Peringati Hari Puisi Sedunia, Berikut Ini 8 Puisi Cinta Pilihan dari Penyair Legendaris Indonesia
Menyambut Hari Puisi Sedunia, kami telah menyiapkan 8 puisi cinta pilihan dari para penyair legendaris Tanah Air.
Penulis: Amirul Muttaqin
Editor: Melia Istighfaroh
TRIBUNSTYLE.COM - Hari ini, Kamis, 21 Maret 2019 merupakan Hari Puisi Sedunia.
Perayaan Hari Puisi Sedunia ditetapkan dalam pertemuan UNESCO ke-30 di Paris, Perancis yang berlangsung Oktober-November 1999.
UNESCO menetapkan Hari Puisi Sedunia yang jatuh pada 21 Maret untuk mengakui kemampuan unik puisi dalam menangkap perasaan dan semangat kreatif dari pikiran manusia.
• Ini Sosok yang Kerap Membiayai Syahrini Naik Jet Pribadi, Hotman Paris Bongkar Bukti Valid
• Ramalan Zodiak Cinta Hari Ini Kamis 21 Maret 2019: Gemini Dapat Kejutan, Virgo Protektif Abis
• Ramalan Zodiak Kesehatan Besok Jumat 22 Maret 2019: Aries Stres, Gemini Berdiet, Leo Rawan Cidera
Salah satu tujuan utama Hari Puisi Sedunia adalah untuk mendukung keragaman linguistik melalui ekspresi puitis dan untuk menawarkan bahasa yang terancam punah kesempatan untuk didengar dalam komunitas mereka.
Peringatan Hari Puisi Sedunia juga dimaksudkan untuk mendorong kembalinya tradisi lisan resital puisi, untuk mempromosikan pengajaran puisi, untuk mengembalikan dialog antara puisi dan seni lainnya seperti teater, tari, musik dan lukisan.
Selain itu Hari Puisi Seduniai juga dimaksudkan untuk mendukung penerbit kecil dan menciptakan citra puisi yang menarik di media.
Harapannya adalah seni puisi tidak lagi dianggap sebagai bentuk seni yang ketinggalan zaman, tetapi yang memungkinkan masyarakat secara keseluruhan untuk mendapatkan kembali dan menegaskan identitasnya.
Menyambut Hari Puisi Sedunia, kami telah menyiapkan 8 puisi cinta pilihan dari para penyair legendaris Tanah Air.
Selamat menikmati.
Aku ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
(Sapardi Djoko Damono, 1989)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/sapardi-djoko-damono.jpg)