, Pemerintah China menurunkan 1.400 dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya ke Wuhan.
Seharusnya, menurut Syahrizal, Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 bisa merancang kebijakan yang unik, yang sesuai dengan karakteristik Indonesia.
”Pendekatannya itu tidak bisa sama dengan Korsel misalnya. Harus unik dan sesuai dengan kondisi kita,” kata Syahrizal.
• POPULER Bukan Avigan & Klorokuin, Obat Ini Digadang-gadang Manjur Lawan Corona, Kesembuhan 90 Persen
• POPULER 500.000 Orang Corona, Jumlah di Amerika Serikat Lampaui China, di Spanyol & Italia Terbanyak
Sebagian artikel ini telah tayang di Bebas.kompas.id oleh Sario PangarsoWisanggeni dengan judul "Tanpa Tindakan Drastis, Separuh Penduduk Indonesia Berpotensi Terinfeksi Covid-19 Sebelum Lebaran"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/jumlah-pengidap-virus-corona-sudah-melebihi-sars-ilmuwan-beberkan-2-penyebab-utama-mewabahnya-virus.jpg)